Sekarang Bisa Bayar Pakai USDC di Mana Saja? Visa Bawa Stablecoin ke 200 Juta Toko
2026-07-17
Visa memperkenalkan platform baru yang membantu bank dan fintech mengelola stablecoin dalam infrastruktur pembayaran mereka.
Jaringan Visa memang mencakup hingga sekitar 200 juta merchant, tetapi hal ini tidak berarti setiap toko sudah menerima transfer USDC langsung dari wallet kripto.
Key Takeaways
- Visa Stablecoin Platform ditujukan bagi bank, fintech, penyedia pembayaran, dan perusahaan kripto, bukan aplikasi pembayaran konsumen biasa.
- Pengguna dapat membelanjakan saldo stablecoin melalui kartu Visa yang kompatibel, tetapi merchant umumnya tetap menerima transaksi melalui jalur Visa, bukan transfer USDC langsung.
- Platform baru Visa dimulai dengan Open USD atau OUSD, sedangkan USDC telah digunakan dalam layanan settlement dan kartu stablecoin yang lebih dahulu berjalan.
Apa Itu Stablecoin Visa dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Istilah “stablecoin Visa” bukan berarti Visa menerbitkan satu mata uang kripto bernama Visa Coin.
Istilah tersebut lebih tepat merujuk pada berbagai layanan Visa yang menghubungkan stablecoin dengan kartu, pembayaran, treasury, pengiriman uang, dan settlement antar perusahaan.
Pada 16 Juli 2026, Visa mengumumkan Visa Stablecoin Platform atau VSP. Platform ini menyediakan satu lingkungan yang dikelola Visa agar lembaga keuangan, fintech, penyedia pembayaran, dan perusahaan kripto dapat menyimpan, memindahkan, menebus, mencetak, serta membakar stablecoin dalam aktivitas operasional mereka.

Sumber: AI Generated Image
VSP juga menyediakan infrastruktur wallet melalui layanan Wallet-as-a-Service. Perusahaan dapat menggunakan wallet yang dikelola dalam sistem Visa atau menghubungkan wallet yang sudah mereka miliki.
Beberapa kemampuan utama platform tersebut meliputi:
- Menyimpan dan memindahkan stablecoin.
- Mencetak dan menebus stablecoin yang didukung.
- Menghubungkan wallet on-chain dengan sistem perusahaan.
- Mengintegrasikan stablecoin ke dalam treasury dan settlement.
- Mengatur daftar alamat yang diizinkan menerima transfer.
- Menerapkan persetujuan ganda untuk tindakan sensitif.
- Menyediakan catatan audit aktivitas.
- Menghubungkan aliran stablecoin dengan layanan Visa yang sudah ada.
Sistem ini menyembunyikan sebagian kerumitan blockchain dari pengguna institusional. Bank atau fintech tidak harus membangun seluruh infrastruktur wallet, kontrol akses, pencatatan transaksi, dan konektivitas blockchain dari awal.
Baca juga : Rekor! Visa Ambil 90% On-Chain Card Payments, Crypto Spending Meledak
Visa Stablecoin 200 Juta Merchant: Apa Maksudnya?
Klaim bahwa Visa membawa stablecoin ke 200 juta merchant perlu dibaca secara tepat. Angka tersebut menggambarkan skala jaringan pembayaran yang dapat dijangkau melalui integrasi Visa, bukan jumlah toko yang langsung menyediakan alamat wallet untuk menerima USDC.
Jaringan Visa menghubungkan sekitar 15.000 lembaga keuangan dengan lebih dari 200 juta merchant berdasarkan cakupan yang digunakan dalam pengumuman platform tersebut.
Sementara itu, publikasi resmi Visa mengenai kartu stablecoin menyebut lebih dari 175 juta lokasi merchant yang menerima Visa secara global. Perbedaan angka dapat muncul akibat metode penghitungan merchant, lokasi penerimaan, dan saluran perdagangan yang digunakan.
Dalam praktiknya, merchant tidak perlu mengetahui bahwa sumber dana pembeli berasal dari stablecoin. Selama pengguna memiliki kartu stablecoin yang kompatibel, transaksi dapat berjalan seperti pembayaran kartu biasa.
Alurnya kurang lebih seperti berikut:
- Pengguna menyimpan USDC atau stablecoin lain pada aplikasi yang menyediakan kartu Visa.
- Pengguna menempelkan, menggesek, atau memasukkan informasi kartunya saat membayar.
- Penyedia kartu memeriksa saldo stablecoin pengguna.
- Nilai stablecoin dikonversi atau digunakan untuk mendukung transaksi.
- Jaringan Visa mengirimkan otorisasi kepada bank atau penyedia pembayaran merchant.
- Merchant menerima pembayaran sesuai mata uang dan pengaturan settlement yang berlaku.
Dari sisi kasir, transaksi tetap terlihat sebagai pembayaran Visa. Merchant tidak selalu menerima USDC ke wallet dan tidak harus mengelola private key, gas fee, atau blockchain.
Baca juga : Visa Fokus pada Integrasi Stablecoin ke Sistem Pembayaran: Tren 2026?
Jadi, Apakah Sekarang Bisa Bayar Pakai USDC di Semua Toko?
Belum dalam arti transfer langsung dari wallet USDC ke setiap toko. Pengguna dapat membelanjakan saldo stablecoin di merchant Visa apabila memiliki kartu atau aplikasi yang mendukung konversi dan pembayaran stablecoin.
Visa dan Bridge telah mengembangkan kartu yang memungkinkan pengguna melakukan pembelian dari saldo stablecoin di lokasi yang menerima Visa.
Hingga Maret 2026, program tersebut sudah beroperasi di 18 negara dan direncanakan meluas ke lebih dari 100 negara sebelum akhir tahun.
Beberapa wallet kripto, termasuk MetaMask dan Phantom, juga menggunakan integrasi kartu untuk menyediakan fungsi belanja dari saldo stablecoin.
Namun, kemampuan aktual tetap bergantung pada beberapa hal:
- Negara tempat pengguna tinggal.
- Ketersediaan penerbit kartu.
- Stablecoin yang didukung aplikasi.
- Hasil verifikasi identitas atau KYC.
- Batas transaksi pengguna.
- Kebijakan konversi stablecoin.
- Biaya dan spread yang diterapkan penyedia.
- Regulasi pembayaran kripto setempat.
Karena itu, logo Visa di sebuah toko tidak otomatis menjamin bahwa semua wallet USDC dapat digunakan. Pengguna membutuhkan produk kartu yang menghubungkan saldo wallet dengan jaringan Visa.
Baca juga : Apa Itu Karma Pay? Dompet Solana, Visa Card, dan Token KARMA
Apa Perbedaan Pembayaran Langsung dan Kartu Stablecoin?
Pembayaran stablecoin langsung terjadi ketika pembeli mengirim token dari wallet-nya menuju wallet merchant. Merchant menerima aset digital tersebut tanpa transaksi kartu konvensional.
Model ini menawarkan settlement on-chain, tetapi menuntut kedua pihak memahami penggunaan wallet. Merchant juga harus memilih blockchain, menjaga keamanan akses, mencatat transaksi, serta menentukan apakah token akan disimpan atau dikonversi ke mata uang lokal.
Kartu stablecoin menggunakan pendekatan berbeda. Pengguna membayar melalui jalur Visa, sementara stablecoin berfungsi sebagai sumber dana atau aset settlement di belakang layar.
Pembayaran stablecoin langsung
Ciri utamanya meliputi:
- Merchant harus memiliki wallet.
- Pengirim perlu memilih jaringan yang benar.
- Transaksi tercatat langsung pada blockchain.
- Salah alamat umumnya tidak dapat dibatalkan.
- Biaya bergantung pada blockchain.
- Perlindungan konsumen dapat lebih terbatas.
Pembayaran melalui kartu Visa
Ciri utamanya meliputi:
- Merchant cukup menerima Visa.
- Pengguna memakai kartu fisik atau virtual.
- Konversi dikelola oleh penerbit atau fintech.
- Merchant dapat menerima mata uang lokal.
- Proses otorisasi mengikuti sistem pembayaran kartu.
- Biaya dapat mencakup spread, biaya kartu, dan biaya layanan.
Pendekatan kartu membuat stablecoin lebih mudah digunakan tanpa mengharuskan jutaan merchant mengubah perangkat pembayaran mereka.
Namun, sistem ini tetap melibatkan perantara dan tidak sepenuhnya sama dengan pembayaran peer-to-peer di blockchain.
Baca juga : 10 Stablecoin dengan Volume Terbesar di Dunia
Visa OUSD Stablecoin: Apakah Menggantikan USDC?
Visa Stablecoin Platform memulai layanannya dengan Open USD atau OUSD. Stablecoin tersebut diperkenalkan oleh Open Standard, sebuah inisiatif yang melibatkan lebih dari 140 perusahaan di sektor keuangan, teknologi, pembayaran, dan blockchain. Visa menjadi bagian dari ekosistem tersebut, tetapi bukan penerbit tunggal OUSD.
Melalui VSP, perusahaan dapat memperoleh akses untuk mencetak, membakar, menyimpan, memindahkan, dan menebus Open USD. OUSD dirancang sebagai infrastruktur dolar digital untuk pembayaran serta perpindahan dana global.
Namun, penggunaan OUSD sebagai aset pertama VSP tidak berarti Visa meninggalkan USDC. Keduanya memiliki posisi berbeda:
- OUSD menjadi stablecoin pertama yang terintegrasi dengan kemampuan minting dan redemption pada VSP.
- USDC telah digunakan dalam program settlement Visa dan berbagai produk kartu stablecoin.
- USDG juga telah disebut sebagai bagian dari aset yang digunakan dalam strategi stablecoin Visa yang lebih luas.
Visa telah mengizinkan sejumlah bank di Amerika Serikat menyelesaikan kewajiban VisaNet menggunakan USDC melalui blockchain Solana. Model tersebut menyediakan settlement tujuh hari dalam seminggu tanpa mengubah pengalaman pembayaran konsumen di merchant.
Artinya, OUSD lebih tepat dipandang sebagai tambahan pada ekosistem stablecoin Visa, bukan pengganti otomatis bagi USDC.
Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap token palsu. Jangan membeli aset hanya karena menggunakan nama Open USD atau simbol OUSD. Periksa alamat kontrak, jaringan, penerbit, dan pengumuman resmi ketika stablecoin tersebut benar-benar tersedia.
Baca juga : Pengu Visa Card: Penjelasan Lengkap Kartu Pudgy Penguins untuk Transaksi Crypto
Bagaimana Transaksi Instan Stablecoin Visa Berjalan?
Kata “instan” dalam sistem pembayaran dapat merujuk pada proses yang berbeda. Otorisasi pembayaran di kasir dapat berlangsung dalam hitungan detik, tetapi settlement akhir antara penerbit kartu, Visa, bank merchant, dan pihak lain tidak selalu selesai pada saat yang sama.
Stablecoin dapat mempercepat bagian settlement karena blockchain beroperasi sepanjang waktu, termasuk akhir pekan dan hari libur.
Dalam program USDC Visa, bank peserta memperoleh akses pada pergerakan dana tujuh hari dalam seminggu dan pengelolaan likuiditas yang lebih fleksibel.
Prosesnya dapat dibagi menjadi tiga tahap:
1. Otorisasi
Jaringan memeriksa apakah pembayaran dapat disetujui. Konsumen biasanya melihat hasilnya dalam beberapa detik.
2. Clearing
Informasi transaksi dihitung dan dicocokkan antara pihak yang terlibat.
3. Settlement
Dana aktual dipindahkan untuk memenuhi kewajiban antara penerbit, acquirer, atau penyedia pembayaran.
Stablecoin terutama berpotensi memperbaiki tahap settlement dan perpindahan likuiditas. Teknologi ini tidak selalu menghapus proses pemeriksaan kepatuhan, verifikasi identitas, fraud monitoring, konversi mata uang, atau rekonsiliasi internal.
Dengan demikian, “transaksi instan stablecoin Visa” tidak boleh diartikan bahwa setiap bagian transaksi global selalu selesai seketika tanpa perantara.
Baca juga : Stablecoin BI: Investasi Aman di Crypto Masa Depan
Apakah Visa Menawarkan Biaya Transaksi Lebih Murah?
Stablecoin dapat mengurangi biaya pada situasi tertentu, khususnya settlement lintas negara, perpindahan treasury, dan transaksi yang sebelumnya membutuhkan beberapa bank koresponden.
Perusahaan dapat memindahkan aset digital pada jaringan blockchain selama 24 jam tanpa menunggu jam operasional bank.
Minting dan redemption Open USD untuk perusahaan juga dirancang tanpa biaya dan batas volume dari sistem Open Standard, walaupun biaya dari blockchain, penyedia teknologi, atau layanan lain masih dapat berlaku.
Namun, konsumen tidak boleh menganggap semua pembayaran otomatis bebas biaya. Pengguna kartu stablecoin masih dapat menghadapi:
- Spread konversi stablecoin ke mata uang lokal.
- Biaya penerbitan atau penggunaan kartu.
- Biaya penarikan.
- Gas fee blockchain.
- Biaya pertukaran valuta asing.
- Biaya merchant.
- Margin yang ditetapkan aplikasi atau fintech.
Merchant juga belum tentu menerima penghematan penuh. Besarnya biaya bergantung pada kontrak dengan acquirer, penyedia pembayaran, jenis transaksi, lokasi, dan mata uang settlement.
Manfaat biaya murah kemungkinan paling terlihat di bagian belakang sistem, seperti treasury dan settlement lintas negara. Dampak akhirnya bagi konsumen masih bergantung pada apakah penyedia meneruskan penghematan tersebut melalui biaya yang lebih rendah.
Baca juga : Cara Beli STBL di Bittime — Aset Stablecoin DeFi dengan Imbal Hasil Menarik
Stablecoin Apa Saja yang Didukung Visa?
Visa mengembangkan beberapa jalur stablecoin yang tidak selalu mendukung aset sama.
Open USD atau OUSD
OUSD menjadi aset pertama dalam Visa Stablecoin Platform untuk kemampuan minting, burning, penyimpanan, redemption, dan transfer institusional.
USDC
USDC digunakan dalam program settlement Visa dan kartu stablecoin. Beberapa bank peserta di Amerika Serikat telah memakai USDC pada Solana untuk menyelesaikan kewajiban kepada Visa.
Stablecoin pada kartu mitra
Kartu yang dikembangkan bersama penyedia infrastruktur dapat menggunakan stablecoin yang didukung oleh masing-masing platform. Pilihan aset bergantung pada penerbit, negara, jaringan blockchain, dan regulasi.
Karena cakupan dukungan dapat berubah, pengguna perlu memeriksa stablecoin yang tersedia pada aplikasi mereka. Dukungan Visa pada tingkat institusional tidak otomatis berarti token tersebut dapat langsung dipakai oleh semua pemegang kartu.

Sumber AI Generated Image
Manfaat Visa Memperluas Pembayaran Kripto
Integrasi stablecoin ke jaringan Visa dapat menghasilkan beberapa manfaat praktis.
Akses merchant yang lebih luas
Stablecoin sulit berkembang sebagai alat pembayaran jika hanya dapat digunakan di toko khusus kripto. Kartu Visa menjembatani saldo digital dengan infrastruktur merchant yang sudah tersedia.
Settlement selama tujuh hari
Blockchain dapat memindahkan dana pada akhir pekan dan hari libur. Kemampuan ini membantu perusahaan mengelola likuiditas tanpa sepenuhnya bergantung pada jadwal bank.
Integrasi lebih sederhana bagi bank
Bank dan fintech dapat memakai infrastruktur wallet serta kontrol operasional dari VSP tanpa membangun seluruh sistem blockchain sendiri.
Pembayaran lintas negara
Stablecoin dapat mengurangi tahapan perpindahan uang antarnegara, terutama untuk pembayaran bisnis, remitansi, dan pencairan dana kepada pekerja global.
Pengalaman konsumen tidak berubah
Pengguna tetap dapat membayar dengan kartu atau metode contactless. Kompleksitas blockchain berjalan di belakang sistem.
Rekonsiliasi yang lebih terbuka
Transaksi blockchain menyediakan catatan yang dapat diperiksa dan membantu proses pencocokan transaksi. Namun, perusahaan tetap membutuhkan sistem untuk menghubungkan alamat wallet dengan identitas serta tujuan pembayaran.
Baca juga : Robinhood Harusnya Fokus ke Tokenized Stocks, Bukan Meme Coin
Risiko Menggunakan Stablecoin untuk Pembayaran
Stablecoin dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap mata uang tertentu, tetapi bukan berarti aset ini tanpa risiko.
Risiko depeg
Harga stablecoin dapat bergerak menjauh dari nilai acuannya apabila pasar meragukan cadangan, likuiditas, atau kemampuan redemption.
Risiko penerbit
Pengguna bergantung pada kualitas cadangan, tata kelola, kustodian, audit, dan kepatuhan penerbit stablecoin.
Risiko smart contract
Kesalahan kode, exploit, atau integrasi yang buruk dapat mengakibatkan kehilangan dana.
Risiko pembekuan aset
Stablecoin terpusat dapat memiliki fungsi untuk membekukan alamat tertentu sesuai kebijakan penerbit atau kewajiban hukum.
Risiko kesalahan transfer
Pengiriman ke alamat atau jaringan yang salah dapat sulit dibatalkan.
Risiko regulasi
Produk kartu stablecoin belum tersedia secara merata. Regulasi lokal dapat membatasi penerbitan kartu, penyimpanan aset, atau konversi ke mata uang nasional.
Risiko biaya tersembunyi
Transaksi yang terlihat murah dapat melibatkan spread, biaya layanan, biaya kartu, atau konversi valuta asing.
Integrasi Visa dapat mengurangi beberapa hambatan operasional, tetapi tidak menghapus risiko yang melekat pada stablecoin dan blockchain.
Baca juga : Hyundai Gunakan Blockchain Avalanche, Transfer USDT Selesai 7 Menit
Apakah Visa Stablecoin Akan Menggantikan Kartu Bank?
Dalam waktu dekat, stablecoin lebih mungkin melengkapi kartu daripada menggantikannya. Infrastruktur Visa tetap dibutuhkan untuk menghubungkan konsumen dengan jaringan merchant, menangani otorisasi, mengelola risiko fraud, serta menyediakan pengalaman pembayaran yang sudah dikenal.
Pada awal 2026, penerimaan stablecoin secara langsung oleh merchant dalam skala besar masih terbatas. Permintaan justru banyak muncul dari penyedia kartu yang ingin menghubungkan saldo stablecoin dengan jaringan pembayaran konvensional.
Model masa depan kemungkinan bersifat hibrida:
- Konsumen menyimpan stablecoin pada wallet.
- Kartu atau aplikasi menjadi antarmuka pembayaran.
- Visa mengelola konektivitas merchant dan otorisasi.
- Blockchain menangani sebagian settlement.
- Merchant memilih menerima fiat atau stablecoin.
- Bank tetap menyediakan layanan kepatuhan dan likuiditas.
Bagi konsumen, perubahan terbesar mungkin tidak terlihat. Pengguna tetap menempelkan kartu atau ponsel, tetapi sumber dan jalur settlement dananya dapat berjalan melalui stablecoin.
Baca juga : Bank Thailand Lanjutkan Rencana Baht Stablecoin
Visa Stablecoin dan Masa Depan Pembayaran Modern
Visa Stablecoin Platform menunjukkan bahwa perusahaan pembayaran tidak hanya melihat stablecoin sebagai aset perdagangan kripto. Teknologi tersebut mulai ditempatkan sebagai bagian dari infrastruktur treasury, settlement, wallet, dan pengiriman uang.
Dampak terbesarnya mungkin bukan membuat setiap kasir memasang alamat wallet. Nilai praktisnya terletak pada kemampuan menghubungkan uang berbasis blockchain dengan sistem pembayaran yang sudah digunakan secara global.
Tiga perubahan yang berpotensi muncul adalah:
- Lebih banyak bank menawarkan saldo berbasis stablecoin.
- Penerbit kartu memperluas pembayaran dari wallet kripto.
- Merchant memperoleh pilihan settlement dalam fiat atau aset digital.
Perkembangan tersebut tetap membutuhkan regulasi, perlindungan konsumen, cadangan yang transparan, keamanan wallet, dan biaya yang kompetitif. Jaringan luas saja tidak cukup tanpa kepercayaan terhadap stablecoin yang digunakan.
Baca juga : Beli Saham AS via Kripto, Dapat Reward Harian 7% di Bittime
Apakah Pengguna Indonesia Bisa Membayar dengan USDC?
Pengguna Indonesia belum dapat menganggap bahwa saldo USDC pada sembarang wallet bisa digunakan langsung di semua toko berlogo Visa. Akses bergantung pada tersedianya kartu stablecoin yang sah, mendukung pengguna Indonesia, dan memenuhi ketentuan regulator serta penerbit.
Sebelum menggunakan suatu kartu kripto, periksa:
- Negara yang didukung.
- Identitas perusahaan penerbit.
- Stablecoin yang dapat digunakan.
- Jaringan blockchain yang tersedia.
- Biaya konversi dan transaksi.
- Limit Pembelian.
- Kebijakan refund.
- Perlindungan apabila kartu atau akun disalahgunakan.
- Ketentuan pajak dan regulasi lokal.
Pengguna juga perlu membedakan antara menyimpan USDC di bursa, menyimpan USDC di wallet pribadi, dan memiliki kartu yang terhubung dengan saldo tersebut. Ketiganya tidak selalu memiliki fitur pembayaran yang sama.
Untuk mengikuti pembaruan stablecoin, USDC, dan integrasi pembayaran kripto, kamu dapat mendaftar di Bittime serta memeriksa berita terkait sebelum menggunakan produk baru. Pastikan layanan yang dipilih tersedia secara resmi di Indonesia dan pahami seluruh biayanya.
Kesimpulan
Visa membawa stablecoin lebih dekat kepada jaringan global yang mencakup hingga sekitar 200 juta merchant. Namun, klaim tersebut tidak berarti semua toko sudah menerima transfer USDC langsung dari wallet pengguna.
Pembayaran dari saldo stablecoin biasanya berjalan melalui kartu yang diterbitkan oleh fintech atau platform kripto. Merchant tetap menerima transaksi lewat jaringan Visa dan dapat memperoleh pembayaran dalam mata uang lokal, sementara konversi stablecoin berlangsung di belakang layar.
Visa Stablecoin Platform sendiri ditujukan bagi bank, fintech, dan penyedia pembayaran. Platform ini dimulai dengan Open USD atau OUSD, sedangkan USDC tetap digunakan dalam settlement Visa dan berbagai produk kartu stablecoin.
Integrasi tersebut berpotensi mempercepat settlement, memperluas penggunaan stablecoin, dan menyederhanakan pembayaran lintas negara.
Meski begitu, pengguna tetap harus memperhatikan ketersediaan negara, biaya konversi, risiko depeg, keamanan wallet, dan perlindungan konsumen.
Yuk mulai trading crypto dari aset terbesar seperti BTC/IDR dan ETH/IDR langsung di aplikasi Bittime.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apakah USDC bisa digunakan di semua toko Visa?
Tidak secara langsung dari sembarang wallet. USDC dapat digunakan melalui kartu stablecoin yang kompatibel, tersedia di negara pengguna, dan diterbitkan oleh penyedia yang terhubung dengan Visa.
Apakah Visa menerbitkan stablecoin sendiri?
Visa tidak menjadi penerbit tunggal stablecoin bernama Visa Coin. Platform barunya dimulai dengan Open USD atau OUSD yang diperkenalkan oleh Open Standard.
Apa perbedaan OUSD dan USDC dalam ekosistem Visa?
OUSD menjadi aset pertama yang memperoleh integrasi minting, burning, dan redemption melalui Visa Stablecoin Platform. USDC lebih dahulu digunakan dalam settlement institusional dan sejumlah kartu stablecoin.
Apakah pembayaran stablecoin melalui Visa bebas biaya?
Tidak selalu. Pengguna dapat dikenai spread konversi, biaya kartu, gas fee, biaya valuta asing, atau biaya layanan dari penyedia.
Apakah merchant harus memiliki wallet kripto?
Tidak untuk pembayaran melalui kartu stablecoin Visa. Merchant dapat menerima transaksi seperti pembayaran kartu biasa tanpa mengelola wallet atau aset kripto secara langsung.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



