XRP Melemah Setelah Voting CLARITY Act Gagal, Apa Selanjutnya?

2026-09-17

XRP Melemah Setelah Voting CLARITY Act Gagal, Apa Selanjutnya.png

Angka 49 berbanding 50. Selisih tipis itulah yang membuat harga XRP melemah lebih dari 8 persen hanya dalam hitungan jam pada 16 September 2026. Senat Amerika Serikat gagal meloloskan mosi cloture untuk melanjutkan pembahasan CLARITY Act, RUU struktur pasar kripto yang selama ini dianggap jadi kunci kepastian regulasi digital asset di AS. 

Harga XRP pun langsung tertekan ke kisaran $1,27 sebelum sedikit pulih, melanjutkan tren turun dari level $1,42 dua hari sebelumnya.

Kenapa XRP turun begitu tajam, padahal posisi hukumnya justru disebut Ripple tetap aman? Jawabannya ada di detail yang sering luput dari judul berita, dan detail itulah yang akan dibahas tuntas di artikel ini.

Key Takeaways

  • XRP anjlok lebih dari 8% usai Senat AS gagal meloloskan mosi cloture CLARITY Act dengan skor 49-50, jauh dari ambang 60 suara yang dibutuhkan.
  • Ripple menyebut status hukum XRP sebagai digital commodity tetap berlaku berkat putusan pengadilan 2023 dan interpretasi SEC-CFTC Maret 2026, meski perlindungan ini dianggap lebih rapuh dibanding undang-undang.
  • ETF spot XRP di AS tetap mencatat arus masuk bersih kumulatif $1,71 miliar, menandakan minat institusional belum sepenuhnya pudar meski harga tertekan.

Kenapa Harga XRP Melemah Usai Voting CLARITY Act Gagal?

XRP Coin (2).jpeg

Penurunan XRP kali ini dipicu langsung oleh hasil voting prosedural di Senat AS. Pada 15 September 2026, mosi cloture untuk membawa CLARITY Act ke tahap debat resmi ditolak dengan skor 49-50. 

Tidak satu pun senator Demokrat yang mendukung, dan tiga senator Republik, yaitu Susan Collins, Josh Hawley, dan Jerry Moran, justru ikut menolak.

Menurut laporan CryptoSlate, harga XRP sempat menyentuh level terendah $1,27 sebelum pulih tipis ke $1,28–$1,29. Penurunan ini bukan cerita tunggal XRP saja. 

Pasar kripto secara luas ikut melemah, dengan Bitcoin juga tertekan ke bawah $76.000 pada hari yang sama, disertai gelombang likuidasi besar-besaran pada posisi leverage panjang.

Baca Juga: Purbaya Dicopot dari Kemenkeu, Jadi Gubernur BI? Cek Faktanya

Yang membuat penurunan ini terasa berat secara psikologis adalah ekspektasi pasar yang sempat tinggi. CLARITY Act dipandang sebagai kerangka hukum federal pertama yang secara jelas membagi wewenang pengawasan aset kripto antara SEC dan CFTC. 

Kegagalannya berarti kepastian regulasi menyeluruh untuk industri kripto AS harus tertunda lagi, entah sampai kapan.

Kalau kamu ingin mulai trading atau memantau pergerakan harga XRP secara real-time di platform yang legal dan diawasi OJK, kamu bisa daftar akun Bittime untuk mulai eksplorasi pasar kripto dengan lebih aman.

RUU CLARITY Act Buntu Lagi, Ini Akar Masalahnya

Kegagalan voting 15 September bukan kejutan tiba-tiba. RUU ini sudah melalui perjalanan panjang dan berliku sejak DPR AS meloloskan versi awalnya pada Juli 2025 dengan skor 294-134. 

Komite Perbankan Senat kemudian meloloskannya 15-9 pada Mei 2026, tapi hanya dua senator Demokrat, Ruben Gallego dan Angela Alsobrooks, yang mendukung.

Sejak itu, RUU tersandera oleh dua isu besar. Pertama, perseteruan lama antara industri kripto dan perbankan soal ketentuan stablecoin yield, yang membuat Hawley dan Moran menarik dukungannya. 

Kedua, dan ini yang paling krusial, klausul etika yang membatasi pejabat publik mengambil untung dari bisnis kripto selama menjabat.

Baca Juga: BIS Ungkap Potensi Baru XRP Ledger untuk Sistem Keuangan Digital

Klausul kedua ini secara langsung menyasar bisnis kripto keluarga Trump, termasuk World Liberty Financial. Menurut Decrypt, sejumlah senator Demokrat seperti Elizabeth Warren dan Chris Van Hollen mendesak agar ketentuan ini diperketat sebelum mereka bersedia memberikan suara. 

Trump sempat bertemu langsung dengan sejumlah senator di Gedung Putih untuk bernegosiasi, dan hanya dua hari sebelum voting, ia menyetujui sekitar 80% dari proposal etika yang diajukan Senator Thom Tillis dan Ruben Gallego, termasuk memberi wewenang penegakan tambahan kepada jaksa agung negara bagian.

Sayangnya, konsesi menit-menit akhir itu tetap tidak cukup mengamankan suara Demokrat yang dibutuhkan. Dengan Kongres bergerak mendekati reses menuju pemilu paruh waktu November, peluang RUU ini disahkan tahun 2026 makin menipis, dan kemungkinan besar prosesnya harus diulang dari awal tahun depan.

Baca Juga: Daftar Bittime Futures Public Beta Waitlist dan Dapatkan Hadiah Trial Funds s.d 1500 USDT

Ripple Yakin Posisi Hukum XRP Tetap Aman, Ini Alasannya

Menariknya, Ripple justru memakai momen ini untuk menegaskan keunggulan regulasi XRP dibanding aset kripto lain. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyebut hasil voting ini mengecewakan, tapi menegaskan hal itu tidak mengubah momentum bisnis, jejak global, maupun basis pelanggan perusahaan, seperti dilaporkan CryptoSlate.

Sementara itu, Chief Legal Officer Ripple, Stuart Alderoty, menyampaikan lewat X bahwa posisi hukum XRP tetap berdiri di atas pijakan yang sudah mapan, terlepas dari hasil voting Senat. Menurut laporan Coinspeaker yang dikutip Yahoo Finance, argumen Alderoty bersandar pada dua hal:

  1. Putusan pengadilan 2023 dalam kasus SEC v. Ripple. Hakim Analisa Torres memutuskan penjualan institusional Ripple merupakan penawaran sekuritas tak terdaftar, tetapi penjualan programatik di bursa dan sejumlah distribusi lain tidak memenuhi uji investment contract (Howey test).
  2. Interpretasi bersama SEC dan CFTC pada Maret 2026, yang mengklasifikasikan XRP sebagai salah satu dari 18 aset kripto berstatus digital commodity. CFTC sepakat mengelola Commodity Exchange Act selaras dengan kerangka tersebut.

Baca Juga: Tokenized Stock Populer 2026: Saham Teknologi Jadi Favorit Investor

Namun perlu dicatat, perlindungan ini sifatnya interpretasi atas hukum yang sudah ada, bukan undang-undang baru. Artinya, SEC masih punya ruang untuk merevisi pendekatannya di masa depan. 

Uji Howey berbasis transaksi juga tetap berlaku, sehingga komoditas digital yang bukan sekuritas tetap bisa dijual sebagai bagian dari kontrak investasi yang tunduk pada hukum sekuritas. Dengan kata lain, status aman XRP saat ini bersifat kondisional, bukan permanen.

Ripple sendiri menyatakan akan terus mendorong lahirnya kerangka hukum permanen, sambil berharap Ketua SEC Paul Atkins dan Ketua CFTC Mike Selig mengambil peran lebih besar dalam pembuatan aturan lewat jalur rulemaking, mengingat jalur legislatif kini nyaris buntu.

Data ETF dan Analisis Teknikal Harga XRP Terbaru

Meski harga tertekan, minat institusional terhadap XRP belum sepenuhnya surut. Berdasarkan data yang dikutip CryptoSlate, ETF spot XRP di AS mencatat arus masuk bersih kumulatif sekitar $1,71 miliar hingga 14 September 2026, dengan aset bersih sekitar $1,58 miliar. 

Angka ini menempatkan XRP di posisi ketiga setelah Bitcoin dan Ethereum di antara kategori ETF kripto aset tunggal di AS, unggul dibanding Solana yang mencatat arus masuk kumulatif $1,37 miliar.

Secara teknikal, analisis dari FXStreet menunjukkan XRP diperdagangkan di kisaran $1,28, tertahan di bawah EMA 50 hari yang berada di level sama, serta EMA 200 hari di $1,36. 

Baca Juga: 10+ Coin AI Terbaik 2026: Ini Daftar Crypto Bertema Artificial Intelligence! 

Support terdekat berada di EMA 100 hari, yakni $1,25. Indikator RSI berada di kisaran 45, sementara MACD berada di teritori negatif, menandakan momentum yang lemah.

Pola ini mengindikasikan konsolidasi yang cenderung bearish, bukan potensi crash lanjutan. Jika support $1,25 tertembus, penurunan berpotensi berlanjut ke area demand $1,20. 

Sebaliknya, jika level itu bertahan, harga XRP kemungkinan besar akan terjebak dalam rentang sempit di bawah resistance kuat EMA 200 hari.

XRP harga hari ini.png

Update harga XRP hari ini (17 September 2026): Berdasarkan data chart XRP/USDT di Bittime, harga XRP mulai menunjukkan tanda stabilisasi. 

Pada perdagangan 4 jam terakhir, XRP dibuka di $1,2988, sempat naik ke level tertinggi $1,3103, turun ke $1,2914 di titik terendah, lalu ditutup di $1,3035, atau naik tipis 0,32% dibanding sesi sebelumnya. 

Kenaikan kecil ini menandakan XRP mulai memantul dari zona jenuh jual pasca-selloff CLARITY Act, meski harga masih jauh di bawah level $1,42 sebelum voting berlangsung. 

Pergerakan ini sejalan dengan proyeksi konsolidasi yang disebutkan sebelumnya, di mana XRP belum menunjukkan sinyal breakout, tapi tekanan jual jangka pendek mulai mereda.

Baca Juga: 10 Tokenisasi Aset Kripto RWA Terbesar di Dunia

Kesimpulan

Kegagalan voting CLARITY Act di Senat AS memang memukul harga XRP dalam jangka pendek, tapi tidak mengubah status hukum XRP yang sudah lebih dulu diamankan lewat putusan pengadilan 2023 dan interpretasi SEC-CFTC Maret 2026. 

Sementara Kongres masih terjebak perdebatan etika dan kepentingan politik jelang pemilu, arus masuk ETF yang tetap kuat menunjukkan investor institusional belum kehilangan keyakinan jangka panjang terhadap XRP. 

Ke depan, arah harga XRP akan sangat bergantung pada langkah SEC dan CFTC lewat jalur rulemaking, serta sentimen makro seperti keputusan suku bunga The Fed. Seperti biasa, pantau data dan lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Cek harga Bitcoin (BTC)Ethereum (ETH)XRPSolana (SOL)GRAM, dan BNB juga memecoin unggulan DOGE. Kamu bisa trading langsung di Bittime!

bittime biaya withdrawal murah

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Kenapa harga XRP turun setelah voting CLARITY Act? 

Harga XRP turun karena Senat AS gagal meloloskan mosi cloture untuk CLARITY Act dengan skor 49-50, memicu kekhawatiran tertundanya kepastian regulasi kripto di AS. Penurunan ini juga sejalan dengan pelemahan pasar kripto secara luas.

Apa itu CLARITY Act dan kenapa penting untuk XRP? 

CLARITY Act adalah RUU struktur pasar kripto AS yang membagi wewenang pengawasan aset digital antara SEC dan CFTC. RUU ini penting karena akan memberi kepastian hukum jangka panjang bagi XRP dan aset kripto lain di AS.

Apakah status hukum XRP tetap aman meski CLARITY Act gagal? 

Ripple menyatakan status XRP sebagai digital commodity tetap berlaku berkat putusan pengadilan 2023 dan interpretasi SEC-CFTC Maret 2026. Namun perlindungan ini berupa interpretasi hukum, bukan undang-undang, sehingga berpotensi berubah di masa depan.

Kapan CLARITY Act kemungkinan disahkan lagi? 

Peluang pengesahan CLARITY Act tahun 2026 semakin kecil karena Kongres mendekati reses menuju pemilu paruh waktu November. Proses pembahasan RUU serupa kemungkinan besar harus diulang pada tahun berikutnya.

Bagaimana prediksi harga XRP setelah kejadian ini? 

Per 17 September 2026, XRP diperdagangkan di kisaran $1,30, naik tipis 0,32% dan mulai memantul dari level terendah pasca-selloff. Secara teknikal, XRP berpotensi konsolidasi di kisaran $1,25 hingga $1,36 dalam waktu dekat, dengan arah selanjutnya sangat dipengaruhi kebijakan The Fed dan langkah rulemaking SEC-CFTC.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Trump Dorong Suku Bunga The Fed 1%, Ini Dampaknya bagi Bitcoin dan Pasar Crypto
Trump Dorong Suku Bunga The Fed 1%, Ini Dampaknya bagi Bitcoin dan Pasar Crypto

Trump minta suku bunga The Fed turun ke 1%. Simak dampaknya terhadap Bitcoin, likuiditas crypto, dan peluang pasar digital.

2026-09-17Baca