BIS Ungkap Potensi Baru XRP Ledger untuk Sistem Keuangan Digital
2026-09-03
Bagaimana cara memastikan file data yang baru saja diunduh benar-benar sama dengan versi asli yang dipublikasikan penerbitnya, tanpa perlu percaya begitu saja pada server yang menyediakannya? Pertanyaan sederhana itulah yang coba dijawab Bank for International Settlements (BIS) lewat riset terbarunya, dan jawabannya mengarah ke XRP Ledger.
Lewat working paper yang dirilis awal September 2026, BIS menguji sistem keuangan digital yang memanfaatkan blockchain ini untuk membuktikan keaslian data ekonomi dan perbankan resmi — penggunaan baru XRP Ledger yang jauh dari sekadar alat pembayaran lintas negara.
Key Takeaways
- BIS menguji sistem verifikasi data resmi menggunakan XRP Ledger lewat working paper No. 1374 yang dipublikasikan 2 September 2026.
- Sistem ini mencatat "sidik jari" kriptografis data ke XRP Ledger tanpa pernah mengunggah data mentahnya, dengan latensi publikasi 3–5 detik dan verifikasi 1–2 detik.
- BIS menegaskan ini murni riset proof of concept, bukan kemitraan dengan Ripple maupun bentuk dukungan terhadap XRP sebagai instrumen investasi.
Masalah Verifikasi Data yang Coba Dipecahkan BIS
Data statistik resmi — mulai dari laporan perbankan lintas negara hingga indikator ekonomi — kini banyak didistribusikan lewat platform digital dan dikonsumsi otomatis oleh berbagai sistem, termasuk perangkat AI.
Masalahnya, standar pertukaran data yang dipakai BIS bersama lembaga besar seperti ECB, IMF, OECD, World Bank, dan ILO — bernama SDMX — tidak punya cara bawaan untuk membuktikan sebuah file benar-benar berasal dari sumber resminya.
Celah itulah yang mendorong tim BIS, yang beranggotakan Mario Rusev dari d-fine Austria bersama empat peneliti BIS (Rafael Schmidt, Edward Lambe, Christian Schmieder, dan Glenn Philip Tice), merancang sistem verifikasi berbasis blockchain.
Baca Juga: Antara Optimisme dan Realita: Cara Menilai Proyeksi Harga XRP
Working paper bernomor 1374 berjudul "Verifiable Official Statistics: A Blockchain-Based Approach" ini menjadikan XRP Ledger sebagai "notaris publik" yang mencatat keaslian data tanpa bisa diubah diam-diam oleh siapa pun, termasuk institusi penerbitnya sendiri.
Riset semacam ini menunjukkan bagaimana teknologi blockchain, termasuk XRP Ledger, terus berkembang jauh melampaui sekadar alat pembayaran.
Bagi yang ingin mulai mengenal dan bertransaksi aset kripto seperti XRP secara legal di Indonesia, Bittime hadir sebagai platform yang diawasi OJK. Daftar sekarang di Bittime untuk mulai eksplorasi aset digital dengan aman.

Cara Kerja Sistem Verifikasi Berbasis XRP Ledger
Mekanismenya dirancang tetap ringan. Data mentah tidak pernah diunggah ke blockchain — sistem hanya menghitung sidik jari kriptografis dari file tersebut lewat algoritma SHA3-512, setelah lebih dulu dinormalisasi dengan format Canonical XML 1.1.
Sidik jari itu kemudian digabung menjadi satu nilai ringkas yang disebut Merkle root, lalu dituliskan ke field Memo dalam transaksi Payment di XRP Ledger. Biayanya nyaris tidak terasa: hanya 10 drops, atau sekitar 0,00001 XRP, per transaksi.
Setelah root tercatat di ledger, file SDMX aslinya disematkan referensi menuju catatan on-chain tersebut. Siapa pun yang mengunduh file itu bisa langsung memverifikasi keasliannya cukup dengan satu kali pengecekan ke ledger — tanpa perlu menghubungi server penerbit data sama sekali.
Pengujian dilakukan di jaringan XRPL DevNet dengan hasil median latensi publikasi 3–5 detik dan waktu verifikasi 1–2 detik, sementara biaya per dataset bisa turun ke kisaran nyaris nol dolar ketika ribuan dataset digabung dalam satu batch.
Kode sumber sistem ini pun sudah dirilis terbuka di bawah lisensi Apache 2.0 melalui BIS Open Tech, sehingga siapa pun bisa mempelajari atau mengembangkannya lebih lanjut.
Baca Juga: Tokenized Stocks vs Saham Biasa: Pengertian, Perbedaan, dan Cara Beli
Potensi dan Batasan Teknologi Ini bagi Masa Depan Pembayaran Digital
Para peneliti melihat manfaat XRP Ledger dalam kasus ini bisa meluas ke luar sekadar verifikasi statistik. Paper menyebut potensi integrasi dengan Chainlink untuk membawa data terverifikasi ke jaringan blockchain lain, serta kemungkinan memanfaatkan sidechain XRPL yang kompatibel dengan EVM.
Skenario penggunaannya pun disebut cukup luas — mulai dari produk terkait inflasi, kontrak futures perpetual, hingga penyelesaian derivatif yang membutuhkan kepastian bahwa data acuan yang dipakai benar-benar asli sebelum pembayaran dicairkan.
Meski begitu, penting dicatat bahwa riset ini murni bersifat proof of concept. BIS secara eksplisit menyatakan sistem ini bukan kemitraan dengan Ripple, bukan peluncuran produk resmi, dan bukan bentuk dukungan terhadap XRP sebagai instrumen investasi — teknologi blockchain di sini dipilih semata karena biaya rendah dan waktu konfirmasinya cepat.
Sebelum bisa dipakai institusi resmi seperti bank sentral atau lembaga statistik nasional, sistem ini masih butuh pengembangan lebih lanjut: mulai dari penandatanganan berbasis HSM, node validator khusus, hingga uji beban formal.
Perlu digarisbawahi juga bahwa XRP Ledger di sini hanya membuktikan data tidak berubah sejak dipublikasikan — bukan memastikan kebenaran isi datanya sendiri, karena itu tetap jadi tanggung jawab penerbit data.
Baca Juga: Cara Beli XRP di Bittime: Panduan Lengkap untuk Pemula
Kesimpulan
Riset BIS ini menjadi salah satu bukti nyata bagaimana inovasi blockchain finansial mulai dilirik institusi keuangan global untuk kebutuhan yang jauh dari sekadar transaksi kripto sehari-hari — dalam hal ini, menjaga integritas data ekonomi dan perbankan resmi di era di mana data dikonsumsi otomatis oleh sistem AI.
Meski masih berstatus proof of concept dan belum menjadi kemitraan resmi dengan Ripple, penggunaan baru XRP Ledger ini menunjukkan bahwa teknologi blockchain terus dieksplorasi lembaga sekelas "bank sentralnya bank sentral" untuk kasus penggunaan yang lebih serius.
Ke depan, arah pengembangan lanjutan seperti integrasi lintas-chain dan uji beban formal akan menentukan apakah teknologi aset digital semacam ini benar-benar bisa diadopsi secara luas oleh sistem keuangan digital global.
Cek harga Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), XRP, Solana (SOL), GRAM, dan BNB juga memecoin unggulan DOGE. Kamu bisa trading langsung di Bittime!
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
1. Apa yang diuji BIS pada XRP Ledger?
BIS menguji sistem yang mencatat sidik jari kriptografis data ekonomi dan perbankan resmi ke XRP Ledger, sehingga siapa pun bisa memverifikasi keaslian file yang diunduh. Hasilnya dipublikasikan dalam working paper No. 1374 pada 2 September 2026.
2. Apakah BIS menjalin kemitraan dengan Ripple?
Tidak. BIS secara eksplisit menyatakan riset ini bukan kemitraan dengan Ripple maupun bentuk dukungan terhadap XRP sebagai instrumen investasi, melainkan murni riset teknis.
3. Bagaimana cara kerja sistem verifikasi data BIS di XRP Ledger?
Sistem menghitung sidik jari kriptografis dari data, menggabungkannya jadi satu nilai ringkas, lalu mencatatnya ke field Memo dalam transaksi XRP Ledger. Siapa pun bisa memverifikasi keaslian file cukup dengan mencocokkannya ke catatan on-chain tersebut.
4. Apakah sistem verifikasi data ini sudah bisa dipakai secara resmi?
Belum. Sistem ini masih berstatus proof of concept dan diuji di jaringan XRPL DevNet, sehingga masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut sebelum bisa dipakai institusi resmi.
5. Apa manfaat XRP Ledger dalam kasus penggunaan ini dibanding blockchain lain?
BIS memilih XRP Ledger karena biaya transaksinya sangat rendah dan waktu konfirmasinya cepat, sekitar 3-5 detik untuk publikasi dan 1-2 detik untuk verifikasi. Kombinasi ini membuat pencatatan sidik jari data dalam jumlah besar tetap efisien secara biaya.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



