Mengapa Bitcoin dan Ethereum Tetap Stabil Meski Konflik AS-Iran Kembali Memanas?
2026-07-13
Hubungan Bitcoin dan konflik AS-Iran kembali menjadi perhatian setelah kedua negara bertukar serangan dan ketegangan di Selat Hormuz meningkat.
Meski risikonya besar, Bitcoin hanya bergerak terbatas di sekitar US$63.800, sedangkan Ethereum bertahan dekat US$1.800 pada awal perdagangan 13 Juli 2026.
Key Takeaways
- Bitcoin dan Ethereum relatif stabil karena eskalasi terbaru tidak sepenuhnya mengejutkan pasar dan sebagian risikonya telah tercermin dalam harga.
- Stabilitas harga belum membuktikan Bitcoin sebagai safe haven karena BTC dan ETH masih sensitif terhadap dolar, minyak, suku bunga, serta sentimen aset berisiko.
- Risiko terbesar muncul jika gangguan Selat Hormuz berlangsung lama dan mendorong kenaikan energi, inflasi, serta kebijakan moneter yang lebih ketat.
Apa yang Terjadi dalam Konflik AS-Iran?
Amerika Serikat melancarkan beberapa gelombang serangan ke wilayah Iran setelah sebuah kapal kontainer mengalami serangan di sekitar Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer Amerika Serikat.
Militer AS menyatakan telah menyerang sekitar 140 target, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komunikasi, serta fasilitas militer lainnya.
Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz, meskipun Amerika Serikat menyatakan jalur tersebut masih dapat dilalui dengan aktivitas pelayaran yang berkurang.

Sumber: AI Generated Image
Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena sekitar seperlima minyak dan gas alam yang diperdagangkan secara global melewati jalur tersebut sebelum konflik. Gangguan berkepanjangan dapat menghambat pengiriman energi, menaikkan harga minyak, dan memperbesar tekanan inflasi dunia.
Reaksi awal pasar energi sudah terlihat. Harga minyak Brent naik sekitar 3,3% menjadi US$78,49 per barel ketika perdagangan Asia dibuka pada 13 Juli 2026. Dolar AS juga menguat karena investor mempertimbangkan risiko inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga.
Baca juga : Apakah Bull Run Bitcoin Masih Mengikuti Siklus 4 Tahunan? Ini Sinyal dari 200-Week MA
Mengapa Bitcoin Tidak Turun Tajam saat Konflik AS-Iran?
Bitcoin sebenarnya tidak sepenuhnya kebal. Pada 13 Juli 2026, BTC turun sekitar 0,6% menjadi US$63.770. Pergerakan ini tetap tergolong terbatas jika dibandingkan dengan besarnya eskalasi militer dan potensi gangguan energi global.
Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan respons tersebut.
1. Sebagian Risiko Konflik Sudah Masuk ke Harga
Pasar telah menghadapi ketegangan AS–Iran selama beberapa bulan. Pada awal Juli 2026, Bitcoin sempat turun ke sekitar US$61.700 setelah pernyataan bahwa proses gencatan senjata tidak lagi berjalan efektif.
Artinya, penurunan sebelumnya telah mengurangi sebagian posisi spekulatif dan memaksa investor menyesuaikan ekspektasi. Ketika serangan baru terjadi, informasi tersebut tidak sepenuhnya menjadi kejutan.
Pasar biasanya bereaksi paling keras terhadap perubahan yang tidak diperkirakan. Apabila investor telah mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan, tambahan berita buruk tidak selalu menghasilkan penjualan dalam skala yang sama.
2. Pasar Menilai Gangguan Selat Hormuz Masih Bersifat Sementara
Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup, tetapi aktivitas kapal dilaporkan masih berlangsung dalam jumlah terbatas. Amerika Serikat juga membantah bahwa jalur tersebut benar-benar tertutup.
Perbedaan klaim ini membuat trader belum memperlakukan situasi tersebut sebagai penghentian permanen terhadap pasokan minyak.
Jika jalur pelayaran kembali normal dalam waktu singkat, dampak ekonomi dapat tetap terbatas. Sebaliknya, penutupan selama beberapa minggu berpotensi mengubah perhitungan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah suku bunga.
Stabilitas Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar masih lebih condong pada skenario gangguan sementara daripada krisis energi global berkepanjangan.
3. Tidak Terlihat Gelombang Kepanikan On-Chain
Pemantauan perdagangan akhir pekan tidak menunjukkan lonjakan tidak biasa pada pengiriman Bitcoin ke bursa, pencetakan stablecoin, atau perpindahan besar dari cold wallet menuju alamat penjualan.
Pengiriman aset ke bursa sering dipantau karena dapat menunjukkan niat pemegang untuk menjual. Ketika aktivitas tersebut tidak meningkat secara signifikan, tekanan jual spot cenderung lebih terkendali.
Kondisi ini bukan jaminan bahwa harga tidak akan turun. Data tersebut hanya menunjukkan bahwa pemegang besar belum merespons eskalasi dengan memindahkan aset secara massal ke bursa.
Baca juga : Target Bitcoin $150K Bernstein Tetap Meski Pullback 54%
4. Posisi Leverage Telah Berkurang Setelah Koreksi Sebelumnya
Bitcoin telah mengalami penurunan sebelum serangan terbaru. Secara logis, koreksi sebelumnya kemungkinan telah mengurangi sebagian posisi leverage yang rentan terhadap likuidasi.
Pasar dengan leverage tinggi dapat jatuh cepat karena penurunan kecil memicu likuidasi otomatis. Setelah banyak posisi spekulatif ditutup, diperlukan tekanan jual baru yang lebih besar untuk menghasilkan penurunan serupa.
Poin ini merupakan inferensi dari rangkaian koreksi dan pemulihan harga terbaru. Konfirmasi yang lebih kuat tetap membutuhkan data open interest, funding rate, dan likuidasi dari beberapa bursa.
5. Arus Institusional Masih Memberikan Dukungan Terbatas
Sebelum eskalasi akhir pekan, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sekitar US$90,4 juta pada 10 Juli 2026. ETF Ethereum juga menerima sekitar US$18,4 juta.
Nilainya belum cukup besar untuk menunjukkan akumulasi agresif, tetapi arus positif tersebut dapat membantu menahan tekanan jual.
Pada saat konflik kembali meningkat, pasar saham dan obligasi sedang tutup untuk akhir pekan. ETF juga tidak aktif di luar jam perdagangan bursa. Bitcoin dan Ethereum menjadi salah satu dari sedikit aset global yang terus memperdagangkan informasi geopolitik secara real time.
Respons yang lebih lengkap baru dapat dinilai setelah perdagangan minyak, obligasi, saham, dan ETF kembali berjalan bersamaan.
Untuk mengikuti perkembangan konflik geopolitik, Bitcoin, Ethereum, dan pasar aset digital, daftar Bittime dan pantau pembaruan berita terbaru. Gunakan data pasar sebagai bahan riset dan hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan satu headline.
Mengapa Ethereum Tetap Stabil Meski Konflik Timur Tengah?
Ethereum turun sekitar 1,1% ke US$1.801 pada awal perdagangan 13 Juli 2026. Penurunan tersebut sedikit lebih besar daripada Bitcoin, tetapi masih terbatas untuk ukuran pasar kripto.
Ketahanan Ethereum dapat dijelaskan oleh beberapa faktor.
Pertama, tidak ada gangguan yang berkaitan langsung dengan jaringan Ethereum. Konflik geopolitik tidak menghentikan validator, transaksi, aplikasi DeFi, atau aktivitas Layer 2.
Kedua, ETH tetap sangat dipengaruhi oleh arah Bitcoin. Ketika BTC tidak mengalami penjualan besar, Ethereum biasanya memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan support jangka pendek.
Ketiga, arus masuk ETF Ethereum sebelum akhir pekan menunjukkan masih adanya permintaan institusional, meskipun skalanya kecil.
Keempat, ETH telah mengalami koreksi besar dari level tertingginya dalam setahun. Harga yang sudah melemah dapat membuat sebagian kabar negatif telah tercermin dalam valuasi.
Namun, Ethereum biasanya memiliki volatilitas lebih tinggi daripada Bitcoin. Apabila sentimen global berubah menjadi risk-off secara penuh, ETH dan altcoin dapat mengalami tekanan yang lebih besar karena investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi terlebih dahulu.
Baca juga : RSI Ethereum Cetak Rekor Terendah, Support $1.500: Sinyal Bottom?
Apakah Bitcoin Menjadi Safe Haven saat Konflik Geopolitik?
Stabilitas terbaru tidak cukup untuk membuktikan bahwa Bitcoin safe haven telah setara dengan emas atau obligasi pemerintah berkualitas tinggi.
Safe haven adalah aset yang mampu mempertahankan atau meningkatkan nilai ketika pasar finansial menghadapi tekanan besar. Bitcoin memang memiliki beberapa karakteristik pendukung:
- Suplai maksimum terbatas.
- Tidak dikendalikan oleh satu pemerintah.
- Dapat dipindahkan lintas negara.
- Diperdagangkan selama 24 jam.
- Tidak bergantung pada satu sistem perbankan.
- Dapat disimpan secara mandiri.
Namun, perilaku harga Bitcoin masih sering menyerupai aset teknologi dan instrumen berisiko. Ketika likuiditas global menyusut, dolar menguat, atau suku bunga naik, BTC dapat ikut mengalami tekanan.

Sumber: AI Generated Image
Pada episode ketegangan sebelumnya, Bitcoin juga sempat turun bersama pasar saham, bukan bergerak seperti emas. Hal ini menunjukkan status safe haven Bitcoin masih bersifat kondisional.
Bitcoin dapat berfungsi sebagai perlindungan terhadap risiko tertentu, seperti kontrol modal, pelemahan mata uang, atau pembatasan akses perbankan. Akan tetapi, dalam guncangan global yang mendorong investor mencari kas, Bitcoin tetap dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Baru mulai investasi crypto? Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) bisa jadi pilihan awal yang populer untuk dipantau dan diperdagangkan di Bittime.
Baca juga : Strategy Jual 3.588 Bitcoin Senilai $216 Juta: Model Treasury Saylor Terancam?
Dampak Perang terhadap Bitcoin Tidak Selalu Langsung
Konflik militer tidak selalu langsung mempengaruhi Bitcoin melalui jaringan blockchain. Dampaknya biasanya bergerak melalui beberapa tahapan ekonomi.
Tahap Pertama: Harga Minyak Naik
Gangguan di Selat Hormuz dapat membatasi pasokan minyak dan gas. Harga energi yang lebih tinggi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan konsumsi.
Tahap Kedua: Inflasi Meningkat
Kenaikan biaya energi dapat masuk ke harga barang dan jasa. Investor kemudian menyesuaikan ekspektasi inflasi.
Tahap Ketiga: Bank Sentral Menahan atau Menaikkan Suku Bunga
Jika inflasi kembali naik, bank sentral dapat menunda penurunan suku bunga atau mempertimbangkan kenaikan baru. Pada 13 Juli 2026, pasar meningkatkan perkiraan kemungkinan dua atau lebih kenaikan suku bunga Federal Reserve hingga Desember.
Tahap Keempat: Likuiditas untuk Aset Berisiko Berkurang
Suku bunga lebih tinggi meningkatkan daya tarik dolar, deposito, dan obligasi. Investor menjadi kurang terdorong memegang aset tanpa arus kas seperti Bitcoin.
Tahap Kelima: Bitcoin dan Ethereum Mengalami Tekanan
Apabila proses tersebut berlangsung selama beberapa minggu, pasar kripto dapat turun meskipun reaksi awalnya terlihat tenang.
Karena itu, efek utama konflik bukan hanya jumlah serangan. Hal yang lebih penting adalah apakah konflik menyebabkan gangguan energi yang bertahan lama dan mengubah arah kebijakan moneter.
Baca juga : ChatGPT Prediksi Bitcoin Sebelum Q3: Anjlok ke $48.000 atau Pulih ke $82.000?
Mengapa Stabilitas Saat Ini Bisa Menyesatkan?
Harga yang tenang tidak selalu berarti risiko telah hilang. Pada perdagangan akhir pekan, likuiditas sering lebih tipis karena sebagian institusi dan produk keuangan tradisional tidak aktif.
Likuiditas tipis dapat menghasilkan dua kondisi. Harga bisa bergerak tajam karena sedikit order, atau justru datar karena pelaku besar menunggu pasar tradisional dibuka.
Investor juga perlu membedakan stabilitas dengan kekuatan tren. Bitcoin yang bergerak di sekitar US$63.000 belum tentu sedang menguat. Harga dapat berada dalam fase konsolidasi sebelum bergerak ke salah satu arah.
Skenario yang Dapat Mengubah Harga Bitcoin dan Ethereum
Skenario Bullish
BTC dan ETH dapat bertahan atau menguat apabila:
- Selat Hormuz kembali beroperasi normal.
- Serangan tidak berkembang menjadi perang regional.
- Harga minyak kembali turun.
- Arus masuk ETF berlanjut.
- Dolar melemah.
- Tidak terjadi gelombang likuidasi baru.
- Perundingan diplomatik kembali berjalan.
Dalam skenario ini, ketahanan harga terbaru dapat meningkatkan keyakinan bahwa tekanan jual mulai berkurang.
Skenario Bearish
Tekanan dapat meningkat apabila:
- Selat Hormuz benar-benar tertutup dalam waktu lama.
- Harga minyak kembali menuju level krisis.
- Inflasi meningkat lebih cepat dari perkiraan.
- Federal Reserve mengadopsi kebijakan lebih ketat.
- ETF mengalami arus keluar besar.
- Whale memindahkan Bitcoin ke bursa.
- Terjadi serangan terhadap fasilitas energi atau jalur perdagangan lain.
- Konflik melibatkan lebih banyak negara.
Ethereum dan altcoin kemungkinan menghadapi volatilitas lebih tinggi dalam skenario ini karena posisinya lebih jauh pada kurva risiko dibandingkan Bitcoin.
Baca juga : Bitcoin Monetization Program Strategy: Strategi Baru Michael Saylor
Indikator yang Perlu Dipantau Investor
Untuk menilai pengaruh konflik terhadap pasar kripto, investor dapat memantau:
- Harga minyak Brent dan WTI
Kenaikan berkelanjutan menjadi sinyal bahwa konflik mulai mempengaruhi pasokan global. - Aktivitas kapal di Selat Hormuz
Data pelayaran membantu membedakan penutupan simbolis dengan gangguan fisik berkepanjangan. - Indeks dolar AS
Dolar yang terus menguat biasanya menjadi hambatan bagi Bitcoin dan aset berisiko. - Ekspektasi suku bunga Federal Reserve
Perubahan proyeksi suku bunga dapat mempengaruhi likuiditas pasar secara lebih besar daripada berita serangan jangka pendek. - Arus dana ETF Bitcoin dan Ethereum
Arus masuk menunjukkan permintaan institusional, sedangkan redemption besar dapat memperkuat tekanan jual. - Open interest dan funding rate
Kenaikan leverage yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko likuidasi. - Arus kripto menuju bursa
Lonjakan deposit dari whale dapat menjadi indikasi meningkatnya potensi penjualan.
Baca juga : Apakah Ethereum Bisa Kalahkan Bitcoin di Q3 2026?
Kesimpulan
Bitcoin dan Ethereum tetap relatif stabil meski konflik AS-Iran kembali meningkat karena eskalasi tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan pasar. Sebagian risiko telah tercermin dalam koreksi sebelumnya, sementara data perdagangan akhir pekan belum menunjukkan gelombang kepanikan on-chain atau penjualan massal.
Bitcoin bertahan di sekitar US$63.800 dan Ethereum di sekitar US$1.800, tetapi stabilitas tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti bahwa keduanya telah menjadi safe haven penuh. BTC dan ETH masih sensitif terhadap harga minyak, kekuatan dolar, suku bunga, arus ETF, serta sentimen pasar saham.
Risiko terbesar bukan hanya serangan militernya, melainkan dampak lanjutan terhadap energi dan inflasi. Jika Selat Hormuz terganggu dalam waktu lama, harga minyak dapat naik, kebijakan moneter menjadi lebih ketat, dan likuiditas aset berisiko menyusut.
Investor perlu memantau durasi konflik, aktivitas pelayaran, harga energi, arus ETF, dan indikator leverage.
Reaksi yang tenang selama satu akhir pekan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa risiko geopolitik telah berakhir.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Mengapa Bitcoin tidak turun tajam saat konflik AS-Iran?
Sebagian risiko konflik telah tercermin dalam penurunan sebelumnya. Pasar juga belum melihat gangguan Selat Hormuz sebagai penutupan permanen yang dapat memicu krisis energi global.
Apakah perang mempengaruhi harga Bitcoin?
Ya, tetapi pengaruhnya sering tidak langsung. Perang dapat menaikkan harga minyak dan inflasi, mendorong suku bunga lebih tinggi, lalu mengurangi likuiditas untuk Bitcoin.
Apakah Bitcoin merupakan aset safe haven?
Bitcoin memiliki karakteristik yang mendukung fungsi tersebut, tetapi perilaku harganya masih sering mengikuti aset berisiko. Statusnya sebagai safe haven belum sekonsisten emas atau obligasi pemerintah.
Mengapa Ethereum tetap stabil saat konflik Timur Tengah?
Ethereum mengikuti ketahanan Bitcoin dan tidak menghadapi gangguan khusus pada jaringannya. Namun, ETH tetap dapat turun lebih tajam apabila pasar global memasuki fase risk-off.
Apa risiko terbesar bagi harga kripto dari konflik ini?
Risiko terbesar adalah penutupan berkepanjangan Selat Hormuz yang menaikkan harga energi dan inflasi. Kondisi tersebut dapat mendorong kebijakan suku bunga lebih ketat dan menekan aset digital.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



