Ketegangan Iran-AS di Hormuz Kembali Terjadi, Harga Minyak Brent & WTI Melonjak
2026-07-08
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Rabu (8/7/2026) setelah AS melancarkan serangan balasan ke Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
West Texas Intermediate (WTI) futures untuk kontrak Agustus naik 2,87% ke $72,46 per barel, sementara Brent crude futures untuk kontrak September melonjak 2,75% ke $76,18 per barel.
Eskalasi ini mengancam gencatan senjata rapuh yang baru tercapai bulan lalu dan membuka kembali Selat Hormuz setelah berbulan-bulan terganggu.
Pasar energi dan keuangan global pun merespons cepat dengan lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Poin Penting
AS melancarkan serangan balasan ke Iran setelah tiga kapal komersial diserang di Selat Hormuz, mencabut izin penjualan minyak Iran dan mengancam "heavy costs".
Harga minyak langsung melonjak: WTI naik 2,87% ke $72,46 dan Brent naik 2,75% ke $76,18 per barel, menandai respons cepat pasar terhadap eskalasi geopolitik.
Dampak meluas ke pasar keuangan: imbal hasil obligasi Asia-Pasifik naik (Australia +6 bps, Selandia Baru +8 bps) dan Treasury AS 10 tahun ke 4,549%.
Pantau dampak geopolitik terhadap aset digital dan mulai investasi cerdas Anda. Registrasi di Bittime sekarang, trading crypto aman terpercaya di Indonesia.
Kronologi Serangan dan Eskalasi
Pada Selasa (7/7/2026), tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz menjadi sasaran serangan Iran. Sebagai respons, militer AS melancarkan "serangkaian serangan dahsyat" ke Iran.
Komando Pusat AS menyatakan serangan ini sebagai balasan atas "agresi tak beralasan" Iran yang melanggar gencatan senjata dan mengancam akan membebani Iran dengan "heavy costs".
Langkah ini diperkuat dengan pencabutan izin penjualan minyak Iran oleh Departemen Keuangan AS, yang semakin menekan ekonomi Iran.
Seorang pejabat AS menyatakan, "Iran hanya akan menuai manfaat jika mereka menunjukkan perilaku baik."
Baca juga : Konflik Iran dan Dampaknya terhadap Ekonomi Global dan Harga Minyak
Reaksi Harga Minyak WTI

Sumber: TradingView
WTI futures untuk kontrak pengiriman Agustus langsung merespons dengan kenaikan 2,87% ke $72,46 per barel.
Lonjakan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasokan global karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia.
Volume perdagangan meningkat signifikan seiring pelaku pasar memproyeksikan potensi gangguan pasokan lebih lanjut jika eskalasi berlanjut.
Reaksi Harga Minyak Brent

Sumber: TradingView
Brent crude futures untuk kontrak September naik 2,75% ke $76,18 per barel. Kenaikan Brent yang hampir sejajar dengan WTI menunjukkan bahwa dampak eskalasi ini bersifat global, tidak hanya terbatas pada pasar AS.
Brent sebagai patokan minyak global mencatat kenaikan tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan kekhawatiran pasar akan stabilitas pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Reaksi Pasar Keuangan
Dampak ketegangan ini merambat ke pasar keuangan global.
Imbal hasil obligasi pemerintah Asia-Pasifik naik: Australia 10 tahun naik 6 basis poin ke 4,8820%, Selandia Baru naik 8 basis poin ke 4,5080%, dan Jepang naik 2,5 basis poin ke 2,865%.
Yield Treasury AS 10 tahun juga naik 2 basis poin ke 4,549%.
Kenaikan yield ini mencerminkan ekspektasi inflasi yang meningkat akibat harga minyak yang lebih tinggi, yang bisa memaksa The Fed mengambil sikap lebih hawkish terhadap suku bunga.
Konteks Geopolitik dan Analisis
Eskalasi ini terjadi saat Iran tengah melaksanakan upacara pemakaman Ali Khamenei, yang menambah ketidakpastian politik di Teheran.
Andrew Jackson, analis Ortus Advisors, mencatat bahwa serangan terjadi di tengah momen transisi kepemimpinan di Iran, yang bisa mempengaruhi dinamika negosiasi.
Di sisi lain, AS menghadapi pemilu paruh waktu November, di mana inflasi akibat konflik Timur Tengah dapat menjadi isu politik sensitif bagi pemerintahan Trump.
Penarikan izin penjualan minyak Iran menunjukkan pendekatan yang lebih agresif dari AS.
Prediksi dan Prospek Harga Minyak
Para analis memperkirakan harga minyak berpotensi naik ke $85-$100 per barel jika ketegangan berlanjut.
Seorang trader di Binance Square memprediksi bahwa "perang AS-Iran tidak akan berakhir dalam jangka pendek karena AS ingin menguasai ekonomi Iran dan kekuatan penetapan harga minyak".
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dapat menekan aset berisiko seperti kripto, dengan beberapa analis memproyeksikan Bitcoin berpotensi turun menuju $50.000 dalam jangka pendek.
Baca Juga : Perang Iran vs Israel: Dampaknya ke Pasar Crypto, Bitcoin, dan Token Emas Digital
Kesimpulan
Ketegangan Iran-AS di Selat Hormuz kembali memanas, memicu lonjakan harga minyak WTI dan Brent serta mengguncang pasar keuangan global.
Dengan AS yang mencabut izin penjualan minyak Iran dan ancaman serangan lanjutan, prospek harga minyak ke depan masih cenderung bullish.
Namun, dampaknya terhadap inflasi, kebijakan moneter, dan pasar aset berisiko seperti kripto tetap menjadi variabel yang perlu dicermati.
Pantau perkembangan geopolitik dan kebijakan bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian ini bersama Bittime.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Mengapa harga minyak naik pada 8 Juli 2026?
Harga minyak naik setelah AS melancarkan serangan balasan ke Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
Berapa kenaikan harga WTI?
WTI futures kontrak Agustus naik 2,87% ke $72,46 per barel.
Berapa kenaikan harga Brent?
Brent futures kontrak September naik 2,75% ke $76,18 per barel.
Apa yang dilakukan AS terhadap Iran?
AS melancarkan serangan militer dan mencabut izin penjualan minyak Iran.
Bagaimana dampak pada pasar obligasi?
Imbal hasil obligasi Asia-Pasifik naik, dengan Australia +6 bps, Selandia Baru +8 bps, dan Treasury AS 10 tahun ke 4,549%.
Apa prediksi harga minyak ke depan?
Analis memperkirakan minyak berpotensi naik ke $85-$100 per barel jika ketegangan berlanjut.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



