Apakah Bull Run Bitcoin Masih Mengikuti Siklus 4 Tahunan? Ini Sinyal dari 200-Week MA
2026-07-13
Pola Bitcoin 4 year cycle kembali dipertanyakan setelah harga BTC sempat ditutup di bawah 200-week moving average pada Juni 2026.
Sinyal tersebut penting karena indikator ini berulang kali menjadi area dasar pasar dalam beberapa siklus sebelumnya, tetapi kondisi makro dan struktur pasar saat ini tidak sepenuhnya sama dengan masa lalu.
Key Takeaways
- Bitcoin masih menunjukkan pola yang menyerupai siklus empat tahunan, tetapi halving bukan satu-satunya faktor yang menentukan bull run dan bear market.
- Penutupan mingguan di bawah 200-week MA menunjukkan pelemahan struktur jangka panjang, meski satu kali penembusan belum cukup untuk memastikan tren bearish berkepanjangan.
- Konfirmasi yang lebih kuat perlu datang dari harga, arus dana ETF, likuiditas global, realized price, dan kemampuan Bitcoin mempertahankan kembali 200-week MA sebagai support.
Apa Itu Bitcoin 4 Year Cycle?
Bitcoin 4 year cycle merupakan teori bahwa pasar Bitcoin bergerak dalam pola berulang yang berkaitan dengan halving.
Dalam pola tersebut, pasar biasanya melewati fase akumulasi, ekspansi harga, puncak bull market, koreksi besar, lalu kembali membentuk dasar sebelum halving berikutnya.
Halving terjadi setelah sekitar 210.000 blok baru ditambang atau kurang lebih setiap empat tahun. Mekanisme ini memangkas imbalan blok yang diterima miner menjadi setengah sehingga laju penerbitan Bitcoin baru berkurang.
Halving terbaru berlangsung pada 19 April 2024 dan menurunkan block reward dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC.

Sumber AI Generated Image
Secara teori, pengurangan suplai baru dapat mendukung kenaikan harga apabila permintaan tetap atau meningkat. Miner memiliki lebih sedikit BTC baru untuk dijual, sedangkan investor bersaing memperoleh aset dengan tingkat penerbitan yang semakin rendah.
Namun, halving tidak menciptakan permintaan secara otomatis. Harga tetap bergantung pada arus modal, kondisi ekonomi global, regulasi, penggunaan leverage, sentimen investor, dan ketersediaan likuiditas.
Baca juga : Analisis Bitcoin Glassnode: Titik Terendah Mulai Terlihat, Bull Market Belum Tiba
Bagaimana Pola Bitcoin Halving Cycle Terbentuk?
Tiga halving pertama diikuti kenaikan harga yang signifikan dalam 12 bulan berikutnya. Kenaikan setelah halving 2012 tercatat jauh lebih besar dibandingkan siklus berikutnya, sedangkan return setelah halving 2016 dan 2020 menunjukkan kecenderungan menurun seiring membesarnya kapitalisasi pasar Bitcoin.
Pola historis tersebut mendukung gagasan bahwa Bitcoin memiliki siklus pasar yang berulang.
Namun, jumlah sampelnya sangat terbatas. Bitcoin baru menjalani empat peristiwa halving, sehingga kesimpulan statistik mengenai pola empat tahunan masih harus diperlakukan secara hati-hati.
Siklus juga tidak hanya dibentuk oleh halving. Setiap periode memiliki pendorong yang berbeda:
- Siklus awal didominasi investor ritel dan adopsi bursa kripto.
- Siklus 2017 didukung ledakan initial coin offering.
- Siklus 2020–2021 berlangsung bersamaan dengan stimulus moneter dan suku bunga rendah.
- Siklus setelah 2024 dipengaruhi spot Bitcoin ETF, perusahaan treasury, pasar derivatif institusional, dan kebijakan likuiditas global.
Perubahan ini membuat pola waktu dapat tetap terlihat, tetapi ukuran kenaikan, kedalaman koreksi, dan durasi setiap fase tidak harus sama.
Baca juga : Target Bitcoin $150K Bernstein Tetap Meski Pullback 54%
Apakah Siklus 4 Tahunan Bitcoin Masih Berlaku?
Sejumlah pergerakan pasar terbaru masih menyerupai pola lama. Bitcoin mencapai rekor sekitar US$126.100 pada Oktober 2025, kemudian mengalami penurunan lebih dari 50% dari puncaknya. Pada pertengahan Juli 2026, BTC diperdagangkan di sekitar US$64.000.
Secara kronologis, pola tersebut masih dapat dibaca sebagai:
- Halving pada April 2024.
- Ekspansi harga setelah halving.
- Puncak pasar pada paruh kedua 2025.
- Koreksi besar pada 2026.
- Pengujian area dasar jangka panjang.
Urutan itu serupa dengan siklus sebelumnya. Perbedaannya terletak pada struktur pasar, kedalaman koreksi, dan pengaruh investor institusional.
Koreksi sekitar 50% memang besar, tetapi masih lebih rendah dibandingkan penurunan 60% hingga lebih dari 70% yang pernah terjadi dalam beberapa bear market sebelumnya.
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kehadiran permintaan institusional melalui ETF, meskipun arus dana tersebut juga dapat berbalik menjadi tekanan jual ketika terjadi redemption.
Jadi, siklus empat tahunan belum dapat dinyatakan hilang. Kesimpulan yang lebih tepat adalah bahwa pola tersebut masih terlihat, tetapi pengaruhnya kini bercampur dengan faktor lain yang semakin dominan.
Baca juga : Apakah Ethereum Bisa Kalahkan Bitcoin di Q3 2026?
Apa Itu 200-Week Moving Average Bitcoin?
200-week moving average Bitcoin adalah rata-rata harga penutupan mingguan BTC selama 200 minggu terakhir. Karena 200 minggu mendekati empat tahun, indikator ini mencakup hampir satu siklus halving penuh.
Rumus sederhananya adalah:
200-week MA = total harga penutupan 200 minggu terakhir ÷ 200
Indikator ini bergerak lebih lambat daripada moving average jangka pendek. Tujuannya bukan memprediksi perubahan harga harian, tetapi membantu investor melihat arah tren struktural dengan mengurangi gangguan dari volatilitas jangka pendek.
Ketika harga berada jauh di atas 200-week MA, pasar umumnya berada dalam tren jangka panjang yang kuat. Ketika harga mendekati indikator tersebut, investor mulai menilai apakah area itu akan menjadi support.
Jika harga menembus ke bawah, 200-week MA dapat berubah menjadi resistance. Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata pembeli selama hampir empat tahun terakhir menghadapi tekanan lebih besar.
Baca juga : Strategy Jual 3.588 Bitcoin Senilai $216 Juta: Model Treasury Saylor Terancam?
Mengapa 200-Week MA Penting bagi Bitcoin Market Cycle?
200-week MA memiliki reputasi sebagai salah satu indikator dasar pasar Bitcoin. Pada bear market 2015 dan 2018–2019, harga bertahan atau membentuk dasar di sekitar indikator tersebut. Bitcoin juga sempat menembusnya ketika kepanikan pasar global terjadi pada Maret 2020.
Pada Juni 2022, Bitcoin kembali turun di bawah 200-week MA. Harga kemudian membutuhkan waktu panjang sebelum mampu merebut kembali indikator tersebut secara lebih meyakinkan pada Oktober 2023.
Pola historisnya bukan berarti harga selalu langsung memantul. Dalam beberapa kasus, Bitcoin dapat:
- Diperdagangkan di bawah indikator selama beberapa minggu.
- Menguji kembali 200-week MA sebagai resistance.
- Bergerak sideways dalam fase akumulasi panjang.
- Mengalami false breakout sebelum arah trend terbentuk.
- Turun menuju indikator on-chain lain apabila support gagal.
Rekam jejak 200-week MA terlihat kuat, tetapi hanya didasarkan pada beberapa siklus. Indikator tersebut sebaiknya dipakai sebagai area analisis, bukan angka ajaib yang selalu menandai harga terendah.

Konversi 1 BTC menjadi IDR - Kurs Bitcoin ke Rupiah
Apa Arti Bitcoin Turun di Bawah 200-Week MA?
Bitcoin mencatat penutupan di bawah 200-week MA pada Juni 2026, pertama kali sejak bear market sebelumnya. Nilai indikator tersebut berada di kisaran US$59.000–US$61.000 dan terus bergerak naik seiring masuknya data harga mingguan baru.
Penembusan ini menghasilkan dua interpretasi utama.
Skenario Pertama: Harga Sedang Membentuk Dasar
Dalam skenario bullish, penurunan di bawah 200-week MA merupakan capitulation atau fase ketika tekanan jual mulai mencapai titik jenuh.
Jika BTC kembali ditutup di atas indikator dan mempertahankannya selama beberapa minggu, pasar dapat membaca pergerakan tersebut sebagai reclaim. Reclaim yang disertai peningkatan volume dan arus dana masuk akan memperkuat dugaan bahwa dasar siklus sedang terbentuk.
Skenario Kedua: Bear Market Belum Selesai
Dalam skenario bearish, kenaikan kembali ke atas 200-week MA hanya menjadi relief rally. Harga dapat kembali ditolak dan turun menuju support yang lebih rendah.
Satu kali penutupan di bawah indikator belum cukup untuk membuktikan pola ini. Namun, kegagalan berulang merebut kembali area US$59.000–US$61.000 dapat menunjukkan bahwa tekanan jual belum benar-benar berakhir.
Pada 2022, Bitcoin mencatat puluhan penutupan mingguan di bawah indikator tersebut. Kondisi 2026 sejauh ini belum berlangsung selama itu sehingga sampel pergerakannya masih terlalu pendek untuk menghasilkan kesimpulan pasti.
Baca juga : Amerika Bitcoin Kuasai BTC Global, Apa Dampaknya bagi Pasar Kripto?
Apakah Bull Run Bitcoin Masih Mengikuti Halving?
Halving tetap relevan karena secara langsung mengurangi penerbitan BTC baru. Setelah halving 2024, produksi teoritis turun dari sekitar 900 BTC menjadi sekitar 450 BTC per hari sebelum memperhitungkan variasi waktu blok.
Namun, pengaruh perubahan suplai tersebut semakin kecil dibandingkan ukuran pasar Bitcoin secara keseluruhan. Volume transaksi ETF, perusahaan treasury, whale, dan pasar derivatif dapat jauh lebih besar daripada suplai harian miner.
Bull run berikutnya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh hitungan bulan setelah halving. Faktor yang berpotensi lebih dominan antara lain:
- Arus masuk dan keluar spot Bitcoin ETF.
- Kebijakan suku bunga bank sentral.
- Pertumbuhan atau penyusutan likuiditas global.
- Kekuatan dolar Amerika Serikat.
- Permintaan perusahaan terhadap Bitcoin reserve.
- Kondisi pasar saham dan aset berisiko.
- Penjualan miner.
- Likuidasi posisi leverage.
- Regulasi aset digital.
Halving masih berfungsi sebagai fondasi suplai. Akan tetapi, waktu munculnya bull run lebih banyak ditentukan oleh interaksi suplai tersebut dengan permintaan dan likuiditas.
Yuk mulai invest dan trading Bittime, Register di Bittime dengan proses yang cepat, aman, dan mudah.
Apakah 200-Week MA Menandakan Bull Run Baru?
Belum tentu. 200-week MA lebih cocok digunakan untuk menilai struktur dasar pasar daripada memprediksi dimulainya bull run secara langsung.
Bull run baru membutuhkan beberapa bentuk konfirmasi:
1. Weekly Close Bertahan di Atas 200-Week MA
Harga sebaiknya tidak hanya menembus indikator dalam satu minggu. Bitcoin perlu mempertahankan area tersebut sebagai support dalam beberapa penutupan mingguan berikutnya.
2. Terbentuk Higher Low
Setelah rebound, koreksi berikutnya perlu berhenti di atas titik terendah sebelumnya. Struktur higher low menunjukkan bahwa pembeli mulai bersedia masuk pada harga yang lebih tinggi.
3. ETF Kembali Mencatat Arus Masuk Konsisten
Arus masuk ETF dapat menunjukkan bahwa investor institusional kembali menyerap suplai. Sebaliknya, arus keluar berkelanjutan dapat melemahkan sinyal teknikal positif.
4. Harga Kembali di Atas Cost Basis Holder Jangka Pendek
Cost basis holder jangka pendek berada di sekitar US$69.000 pada pertengahan Juli 2026. Selama harga berada di bawah area tersebut, banyak pembeli baru masih mengalami kerugian belum terealisasi dan dapat menjadi sumber tekanan jual.
5. Likuiditas dan Volume Membaik
Kenaikan tanpa volume yang memadai lebih mudah mengalami pembalikan. Bull run yang sehat biasanya disertai peningkatan volume spot, kedalaman order book, dan permintaan yang tidak hanya berasal dari leverage.
Baca juga : Bitcoin di Bulan Juli: Secara Historis Sering Naik, Tapi Kali Ini Ada yg Beda
Apa yang Terjadi Jika 200-Week MA Gagal Dipertahankan?
Apabila Bitcoin kembali jatuh di bawah 200-week MA, investor dapat mengamati aggregate realized price. Indikator ini menggambarkan rata-rata harga ketika setiap BTC terakhir berpindah tangan.
Aggregate realized price berada di sekitar US$54.000–US$54.900. Di bawahnya, terdapat realized price holder jangka panjang di sekitar US$49.700 yang dapat menjadi referensi support lebih dalam.
Level tersebut bukan target harga yang pasti. Investor sebaiknya memperlakukannya sebagai zona analisis.
Penurunan menuju area realized price dapat menunjukkan bahwa sebagian besar pemegang mulai mengalami kerugian belum terealisasi. Kondisi seperti ini pernah muncul di sekitar dasar bear market, tetapi pasar tetap dapat bertahan dalam fase lemah untuk waktu yang lama.
Baca juga : J.D. Vance Wakil Presiden AS Ternyata Pegang Bitcoin Rp4 Miliar
Apakah Siklus Bitcoin Dapat Berubah Permanen?
Ya, karakter siklus dapat berubah seiring berkembangnya pasar.
Spot Bitcoin ETF membuat investor memperoleh eksposur tanpa menyimpan BTC secara langsung. Pasar futures dan options memungkinkan institusi melakukan hedging. Perusahaan publik juga mulai menggunakan Bitcoin dalam strategi treasury.
Perkembangan tersebut meningkatkan likuiditas dan akses pasar, tetapi juga memperkuat hubungan Bitcoin dengan sistem keuangan tradisional. Perubahan suku bunga, obligasi, dolar, dan sentimen pasar saham kini dapat memengaruhi BTC lebih cepat dibandingkan siklus awal.
Dampaknya dapat berupa:
- Siklus menjadi lebih panjang atau lebih pendek.
- Koreksi menjadi lebih dangkal tetapi lebih sering.
- Puncak harga terbentuk sebelum atau sesudah jadwal historis.
- Halving memiliki dampak marginal yang lebih kecil.
- Faktor makro menjadi lebih dominan.
- Harga bergerak dalam rentang panjang sebelum tren baru muncul.
Perubahan pola tidak berarti halving kehilangan fungsi. Suplai Bitcoin tetap mengikuti aturan protokol. Hal yang dapat berubah adalah respons pasar terhadap pengurangan suplai tersebut.
Strategi Menghadapi Bitcoin Market Cycle
Investor sebaiknya tidak membuat keputusan hanya berdasarkan keyakinan bahwa Bitcoin pasti naik setiap empat tahun.
Beberapa pendekatan yang lebih terukur meliputi:
- Gunakan 200-week MA sebagai zona, bukan harga tunggal.
- Pantau penutupan mingguan, bukan hanya pergerakan intraday.
- Bandingkan harga dengan realized price dan cost basis holder.
- Periksa arus dana ETF serta volume pasar spot.
- Hindari leverage berlebihan ketika volatilitas meningkat.
- Tentukan batas risiko sebelum membeli.
- Gunakan pembelian bertahap apabila tesis investasinya bersifat jangka panjang.
- Evaluasi kembali tesis ketika struktur pasar berubah.
Baca juga : Strategic Bitcoin Reserve AS Terhambat, Ada Apa?
Kesimpulan
Bitcoin 4 year cycle masih menunjukkan relevansi karena pergerakan setelah halving 2024 tetap menyerupai urutan historis: ekspansi, puncak, koreksi, dan pengujian support jangka panjang.
Namun, siklus tersebut bukan hukum pasar. Kehadiran ETF, investor institusional, perusahaan treasury, pasar derivatif, dan faktor makro membuat pergerakan Bitcoin semakin kompleks.
Penutupan di bawah 200-week MA pada Juni 2026 menjadi sinyal peringatan, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa struktur jangka panjang telah rusak. Konfirmasi berikutnya bergantung pada kemampuan Bitcoin mempertahankan kembali indikator tersebut sebagai support.
Jika harga mampu bertahan di atas 200-week MA, membentuk higher low, dan mendapat dukungan arus masuk ETF, peluang pembentukan dasar akan menguat. Jika gagal, zona realized price sekitar US$54.000 dapat menjadi area perhatian berikutnya.
Investor tidak perlu memilih antara “siklus masih berlaku” atau “siklus sudah berakhir” secara mutlak.
Pendekatan yang lebih rasional adalah menganggap siklus sebagai kerangka probabilitas, lalu mengkonfirmasinya menggunakan data harga, on-chain, arus dana, dan kondisi ekonomi.
Bitcoin sudah tersedia dan siap diperdagangkan di Bittime dengan pair BTC/USDT, selain itu ada juga aset lain di jaringan BRC20 Bitcoin, seperti SATS dan ORDI.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apakah siklus empat tahunan Bitcoin masih berlaku?
Pola tersebut masih terlihat, tetapi tidak menjamin harga bergerak dengan waktu dan persentase yang sama. ETF, likuiditas global, dan investor institusional kini memiliki pengaruh lebih besar.
Apa itu 200-week moving average Bitcoin?
200-week MA adalah rata-rata harga penutupan mingguan Bitcoin selama 200 minggu terakhir. Indikator ini digunakan untuk membaca tren jangka panjang dan area support atau resistance utama.
Apakah harga di bawah 200-week MA berarti Bitcoin bearish?
Penembusan ke bawah menunjukkan tekanan terhadap tren jangka panjang, tetapi belum selalu mengonfirmasi bear market. Durasi penembusan dan kemampuan harga melakukan reclaim lebih penting daripada satu pergerakan singkat.
Apakah bull run Bitcoin selalu terjadi setelah halving?
Secara historis, halving diikuti kenaikan besar, tetapi jumlah sampelnya terbatas. Bull run tetap membutuhkan permintaan, likuiditas, dan kondisi pasar yang mendukung.
Indikator apa yang perlu dipantau selain 200-week MA?
Investor dapat memantau realized price, cost basis holder jangka pendek, arus dana ETF, volume spot, open interest, funding rate, dan kondisi likuiditas global.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



