Tiket Piala Dunia 2026 Harus Beli NFT Dulu?
2026-06-12
Perburuan tiket Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu yang paling kompetitif dalam sejarah sepak bola. Namun kali ini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada harga tiket atau kapasitas stadion.
Sistem NFT Right-To-Buy yang diperkenalkan melalui ekosistem digital FIFA membuka babak baru dalam distribusi tiket olahraga global dan memunculkan perdebatan di kalangan penggemar.
Bagi sebagian orang, teknologi blockchain menawarkan solusi terhadap praktik calo yang selama ini merugikan suporter. Namun bagi sebagian lainnya, mekanisme baru tersebut dianggap menambah hambatan sebelum seseorang benar-benar dapat membeli tiket pertandingan.
Key Takeaways
- FIFA menguji sistem NFT Right-To-Buy (RTB) sebagai akses prioritas pembelian tiket.
- NFT tidak otomatis menjadi tiket masuk stadion, melainkan hak untuk membeli tiket.
- Sistem ini memicu perdebatan karena menambah biaya dan tahapan bagi penggemar.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Apa Itu NFT Right-To-Buy dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Berdasarkan informasi yang dilaporkan Crypto Briefing, FIFA memanfaatkan platform koleksi digital FIFA Collect untuk menghadirkan sistem Right-To-Buy (RTB).
Mekanisme ini relatif sederhana. Penggemar terlebih dahulu membeli NFT tertentu yang memberikan hak eksklusif untuk mengikuti proses pembelian tiket pertandingan.
Alur prosesnya meliputi:
- Membeli NFT RTB
- Mendapat hak akses pembelian
- Mengikuti proses penjualan tiket resmi
- Membeli tiket jika memenuhi persyaratan dan kuota tersedia
Hal penting yang perlu dipahami adalah NFT tersebut bukan tiket pertandingan.
Pemegang NFT hanya memperoleh kesempatan atau prioritas untuk membeli tiket resmi yang akan diterbitkan FIFA. Karena itu, kepemilikan NFT tidak menjamin seseorang pasti mendapatkan kursi di stadion.
Konsep ini menjadi salah satu eksperimen terbesar penggunaan blockchain dalam industri olahraga global dan dapat menjadi model baru untuk distribusi tiket acara berskala internasional.

Baca Juga: Apa Itu NFT? Cara Mudah Memahami, Membuat, dan Menjualnya
Mengapa Menggunakan NFT untuk Penjualan Tiket?
Salah satu alasan utama munculnya sistem ini adalah masalah distribusi tiket yang terus berulang dalam berbagai turnamen besar.
Penjualan tiket Piala Dunia selama ini sering diwarnai oleh:
- Aktivitas bot otomatis
- Pembelian massal oleh calo
- Resale tiket World Cup dengan harga berlipat
- Identitas pembeli yang sulit diverifikasi
Dengan blockchain, FIFA berupaya menciptakan proses yang lebih transparan dan mudah dilacak.
Setiap NFT memiliki identitas digital yang dapat diverifikasi sehingga peluang penyalahgunaan sistem diharapkan menjadi lebih kecil.
Selain itu, NFT juga dapat berfungsi sebagai koleksi digital resmi yang memiliki nilai tersendiri bagi penggemar sepak bola.
Beberapa analis industri blockchain menilai penggunaan NFT dalam konteks ini merupakan contoh pemanfaatan aset digital yang lebih praktis dibanding sekadar koleksi spekulatif yang sempat populer beberapa tahun lalu.
Pantau perkembangan harga aset RWA terkemuka seperti ONDO, LINK, dan HBAR, sebelum trading di Bittime.
Mengapa Sistem Ini Menjadi Kontroversi?
Meski membawa inovasi, sistem RTB NFT Piala Dunia juga memunculkan kritik dari sebagian komunitas penggemar.
Keluhan terbesar berkaitan dengan biaya tambahan yang harus dikeluarkan sebelum seseorang memperoleh kesempatan membeli tiket.
Dalam praktiknya, calon pembeli harus membeli NFT terlebih dahulu. Situasi tersebut membuat sebagian pihak menilai proses mendapatkan tiket menjadi lebih rumit dibanding metode konvensional.
Baca Juga: 7 Token Kripto Layak Dipantau Bertema Piala Dunia 2026 - Melihat Peluang Tersembunyi
Selain itu, NFT tidak menjamin tiket.
Seorang penggemar dapat memiliki NFT tetapi tetap gagal mendapatkan tiket jika kuota telah habis atau tidak lolos proses alokasi.
Faktor lain yang memicu perdebatan adalah aspek aksesibilitas. Tidak semua penggemar sepak bola memahami blockchain, dompet digital, atau teknologi NFT.
Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa sebagian suporter tradisional akan menghadapi kurva pembelajaran baru hanya untuk mengikuti proses pembelian tiket.
Meski demikian, pendukung sistem ini berpendapat bahwa manfaat jangka panjang berupa pengurangan calo dan peningkatan transparansi dapat mengimbangi tantangan tersebut.
Baca Juga: Avalanche Jadi Tulang Punggung Blockchain di Piala Dunia
Kesimpulan
Sistem NFT Right-To-Buy yang diperkenalkan FIFA menunjukkan bagaimana teknologi blockchain mulai digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata dalam distribusi tiket acara global.
Di satu sisi, pendekatan ini menawarkan peluang untuk mengurangi aktivitas calo, meningkatkan transparansi, dan memberikan pengalaman digital baru kepada penggemar. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai biaya tambahan, kompleksitas proses, dan kepastian memperoleh tiket.
Ingin memanfaatkan tren fan token menjelang Piala Dunia 2026? Pantau pergerakan harga Chiliz (CHZ) dan Avalanche (AVAX), lalu mulai trading dengan mudah di Bittime.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apa itu NFT Right-To-Buy FIFA?
NFT Right-To-Buy adalah aset digital yang memberikan hak atau akses prioritas untuk membeli tiket pertandingan tertentu.
Apakah NFT FIFA otomatis menjadi tiket masuk stadion?
Tidak. NFT hanya memberikan hak membeli tiket dan bukan tiket pertandingan itu sendiri.
Mengapa FIFA menggunakan NFT untuk penjualan tiket?
FIFA ingin meningkatkan transparansi distribusi tiket dan mengurangi aktivitas calo serta bot otomatis.
Apakah pemilik NFT pasti mendapatkan tiket?
Tidak. Kepemilikan NFT tidak menjamin tiket karena masih bergantung pada ketersediaan kuota dan aturan penjualan.
Apa itu FIFA Collect?
FIFA Collect adalah platform koleksi digital resmi FIFA yang memanfaatkan teknologi blockchain.
Mengapa sistem ini menuai kontroversi?
Karena penggemar harus membeli NFT terlebih dahulu sebelum memperoleh kesempatan membeli tiket resmi pertandingan.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



