Polymarket Diblokir Korea Selatan karena Judi Ilegal, Apa yang Terjadi?
2026-08-19
Polymarket diblokir di Korea Selatan setelah regulator menyimpulkan bahwa platform prediction market tersebut memfasilitasi aktivitas perjudian ilegal. Keputusan ini menambah daftar negara yang membatasi akses ke Polymarket karena persoalan hukum seputar prediction market.
Pada 18 Agustus 2026, Korea Media and Communications Standards Commission (KCSC) menyetujui pemblokiran akses domestik ke Polymarket. Regulator menilai mekanisme platform dapat masuk dalam kategori perjudian berdasarkan Criminal Act Korea Selatan dan ketentuan National Sports Promotion Act.
Keputusan tersebut menarik perhatian karena Polymarket tidak memosisikan dirinya sebagai situs judi konvensional.
Platform ini merupakan prediction market yang memungkinkan pengguna memperdagangkan kontrak berdasarkan kemungkinan suatu peristiwa terjadi, mulai dari pemilu, olahraga, kebijakan ekonomi, hingga cuaca.
Bagi industri crypto, kasus ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi blockchain dan struktur peer-to-peer tidak otomatis membuat suatu platform berada di luar hukum nasional.
Key Takeaways
- Polymarket Korea Selatan diblokir setelah regulator menilai prediction market-nya memfasilitasi perjudian yang dilarang berdasarkan hukum setempat.
- Polymarket berargumen bahwa mereka tidak menggunakan won Korea, telah menghapus layanan berbahasa Korea, serta menggunakan mekanisme non-custodial.
- Kasus ini menunjukkan bahwa prediction market crypto menghadapi tantangan regulasi berbeda di setiap negara, terutama ketika kontrak berbasis peristiwa dianggap memiliki karakteristik taruhan.
Mengapa Polymarket Diblokir di Korea Selatan?
Keputusan Korea blokir Polymarket berasal dari penilaian regulator bahwa aktivitas di platform tersebut dapat memenuhi unsur perjudian.
Polymarket memungkinkan pengguna membeli kontrak “Yes” atau “No” yang nilainya bergantung pada hasil sebuah peristiwa. Jika hasil sesuai dengan posisi pengguna, kontrak dapat memberikan pembayaran; jika tidak, pengguna dapat kehilangan dana yang dipertaruhkan.
KCSC menilai struktur winner-take-all tersebut membuat keuntungan atau kerugian pengguna bergantung pada peristiwa yang tidak dapat mereka kendalikan, seperti politik, ekonomi, olahraga, hubungan internasional, dan cuaca.
Regulator juga menyoroti keberadaan market yang berkaitan langsung dengan Korea Selatan, termasuk pertanyaan mengenai curah hujan di Seoul pada Agustus.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya apakah Polymarket menyebut produknya sebagai prediction market, melainkan bagaimana mekanisme tersebut diperlakukan berdasarkan hukum Korea Selatan.
Baca Juga: Polymarket vs Kalshi: Perbandingan Platform Prediction Market Kripto
Apa Itu Prediction Market dan Mengapa Diperdebatkan?
Prediction market crypto adalah platform tempat pengguna memperdagangkan kontrak yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya suatu peristiwa.
Misalnya, sebuah kontrak dapat menanyakan apakah bank sentral akan menaikkan suku bunga sebelum tanggal tertentu. Jika harga kontrak “Yes” berada di US$0,40, pasar secara sederhana dapat dibaca mengindikasikan probabilitas sekitar 40%, meskipun harga tersebut bukan jaminan probabilitas objektif.
Model ini membuat prediction market memiliki dua karakter sekaligus. Di satu sisi, harga dapat digunakan sebagai sinyal tentang ekspektasi pasar. Di sisi lain, pengguna memasukkan modal dan mendapatkan atau kehilangan uang berdasarkan hasil suatu peristiwa.
Perbedaan interpretasi inilah yang membuat Polymarket ilegal atau legalitas prediction market tidak dapat disimpulkan secara universal.
Korea Selatan mengambil pendekatan yang lebih ketat. Sementara itu, sejumlah yurisdiksi lain menggunakan kerangka keuangan atau derivatif untuk menilai prediction market.
Bahkan di Korea sendiri, diskusi mengenai prediction market sebelumnya telah menunjukkan perbedaan pandangan antara fungsi pasar informasi dan karakteristik taruhan.
Apa Alasan Polymarket Menolak Tuduhan Judi?
Dalam proses pemeriksaan, Polymarket menyampaikan beberapa argumen untuk menjelaskan mengapa platform tersebut menurut mereka tidak termasuk dalam kategori perjudian Korea Selatan.
Polymarket disebut telah menghapus layanan berbahasa Korea dan tidak menerima pembayaran dalam won Korea. Platform juga menggunakan transaksi peer-to-peer dan smart contract non-custodial sehingga tidak secara langsung menyimpan dana pengguna seperti operator perjudian tradisional.
Argumen lainnya adalah Polymarket tidak menerbitkan tiket taruhan olahraga atau secara langsung bertindak sebagai pihak yang menerima taruhan.
Namun, regulator tidak menerima argumentasi tersebut.
KCSC menilai operator tetap memiliki peran substantif karena membuat dan mengatur market, menentukan aturan perdagangan, menyediakan infrastruktur deposit, withdrawal, dan settlement, serta mengenakan biaya kepada pengguna.
Artinya, desain blockchain dianggap tidak cukup untuk memisahkan tanggung jawab platform dari aktivitas yang berlangsung di dalamnya.
Baca Juga: Kenapa Nama Presiden Prabowo Muncul di Polymarket?
Korea Selatan Sebelumnya Sudah Menyelidiki Polymarket
Pemblokiran pada Agustus bukanlah langkah yang muncul secara tiba-tiba.
Pada Juli 2026, otoritas Korea Selatan telah memulai peninjauan terhadap Polymarket untuk menentukan apakah layanan tersebut melanggar aturan perjudian. Pada periode yang sama, polisi juga menyelidiki sejumlah pengguna lokal yang diduga terlibat dalam perjudian melalui platform tersebut.
Proses pemeriksaan memberikan kesempatan kepada Polymarket untuk memberikan penjelasan mengenai model bisnisnya sebelum regulator mengambil keputusan.
Akhirnya, KCSC berkoordinasi dengan National Police Agency, National Gambling Control Commission, dan Korea Sports Promotion Foundation sebelum memutuskan pemblokiran akses domestik.
Apakah Polymarket Benar-Benar Diblokir di Korea Selatan?
Ya. Keputusan KCSC mengarahkan penyedia layanan internet di Korea Selatan untuk memblokir akses ke Polymarket.
Namun, pemblokiran akses internet tidak sama dengan menghapus keberadaan platform secara global. Polymarket tetap beroperasi di negara dan wilayah lain yang mengizinkan layanannya, sementara pembatasan dapat berbeda berdasarkan yurisdiksi.
CoinDesk melaporkan bahwa lebih dari 30 yurisdiksi telah membatasi akses ke Polymarket, termasuk Prancis dan Spanyol. Polymarket sendiri mencantumkan sejumlah negara yang dibatasi dari platform.
Bagi perusahaan berbasis blockchain, kondisi tersebut menunjukkan tantangan utama model global: satu smart contract atau platform dapat diakses secara teknis dari berbagai lokasi, tetapi legalitas penggunaannya tetap ditentukan oleh hukum lokal.
Baca Juga: Kegaduhan di Polymarket, Ramai Bahas Prabowo Out as President, Netizen Heboh!
Apa Dampaknya bagi Industri Prediction Market Crypto?
Kasus Polymarket diblokir dapat menjadi preseden bagi platform prediction market lainnya.
Jika regulator di berbagai negara menilai kontrak berbasis peristiwa sebagai bentuk taruhan, platform lain dapat menghadapi pemeriksaan serupa. Risiko tersebut terutama meningkat ketika market berkaitan dengan olahraga, politik, atau peristiwa yang dalam hukum setempat sudah memiliki aturan perjudian khusus.
Di sisi lain, prediction market memiliki argumen ekonomi tersendiri. Pendukungnya melihat harga kontrak sebagai agregasi informasi dari banyak peserta. Pasar semacam ini dapat memberikan indikator real-time mengenai ekspektasi terhadap peristiwa politik dan ekonomi.
Persoalannya adalah menentukan batas antara “pasar informasi” dan “taruhan”. Korea Selatan melalui keputusan terbaru ini terlihat lebih menekankan struktur insentif dan hasil finansial yang bergantung pada peristiwa.
Bagaimana Prospek Regulasi Polymarket?
Regulasi Polymarket kemungkinan akan tetap menjadi topik penting karena platform prediction market terus berkembang dan menarik modal lebih besar.
Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang mempertanyakan klasifikasi layanan tersebut. Perbedaan antara pendekatan regulator juga memperlihatkan belum adanya standar global yang seragam mengenai prediction market.
Bagi Polymarket, ekspansi ke pasar baru kemungkinan akan membutuhkan penyesuaian geografis, pembatasan pengguna, kepatuhan lokal, dan evaluasi terhadap jenis kontrak yang ditawarkan.
Bagi investor atau pengguna crypto, status hukum harus diperiksa berdasarkan negara tempat mereka berada. Fakta bahwa sebuah platform berbasis blockchain atau tidak menyimpan dana pengguna secara langsung tidak otomatis berarti penggunaannya diperbolehkan.
Baca Juga: Peluang Merger Tesla dan SpaceX Naik di Polymarket, Bakal Terjadi?
Apakah Pemblokiran Korea Selatan Bisa Mempengaruhi Polymarket?
Dampak langsung terhadap operasi global Polymarket kemungkinan terbatas karena Korea Selatan hanya merupakan salah satu dari banyak yurisdiksi yang menerapkan pembatasan. Namun, dampak reputasi dan regulasi dapat lebih signifikan.
Semakin banyak negara memperlakukan prediction market sebagai perjudian, semakin besar biaya kepatuhan bagi Polymarket dan platform sejenis. Mereka harus mengembangkan sistem geo-blocking, kebijakan pengguna, dan mekanisme kontrol yang lebih kompleks.
Sebaliknya, jika sebagian yurisdiksi mengembangkan kerangka hukum yang mengakui prediction market sebagai produk finansial atau pasar informasi, industri ini dapat berkembang dengan model regulasi yang berbeda-beda.
Kesimpulan
Polymarket Korea Selatan diblokir bukan semata-mata karena menggunakan cryptocurrency, tetapi karena regulator menilai mekanisme prediction market-nya memenuhi karakteristik aktivitas perjudian berdasarkan hukum Korea Selatan.
Polymarket telah berargumen bahwa layanan tersebut bersifat non-custodial dan tidak secara langsung beroperasi sebagai operator taruhan.
Namun, regulator menilai peran platform dalam membuat market, menetapkan aturan, menyediakan settlement, serta memfasilitasi perdagangan tetap membuatnya bertanggung jawab atas aktivitas tersebut.
Kasus ini menjadi perkembangan penting bagi berita Polymarket terbaru sekaligus gambaran mengenai tantangan regulasi prediction market crypto.
Ke depan, pertanyaan terbesarnya bukan hanya apakah prediction market dapat memberikan informasi yang berguna, tetapi bagaimana masing-masing negara menentukan batas antara perdagangan kontrak dan perjudian.
Yuk mulai trading crypto dari aset terbesar seperti BTC/IDR dan ETH/IDR langsung di aplikasi Bittime.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Mengapa Polymarket diblokir Korea Selatan?
Polymarket diblokir karena KCSC menilai platform tersebut memfasilitasi perjudian yang bertentangan dengan Criminal Act dan ketentuan terkait National Sports Promotion Act Korea Selatan.
Apakah Polymarket dianggap ilegal di seluruh dunia?
Tidak. Legalitas dan akses Polymarket berbeda berdasarkan yurisdiksi. Lebih dari 30 wilayah telah membatasi aksesnya, tetapi platform tetap tersedia di sejumlah pasar lain.
Apa itu prediction market crypto?
Prediction market crypto adalah platform yang memungkinkan pengguna memperdagangkan kontrak berdasarkan kemungkinan terjadinya suatu peristiwa, seperti pemilu, olahraga, kebijakan ekonomi, atau cuaca.
Apakah Polymarket termasuk perjudian?
Klasifikasinya bergantung pada hukum masing-masing negara. Korea Selatan kini menganggap operasional Polymarket sebagai aktivitas yang memfasilitasi perjudian berdasarkan aturan domestiknya.
Apa alasan Polymarket mengatakan layanannya bukan judi?
Polymarket menyatakan telah menghapus layanan berbahasa Korea, tidak menerima won Korea, dan menggunakan transaksi non-custodial berbasis smart contract. Regulator Korea Selatan menilai karakter teknis tersebut tidak menghilangkan peran platform dalam mengelola market dan menyediakan infrastruktur perdagangan.
Apakah pemblokiran Korea Selatan memengaruhi pengguna Polymarket di Indonesia?
Pemblokiran Korea Selatan tidak secara otomatis berlaku di Indonesia. Namun, status hukum dan akses Polymarket di Indonesia perlu dilihat berdasarkan regulasi dan kebijakan otoritas Indonesia yang berlaku.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



