Perpetual Futures vs Futures Biasa: Apa Bedanya dan Mana yang Cocok buat Trader?

2026-09-02

Perpetual Futures vs Futures Biasa Apa Bedanya dan Mana yang Cocok buat Trader.png

Akhir Mei 2026, Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat untuk pertama kalinya merestui kontrak Bitcoin perpetual futures diperdagangkan di bursa derivatif teregulasi negara tersebut. 

Keputusan ini jadi titik balik penting, sebab instrumen yang selama ini identik dengan bursa kripto luar negeri kini mulai diakui dalam kerangka regulasi resmi. Momentum ini jadi alasan tepat untuk memahami lebih dalam perbedaan perpetual futures dan futures biasa, dua instrumen derivatif yang sekilas mirip tapi cara kerjanya jauh berbeda.

Urgensinya juga terlihat dari data. Volume perdagangan perpetual futures global menembus 61,8 triliun dolar AS sepanjang 2025, setara sekitar 78 persen dari total volume trading kripto, menurut catatan CryptoQuant yang dikutip Sei Network

Sebaliknya, futures dengan tanggal jatuh tempo tetap kini tinggal kurang dari 5 persen volume Bitcoin, jauh menurun dari 40 persen di awal 2020. Artikel ini membahas tuntas perbedaan keduanya, mulai dari mekanisme harga, biaya, sampai instrumen mana yang paling pas dengan gaya trading kamu.

Key Takeaways

  • Perpetual futures tidak punya tanggal kedaluwarsa dan mengandalkan funding rate untuk menjaga harga tetap dekat dengan spot, sementara futures biasa punya tanggal jatuh tempo tetap dan konvergen ke harga spot saat itu.
  • Perpetual futures mendominasi volume trading kripto global dengan pangsa 78 persen, tapi futures biasa tetap unggul untuk kebutuhan institusional yang mengutamakan kepastian regulasi dan biaya tetap.
  • CFTC baru merestui kontrak perpetual futures Bitcoin pertama di bursa teregulasi AS pada Mei 2026, menandai babak baru derivatif kripto yang mulai masuk ke jalur onshore.

Apa Itu Perpetual Futures dan Futures Biasa?

Futures biasa, atau kontrak berjangka tradisional, adalah perjanjian antara dua pihak untuk membeli atau menjual aset pada harga dan waktu tertentu di masa depan. 

Kontrak ini punya tanggal kedaluwarsa pasti, biasanya bulanan atau kuartalan, dan bisa diselesaikan secara fisik maupun tunai, menurut penjelasan Coinbase International Exchange. Begitu jatuh tempo, harga kontrak otomatis konvergen dengan harga spot lewat mekanisme yang disebut basis convergence.

Perpetual futures jalan dengan logika berbeda. Kontrak ini tidak pernah kedaluwarsa, sehingga posisi bisa ditahan tanpa batas waktu selama margin masih mencukupi. 

Supaya harga tetap dekat dengan pasar spot tanpa bantuan tanggal jatuh tempo, perpetual futures memakai mekanisme funding rate, yaitu pembayaran berkala antara trader posisi long dan short.

Instrumen ini pertama kali diperkenalkan BitMEX pada Mei 2016 lewat rancangan Arthur Hayes, meski gagasan dasarnya sudah diusulkan ekonom Robert Shiller di era 1990-an untuk aset-aset ilikuid seperti properti. Sejak itu, perpetual futures berkembang jadi instrumen paling banyak diperdagangkan di pasar derivatif kripto.

Kalau kamu tertarik mencoba salah satu instrumen ini secara langsung, Bittime menyediakan layanan trading futures yang sudah mengantongi izin resmi di bawah pengawasan OJK, lengkap dengan pilihan leverage dan mode margin yang bisa disesuaikan dengan gaya trading kamu.

Bittime futures.jpg

Perbedaan Perpetual Futures dan Futures Biasa: Mekanisme Harga, Kedaluwarsa, dan Leverage

Perbedaan paling mendasar antara perpetual futures dan futures biasa ada pada tiga aspek: cara harga dijaga tetap wajar, ada tidaknya tanggal kedaluwarsa, dan besaran leverage yang ditawarkan.

Aspek

Perpetual Futures

Futures Biasa

Kedaluwarsa

Tidak ada, bisa ditahan tanpa batas waktu

Tetap, biasanya bulanan atau kuartalan

Mekanisme harga

Funding rate setiap 8 jam

Konvergensi ke spot saat jatuh tempo

Leverage umum

Hingga 125x di bursa CEX, 50x di DEX

Sekitar 5–20x di bursa teregulasi

Biaya berkelanjutan

Funding rate periodik

Biaya rollover 1–2% per periode saat contango

Cara kerja perpetual futures berpusat pada funding rate. Ketika harga kontrak diperdagangkan lebih tinggi dari harga spot, pihak long membayar pihak short. Sebaliknya, saat harga kontrak lebih rendah dari spot, short yang membayar long. 

Sebagian besar bursa menghitung funding setiap 8 jam, meski dYdX dan Coinbase melakukannya tiap jam, menurut Sei Network. Sebagai gambaran, funding Bitcoin di Binance tercatat positif selama 322 dari 365 hari sepanjang 2024, dengan puncak 0,07 persen per 8 jam atau setara 76,65 persen jika disetahunkan.

Bursa juga membedakan index price dan mark price untuk mencegah likuidasi yang tidak wajar. Index price adalah rata-rata tertimbang harga spot dari beberapa bursa besar, sementara mark price dipakai untuk menghitung untung-rugi belum terealisasi sekaligus memicu likuidasi, sehingga posisi trader tidak langsung tereksekusi hanya karena lonjakan harga sesaat di satu bursa.

Futures biasa punya tantangan berbeda, yaitu rollover. Trader yang ingin mempertahankan eksposur jangka panjang harus menutup kontrak yang mendekati jatuh tempo lalu membuka kontrak baru di bulan berikutnya. 

Pada kondisi contango, ketika harga futures lebih tinggi dari spot, proses ini menimbulkan kerugian roll yield yang bisa mencapai 13 persen per tahun, menurut catatan Sei Network.

Baca Juga: Futures Trading: Contracts, Leverage, and Long Short Explained

Mana yang Cocok Buat Trader? Data Pasar dan Regulasi Terbaru

Dari sisi volume, perpetual futures jelas mendominasi. Binance memegang sekitar 29,3 persen pangsa pasar perpetual dengan volume 25 triliun dolar AS sepanjang 2025, diikuti OKX dan Bybit yang masing-masing menguasai sekitar 21 persen, berdasarkan laporan Coinglass yang dikutip Sei Network

Tren desentralisasi juga makin kuat, pangsa volume perpetual di bursa terdesentralisasi (DEX) melonjak dari kurang dari 3 persen jadi lebih dari 25 persen hanya dalam sekitar 18 bulan, dengan Hyperliquid mencatat volume kumulatif lebih dari 2,7 triliun dolar AS.

Sisi regulasi juga bergerak cepat. Pada 29 Mei 2026, CFTC menyetujui pencatatan kontrak BTCPERP milik KalshiEX sebagai kontrak futures pertama yang mengacu pada perpetual, bukan swap, di bursa teregulasi Amerika Serikat. 

Menurut The Defiant, keputusan ini disertai pernyataan kebijakan tentang review kasus per kasus untuk perpetual berikutnya, plus panduan soal trading dan clearing 24/7. Langkah ini menandakan derivatif kripto yang tadinya identik dengan bursa luar negeri mulai punya jalur resmi masuk pasar teregulasi.

Baca Juga: Futures Trading untuk Pemula: Cara Kerja, Tips, dan Risikonya

Meski begitu, futures biasa tetap relevan untuk kebutuhan tertentu. Institusi yang mengutamakan kepastian regulasi, kliring terpusat, dan biaya yang bisa diprediksi masih cenderung memilih futures teregulasi seperti di CME. 

Kontrak Bitcoin futures CME misalnya mencatat 424.000 kontrak senilai 13,2 miliar dolar AS dalam sehari pada November 2025, menunjukkan minat institusional tetap besar meski pertumbuhan volume secara keseluruhan lebih banyak terjadi di perpetual.

Buat trader aktif yang mengejar fleksibilitas tanpa urusan rollover, perpetual futures umumnya lebih cocok. Namun leverage tinggi pada perpetual juga berarti risiko lebih besar, pergerakan harga kecil saja bisa memicu likuidasi kalau leverage yang dipakai terlalu agresif.

Di Indonesia, Bittime Futures menawarkan opsi ini secara legal sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) dengan izin futures melalui PT Central Finansial X (CFX) di bawah pengawasan OJK, lengkap dengan leverage hingga 25x serta pilihan Cross Margin dan Isolated Margin sesuai toleransi risiko masing-masing trader.

Baca Juga: Tokenized Stocks vs Saham Biasa: Pengertian, Perbedaan, dan Cara Beli

Kesimpulan

Perpetual futures dan futures biasa sama-sama memberi eksposur terhadap pergerakan harga aset kripto tanpa perlu memilikinya secara langsung, tapi keduanya dibangun dengan logika yang berbeda. 

Perpetual futures unggul soal fleksibilitas karena tidak mengenal kedaluwarsa dan mengandalkan funding rate, sementara futures biasa menawarkan kepastian biaya dan kejelasan regulasi yang lebih disukai kalangan institusional. 

Masuknya perpetual futures ke bursa teregulasi seperti yang baru terjadi di Amerika Serikat menunjukkan instrumen ini makin diakui secara luas, tapi pilihan akhir tetap harus disesuaikan dengan gaya trading, toleransi risiko, dan pemahaman kamu terhadap mekanisme leverage sebelum mulai bertransaksi.

Cek harga Bitcoin (BTC)Ethereum (ETH)XRPSolana (SOL)GRAM, dan BNB juga memecoin unggulan DOGE. Kamu bisa trading langsung di Bittime!

bittime biaya withdrawal murah

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Apa itu perpetual futures? 

Perpetual futures adalah kontrak derivatif kripto tanpa tanggal kedaluwarsa yang memakai mekanisme funding rate untuk menjaga harganya tetap dekat dengan harga spot.

Apa perbedaan utama perpetual futures dan futures biasa? 

Perpetual futures tidak punya tanggal jatuh tempo dan mengandalkan funding rate, sedangkan futures biasa punya tanggal kedaluwarsa tetap dan harganya konvergen ke spot saat jatuh tempo.

Bagaimana cara kerja perpetual futures? 

Perpetual futures menjaga harga lewat funding rate, pembayaran berkala antara trader long dan short yang arahnya ditentukan oleh selisih harga kontrak terhadap harga spot.

Apakah perpetual futures lebih berisiko dibanding futures biasa? 

Perpetual futures cenderung menawarkan leverage lebih tinggi sehingga risiko likuidasinya juga lebih besar, sementara futures biasa umumnya punya batas leverage lebih rendah dan biaya yang lebih bisa diprediksi.

Perpetual futures vs futures biasa, mana yang lebih cocok untuk pemula? 

Pemula sebaiknya memulai dengan leverage rendah pada kedua instrumen dan memahami mekanisme funding rate atau rollover terlebih dahulu sebelum menambah ukuran posisi.

Apakah trading crypto futures legal di Indonesia? 

Legal selama dilakukan di platform berizin, seperti Bittime yang berstatus PAKD terdaftar dan diawasi OJK dengan izin futures melalui CFX.

 

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Apa Itu Finance AR: Definisi, Cara Kerja, dan Contohnya
Apa Itu Finance AR: Definisi, Cara Kerja, dan Contohnya

Apa itu finance AR? Pahami pengertian, cara kerja, jenis, manfaat, risiko, dan contoh finance AR untuk membantu menjaga arus kas bisnis.

2026-09-02Baca