Mengapa Market Stablecoin Turun? Terbesar Sejak Runtuhnya Terra-LUNA pada 2022
2026-07-13
Market stablecoin mencatat penurunan bulanan terbesar sejak runtuhnya Terra-LUNA pada 2022.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena stablecoin berfungsi sebagai salah satu sumber likuiditas utama untuk perdagangan Bitcoin, altcoin, dan aktivitas decentralized finance atau DeFi.
Key Takeaways
- Kapitalisasi pasar stablecoin turun sekitar US$7,7 miliar pada Juni 2026, dengan USDT dan USDC menjadi penyumbang utama kontraksi.
- Penurunan ini menunjukkan berkurangnya likuiditas dolar digital, tetapi skalanya masih jauh lebih kecil dibandingkan krisis Terra-LUNA pada 2022.
- Dampaknya terhadap Bitcoin tidak selalu langsung, tetapi likuiditas yang lebih tipis dapat mengurangi daya beli dan meningkatkan volatilitas pasar.
Apa yang Terjadi pada Market Stablecoin?
Kapitalisasi pasar stablecoin berkurang sekitar US$7,7 miliar sepanjang Juni 2026. Angka tersebut menjadi penurunan bulanan terbesar sejak keruntuhan ekosistem Terra-LUNA pada Mei 2022.
Secara kumulatif, stablecoin market cap telah menyusut sekitar US$10 miliar sejak mencapai puncaknya pada Mei.
USDT mengalami penurunan kapitalisasi dari sekitar US$190 miliar menjadi US$184 miliar. Pada saat yang sama, USDC turun dari puncak mendekati US$80 miliar pada Maret 2026 menjadi sekitar US$73 miliar.

Sumber AI Generated Image
Data pasar pada pertengahan Juli menunjukkan total kapitalisasi stablecoin masih berada di kisaran US$312–313 miliar. Artinya, meskipun terjadi koreksi, ukuran pasar stablecoin tetap relatif besar dan masih berada dekat level tertingginya secara historis.
Hal yang perlu dipahami adalah penurunan kapitalisasi stablecoin tidak selalu berarti harganya jatuh di bawah US$1. Untuk stablecoin berbasis cadangan fiat seperti USDT dan USDC, kapitalisasi dapat berkurang karena jumlah token yang beredar menyusut.
Ketika pemegang menukarkan stablecoin kepada penerbit untuk mendapatkan dolar, token tersebut biasanya dihapus atau dibakar dari peredaran. Jika nilai penebusan lebih besar daripada penerbitan baru, total stablecoin supply akan menurun.
Baca juga : Bank Thailand Lanjutkan Rencana Baht Stablecoin
Mengapa Market Stablecoin Turun?
Tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kontraksi. Namun, pergerakan suplai dan kondisi pasar menunjukkan beberapa penyebab yang paling masuk akal.
1. Investor Menarik Dana dari Ekosistem Kripto
Penurunan suplai stablecoin dapat menunjukkan bahwa investor menukarkan USDT atau USDC menjadi uang fiat. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelaku pasar ingin mengurangi risiko, mengambil keuntungan, atau memindahkan modal ke instrumen lain.
Stablecoin sering digunakan sebagai “uang tunai digital” di dalam pasar kripto. Ketika investor menjual Bitcoin atau altcoin tetapi masih ingin tetap berada dalam ekosistem, dana biasanya diparkir dalam stablecoin.
Sebaliknya, apabila stablecoin ditebus menjadi dolar dan keluar dari blockchain, likuiditas tersebut benar-benar meninggalkan pasar kripto. Proses inilah yang dapat membuat kapitalisasi stablecoin menyusut.
2. Menurunnya Aktivitas Perdagangan Spekulatif
Kebutuhan terhadap stablecoin sangat dipengaruhi oleh volume perdagangan. Ketika minat terhadap aset berisiko menurun, trader membutuhkan lebih sedikit modal untuk aktivitas spot, futures, arbitrase, dan DeFi.
Kontraksi suplai dapat mencerminkan melemahnya permintaan terhadap leverage serta aktivitas spekulatif. Investor mungkin memilih menunggu kondisi makroekonomi yang lebih jelas sebelum kembali menempatkan dana dalam aset digital.
Likuiditas pasar kripto juga dilaporkan lebih tipis pada 2026. Kedalaman pasar Bitcoin menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga transaksi dengan ukuran lebih kecil berpotensi menghasilkan pergerakan harga yang lebih besar.
3. Proses Deleveraging di Pasar Kripto
Ketika harga aset turun atau volatilitas meningkat, trader yang menggunakan pinjaman dapat menutup posisi dan melunasi kewajiban mereka. Proses ini disebut deleveraging.
Stablecoin yang sebelumnya digunakan sebagai jaminan, modal perdagangan, atau dana pinjaman dapat dikembalikan dan ditebus. Jika aktivitas pinjam-meminjam menyusut, permintaan stablecoin juga dapat ikut berkurang.
Deleveraging tidak selalu berarti pasar sedang mengalami krisis. Dalam beberapa kondisi, proses tersebut justru membantu mengurangi spekulasi berlebihan. Namun, kontraksi yang berlangsung terlalu lama dapat menekan volume perdagangan dan aktivitas DeFi.
Baca juga : Apa Itu OpenUSD (OUSD)? Stablecoin Baru yang Didukung Visa, Mastercard, dan Circle
4. Modal Berpindah ke Instrumen Tradisional
Sebagian investor dapat memindahkan dana ke deposito, reksa dana pasar uang, atau surat utang pemerintah ketika imbal hasilnya dinilai lebih menarik dibandingkan peluang di pasar kripto.
Perpindahan dana semacam ini mengurangi kebutuhan menyimpan dolar dalam bentuk token blockchain. Ketika stablecoin ditebus, penerbit mengurangi suplai yang beredar sesuai jumlah penarikan.
Arus modal juga dapat berubah karena ketidakpastian suku bunga, kondisi likuiditas global, pergerakan dolar, dan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral.
Hubungan antara stablecoin dan kondisi moneter semakin penting karena penerbit stablecoin menyimpan sebagian besar cadangannya dalam aset keuangan tradisional.
5. Pertumbuhan Penerbitan Baru Melambat
Kapitalisasi stablecoin tidak hanya ditentukan oleh jumlah penebusan, tetapi juga oleh kecepatan penerbitan baru. Pasar dapat menyusut ketika penerbitan token baru melambat, sementara penebusan tetap berlangsung.
Dengan kata lain, tidak diperlukan kepanikan besar untuk menciptakan penurunan market cap. Selisih kecil tetapi konsisten antara penerbitan dan penebusan dapat menghasilkan kontraksi miliaran dolar dalam satu bulan.
Baca juga : Peringatan BIS 2026: Risiko Stablecoin bagi Negara Berkembang
Apakah Penurunan Ini Sama dengan Terra-LUNA?
Penurunan saat ini berbeda secara mendasar dari keruntuhan Terra-LUNA pada Mei 2022.
TerraUSD atau UST merupakan stablecoin algoritmik yang mempertahankan harga US$1 melalui mekanisme pertukaran dengan token LUNA. UST tidak didukung penuh oleh cadangan dolar atau aset likuid dengan nilai setara.

Sumber: AI Generated Image
Ketika kepercayaan pasar runtuh dan UST kehilangan patokannya, sistem mencetak lebih banyak LUNA untuk menyerap tekanan jual. Penambahan suplai LUNA yang ekstrem justru membuat harganya semakin jatuh dan menciptakan death spiral.
Keruntuhan tersebut menyebar ke berbagai bagian pasar kripto. Penelitian mengenai peristiwa Mei 2022 menunjukkan bahwa stablecoin dengan dukungan cadangan lebih kuat mengalami tekanan kapitalisasi yang lebih kecil dibandingkan stablecoin non-fiat dan crypto-collateralized.
Kondisi Juni 2026 lebih menyerupai kontraksi suplai daripada kegagalan mekanisme stabilitas. USDT dan USDC masih diperdagangkan mendekati US$1, sedangkan penurunan kapitalisasinya terutama berasal dari jumlah token beredar yang lebih rendah.
Perbedaannya dapat diringkas sebagai berikut:
- Terra-LUNA mengalami kehilangan patokan harga dan keruntuhan kepercayaan.
- Koreksi 2026 didominasi penyusutan suplai USDT dan USDC.
- Terra-LUNA memicu krisis pada desain stablecoin algoritmik.
- Penurunan saat ini lebih berkaitan dengan arus modal dan melemahnya likuiditas.
- Kontraksi pasar stablecoin pada 2022 mencapai lebih dari 26%, jauh lebih besar daripada koreksi sekitar 3% yang terjadi baru-baru ini.
Karena itu, penggunaan istilah “terbesar sejak Terra-LUNA” menjelaskan ukuran perubahan bulanan, bukan berarti kondisi pasar saat ini sama parahnya dengan krisis 2022.
Baca juga : Apa Itu JPYSC Stablecoin dari SBI Group?
Dampak Penurunan Market Stablecoin terhadap Crypto Liquidity
Stablecoin menjadi pasangan perdagangan utama pada banyak bursa kripto. USDT dan USDC juga digunakan untuk penyelesaian transaksi, pinjaman DeFi, liquidity pool, pembayaran, dan perpindahan dana antar jaringan.
Ketika stablecoin supply menurun, jumlah modal yang siap digunakan untuk membeli aset kripto ikut berpotensi berkurang. Kondisi ini sering disebut sebagai berkurangnya dry powder.
Daya Beli Pasar Berkurang
Investor yang menyimpan stablecoin dapat langsung menggunakannya untuk membeli Bitcoin atau altcoin. Jika suplai dan saldo stablecoin di bursa turun, potensi permintaan jangka pendek dapat melemah.
Namun, kapitalisasi stablecoin bukan satu-satunya sumber modal. Investor institusional juga dapat masuk melalui rekening bank, produk investasi, atau instrumen pasar modal tanpa terlebih dahulu membeli stablecoin.
Volatilitas Berpotensi Meningkat
Likuiditas yang tipis membuat order beli dan jual lebih sulit diserap oleh pasar. Akibatnya, transaksi besar dapat mendorong perubahan harga yang lebih tajam.
Situasi ini dapat memperbesar pergerakan ke dua arah. Harga bukan hanya berpotensi turun lebih cepat, tetapi juga dapat naik tajam ketika muncul permintaan baru dalam pasar dengan kedalaman rendah.
Aktivitas Altcoin dan DeFi Bisa Tertekan
Altcoin umumnya memiliki likuiditas lebih kecil daripada Bitcoin. Ketika suplai stablecoin menurun, aset berkapitalisasi kecil dapat merasakan dampak yang lebih besar.
Liquidity pool DeFi, perdagangan decentralized exchange, yield farming, dan protokol pinjaman juga bergantung pada ketersediaan stablecoin. Kontraksi berkepanjangan dapat mengurangi total value locked, volume transaksi, dan pendapatan protokol.
Baca juga : SBI Luncurkan JPYSC Stablecoin Berbasis Yen
Apakah Market Stablecoin Mempengaruhi Harga Bitcoin?
Jawabannya: ya, tetapi hubungan tersebut tidak bersifat otomatis.
Pertumbuhan stablecoin sering dianggap positif bagi Bitcoin karena menunjukkan bertambahnya modal yang tersedia di dalam ekosistem kripto. Sebaliknya, penurunan suplai dapat mengindikasikan arus dana keluar atau melemahnya minat terhadap perdagangan.
Penelitian terbaru juga menemukan adanya keterhubungan antara perubahan suplai stablecoin dan return Bitcoin serta Ethereum dalam kondisi pasar yang berbeda. Namun, arah hubungan tersebut dapat berubah bergantung pada sentimen, volatilitas, dan sumber guncangan pasar.
Stablecoin market cap yang turun tidak selalu membuat Bitcoin langsung jatuh. Bitcoin masih dipengaruhi oleh banyak faktor lain, antara lain:
- Kebijakan suku bunga dan likuiditas global.
- Arus dana investor institusional.
- Permintaan dari produk investasi Bitcoin.
- Pergerakan dolar Amerika Serikat.
- Aktivitas whale dan miner.
- Regulasi aset digital.
- Sentimen pasar saham dan teknologi.
- Perubahan leverage pada pasar derivatif.
Penurunan stablecoin lebih tepat diperlakukan sebagai indikator kondisi likuiditas, bukan sinyal jual yang berdiri sendiri.
Investor sebaiknya melihat apakah kontraksi terjadi bersamaan dengan turunnya saldo stablecoin di bursa, volume spot, open interest, dan kedalaman order book. Kombinasi beberapa indikator memberikan gambaran yang lebih kuat daripada market cap stablecoin saja.
Baca juga : Stablecoin BI: Investasi Aman di Crypto Masa Depan
Indikator yang Perlu Dipantau Investor
Untuk menilai apakah penurunan ini hanya koreksi sementara atau awal dari kontraksi yang lebih panjang, beberapa indikator berikut perlu diperhatikan:
- Total stablecoin market cap
Perhatikan apakah kapitalisasi mulai stabil atau terus membuat posisi terendah baru. - Suplai USDT dan USDC
Kedua aset ini menguasai sebagian besar pasar, sehingga perubahan suplai keduanya sangat mempengaruhi total kapitalisasi. - Saldo stablecoin di bursa
Kenaikan saldo dapat menunjukkan bertambahnya dana yang siap dipakai membeli kripto. Penurunan terus-menerus dapat menunjukkan modal keluar. - Stabilitas harga terhadap US$1
Kontraksi suplai berbeda dari depeg. Penyimpangan harga yang besar dan berkepanjangan merupakan sinyal risiko yang lebih serius. - Volume perdagangan Bitcoin dan altcoin
Volume yang menurun bersama suplai stablecoin dapat memperkuat indikasi melemahnya aktivitas pasar. - Kedalaman pasar dan spread
Spread yang melebar serta kedalaman order book yang turun menunjukkan likuiditas semakin tipis. - Aktivitas mint dan burn
Penerbitan baru menunjukkan masuknya permintaan, sedangkan burn dalam jumlah besar dapat mengindikasikan penebusan.
Untuk memantau perkembangan Bitcoin, stablecoin, dan tren pasar kripto lainnya, Anda dapat mendaftar di Bittime dan membaca pembaruan berita terbaru.
Tetap lakukan riset mandiri dan sesuaikan keputusan dengan profil risiko karena pasar aset digital dapat berubah dengan cepat.
Kesimpulan
Penurunan market stablecoin sebesar sekitar US$7,7 miliar pada Juni 2026 menunjukkan bahwa likuiditas dolar digital sedang mengalami kontraksi. Penyusutan terutama terlihat pada suplai USDT dan USDC, dua stablecoin terbesar di pasar.
Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh penebusan token, keluarnya modal dari ekosistem kripto, deleveraging, menurunnya aktivitas spekulatif, serta perlambatan penerbitan stablecoin baru.
Meskipun menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Terra-LUNA, situasinya belum dapat disamakan dengan krisis Mei 2022. Saat itu, stablecoin algoritmik UST kehilangan patokan US$1 dan memicu keruntuhan sistemik.
Koreksi saat ini lebih mencerminkan berkurangnya suplai stablecoin fiat-backed daripada kegagalan mempertahankan harga.
Dampaknya terhadap Bitcoin cenderung tidak langsung. Likuiditas yang lebih rendah dapat mengurangi daya beli, memperbesar volatilitas, dan menekan altcoin. Namun, arah harga Bitcoin tetap ditentukan oleh kombinasi faktor makroekonomi, arus institusional, leverage, dan sentimen pasar.
Pantau suplai stablecoin, saldo di bursa, volume perdagangan, kedalaman pasar, dan stabilitas patokan US$1 hanya di Bittime!
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Mengapa market stablecoin turun?
Market stablecoin turun ketika jumlah penebusan token lebih besar daripada penerbitan baru. Faktor pendorongnya dapat berupa keluarnya modal, berkurangnya aktivitas perdagangan, dan proses deleveraging.
Berapa penurunan stablecoin market cap pada Juni 2026?
Kapitalisasi pasar stablecoin turun sekitar US$7,7 miliar pada Juni 2026. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar secara bulanan sejak keruntuhan Terra-LUNA pada Mei 2022.
Apakah USDT dan USDC sedang kehilangan patokan US$1?
Penurunan market cap tidak otomatis berarti terjadi depeg. Koreksi saat ini lebih berkaitan dengan berkurangnya suplai USDT dan USDC yang beredar.
Apakah penurunan stablecoin berdampak pada Bitcoin?
Ya, karena stablecoin menyediakan likuiditas untuk membeli Bitcoin dan aset kripto lain. Namun, penurunan suplai stablecoin tidak selalu membuat harga Bitcoin langsung turun.
Apakah kondisi saat ini sama dengan Terra-LUNA?
Tidak. Terra-LUNA mengalami kegagalan stablecoin algoritmik dan kehilangan patokan harga. Kondisi saat ini lebih menyerupai kontraksi suplai stablecoin berbasis cadangan fiat.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



