Peringatan BIS 2026: Risiko Stablecoin bagi Negara Berkembang
2026-06-29
Bank for International Settlements atau BIS memperingatkan bahwa pertumbuhan stablecoin dapat mengubah struktur sistem keuangan global. Masalahnya bukan hanya risiko harga atau kegagalan penerbit.
Stablecoin berbasis mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat, dapat mengurangi penggunaan mata uang lokal, mendorong arus modal yang lebih volatil, melemahkan transmisi suku bunga, serta membentuk sistem pembayaran yang terfragmentasi.
Key Takeaways
- Stablecoin berbasis dolar dapat mempercepat digital dollarisation dan mengurangi kemampuan bank sentral negara berkembang dalam mempengaruhi tabungan, kredit, serta transaksi domestik.
- BIS menilai stablecoin belum sepenuhnya memenuhi prinsip singleness of money karena nilai, mekanisme penebusan, likuiditas, dan jaringan peredarannya dapat berbeda.
- Project Agorá menawarkan alternatif melalui tokenized deposits dan cadangan bank sentral yang dapat digunakan pada platform pembayaran lintas negara yang terintegrasi.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Apa Isi Peringatan BIS Annual Economic Report 2026?
BIS Annual Economic Report 2026 membahas perubahan sistem moneter akibat tokenisasi, stablecoin, blockchain, dan platform pembayaran yang dapat diprogram.
BIS tidak menolak inovasi digital secara keseluruhan. Lembaga tersebut mengakui bahwa tokenisasi dapat mempercepat transaksi, mengurangi proses rekonsiliasi, dan mendukung pembayaran yang berjalan sepanjang waktu.

(Sumber gambar : AI Image Generated)
Namun, BIS menilai manfaat teknologi tidak cukup untuk menjadikan stablecoin sebagai fondasi utama sistem moneter.
Menurut BIS, sistem uang yang dapat dipercaya memerlukan beberapa sifat utama. Sifat tersebut mencakup satu unit hitung yang sama, kesetaraan nilai antara berbagai bentuk uang, ketersediaan likuiditas saat dibutuhkan, interoperabilitas, serta perlindungan terhadap kejahatan keuangan.
Stablecoin saat ini belum selalu memenuhi seluruh persyaratan tersebut.
Risiko semakin besar ketika stablecoin digunakan di luar ekosistem perdagangan aset kripto. Jika masyarakat mulai menggunakannya untuk tabungan, pembayaran gaji, penetapan harga barang, transaksi bisnis, dan remitansi, pengaruh stablecoin terhadap ekonomi nasional akan meningkat.
Baca juga : Stablecoin BI: Investasi Aman di Crypto Masa Depan
Apa Itu Stablecoin?
Stablecoin adalah token digital yang dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap aset tertentu. Sebagian besar stablecoin global menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai acuan.
Contoh paling umum adalah token yang menargetkan nilai satu token setara dengan satu dolar AS. Penerbit biasanya menyimpan aset cadangan berupa uang tunai, deposito bank, surat utang pemerintah jangka pendek, atau instrumen pasar uang.
Stablecoin menawarkan beberapa manfaat praktis:
- Transaksi dapat berlangsung selama 24 jam.
- Pengiriman lintas negara dapat dilakukan dengan cepat.
- Token dapat digunakan dalam aplikasi blockchain.
- Stablecoin dapat menjadi penghubung antara uang fiat dan aset kripto.
- Transaksi dapat diprogram melalui smart contract.
- Pengguna dapat menyimpan eksposur dolar tanpa membuka rekening bank dolar.
Manfaat terakhir sangat penting bagi negara berkembang. Stablecoin membuat akses terhadap mata uang asing menjadi lebih mudah daripada pembelian uang tunai atau pembukaan deposito valuta asing.
Kemudahan tersebut dapat membantu masyarakat melindungi daya beli saat mata uang lokal melemah. Namun, penggunaan yang meluas juga dapat menurunkan efektivitas kebijakan moneter domestik.
Baca juga : Apa Itu JPYSC Stablecoin dari SBI Group?
Mengapa Stablecoin Berbeda dari Uang Bank?
Saldo rekening bank dan stablecoin sama-sama dapat digunakan untuk pembayaran. Namun, struktur hukumnya berbeda.
Saldo bank merupakan kewajiban bank komersial kepada nasabah. Bank beroperasi dalam sistem yang terhubung dengan bank sentral. Bank juga berada di bawah pengawasan, kewajiban modal, aturan likuiditas, penjaminan simpanan, dan mekanisme resolusi.
Stablecoin merupakan kewajiban penerbit token. Hak pengguna bergantung pada struktur hukum, kualitas cadangan, mekanisme penebusan, dan yurisdiksi penerbit.
Tidak semua pemegang stablecoin memiliki hak penebusan langsung. Dalam beberapa model, hanya pelanggan tertentu atau investor dengan jumlah minimum yang dapat menukar token langsung kepada penerbit.
Pengguna ritel akhirnya bergantung pada pasar sekunder. Harga stablecoin dapat berada sedikit di atas atau di bawah nilai acuannya.
Perbedaan kecil terlihat tidak penting ketika pasar tenang. Namun, penyimpangan dapat membesar saat terjadi kepanikan, masalah likuiditas, atau keraguan terhadap cadangan.
Baca juga : SBI Luncurkan JPYSC Stablecoin Berbasis Yen
Apa Itu Singleness of Money?
Singleness of money berarti setiap bentuk uang dalam mata uang yang sama dapat ditukar pada nilai yang sama.
Satu dolar dalam bentuk uang tunai harus bernilai sama dengan satu dolar dalam rekening bank. Pengguna tidak perlu memeriksa bank penerbit setiap kali menerima pembayaran.
Prinsip serupa berlaku untuk rupiah. Nilai Rp100.000 dalam rekening bank seharusnya setara dengan uang tunai Rp100.000.
Kesetaraan tersebut tidak muncul secara otomatis. Bank sentral, sistem pembayaran, regulasi perbankan, penjaminan simpanan, dan fasilitas likuiditas menjaga agar berbagai bentuk uang dapat dipertukarkan pada nilai nominal.
Stablecoin dapat melemahkan singleness of money karena beberapa alasan.
- Pertama, setiap penerbit memiliki komposisi cadangan yang berbeda.
- Kedua, hak penebusan dapat berbeda antar stablecoin.
- Ketiga, token yang sama dapat beredar pada beberapa blockchain yang tidak terhubung secara langsung.
- Keempat, harga pasar dapat menyimpang dari nilai acuan.
- Kelima, biaya transaksi dan likuiditas berbeda pada setiap jaringan.
Akibatnya, satu token dolar belum tentu selalu setara secara praktis dengan satu dolar di rekening bank. Nilainya dapat bergantung pada penerbit, jaringan, bursa, dan kondisi pasar.
Baca juga : Meta Diam-Diam Luncurkan Layanan Pembayaran Stablecoin
Mengapa Stablecoin Bisa Memecah Sistem Keuangan Global?
Stablecoin dapat diterbitkan pada Ethereum, Solana, Tron, BNB Chain, dan berbagai jaringan lain. Token pada satu jaringan tidak selalu dapat dipindahkan langsung ke jaringan lain.
Pengguna sering membutuhkan bridge, bursa, atau layanan pihak ketiga. Setiap penghubung menambah risiko teknis dan operasional.
Kesalahan dalam proses lintas jaringan dapat mengakibatkan keterlambatan atau kehilangan aset. Masalah tata kelola juga muncul ketika tidak ada otoritas tunggal yang bertanggung jawab memperbaiki kesalahan.
Fragmentasi terjadi pada beberapa tingkat:
- Fragmentasi antar blockchain.
- Fragmentasi antara penerbit stablecoin.
- Fragmentasi standar penebusan.
- Fragmentasi regulasi antarnegara.
- Fragmentasi sistem identitas dan kepatuhan.
- Fragmentasi likuiditas pada berbagai bursa.
- Fragmentasi antara sistem kripto dan sistem perbankan.
Semakin banyak sistem yang tidak terhubung, semakin sulit stablecoin menghasilkan efek jaringan seperti uang nasional.
Baca juga : Brazil Blokir Stablecoin: Ini yang Wajib Kamu Ketahui
Mengapa Dampak Stablecoin Lebih Besar di Negara Berkembang?
Negara berkembang sering menghadapi inflasi yang lebih tinggi, fluktuasi nilai tukar, pasar keuangan yang lebih dangkal, dan kepercayaan yang lebih rendah terhadap mata uang lokal.
Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai penyimpan nilai.
Sebelum stablecoin berkembang, masyarakat membutuhkan uang tunai dolar, rekening valuta asing, atau akses ke lembaga keuangan internasional. Proses tersebut tidak selalu mudah.

(Sumber gambar : AI Image Generated)
Stablecoin mengurangi hambatan tersebut. Pengguna hanya memerlukan telepon, wallet, akses internet, dan jalur pembelian token.
Kemudahan ini dapat mempercepat perpindahan dari mata uang lokal menuju dolar digital.
BIS menyebut fenomena tersebut sebagai stablecoin dollarisation. Dampaknya dapat lebih sulit dikendalikan dibandingkan dollarisation konvensional karena token dapat disimpan dalam unhosted wallet dan di transfer langsung antar pengguna.
Baca juga : Meta Dukung USDC Settlements dan Wallet Solana Polygon untuk Kreator
7 Cara Stablecoin Melemahkan Kebijakan Moneter
1. Mengurangi penggunaan mata uang lokal
Kebijakan moneter bekerja lebih efektif ketika masyarakat menggunakan mata uang domestik untuk menetapkan harga, menyimpan dana, dan melakukan transaksi.
Jika gaji, sewa, barang, atau jasa mulai dihitung dalam stablecoin dolar, peran mata uang lokal sebagai unit hitung akan menurun.
Bank sentral masih dapat mengubah suku bunga domestik. Namun, keputusan tersebut memiliki pengaruh yang lebih kecil terhadap masyarakat yang menggunakan mata uang asing.
2. Melemahkan transmisi suku bunga
Bank sentral menaikkan atau menurunkan suku bunga untuk mempengaruhi tabungan, konsumsi, investasi, dan kredit.
Transmisi tersebut berjalan melalui bank dan pasar keuangan domestik.
Jika masyarakat menyimpan dana dalam stablecoin, perubahan suku bunga domestik tidak langsung mempengaruhi kepemilikan tersebut. Stablecoin tanpa imbal hasil tidak membayar bunga seperti deposito.
Beberapa pengguna menempatkan stablecoin dalam platform DeFi untuk memperoleh imbal hasil. Tingkat imbal hasil DeFi lebih banyak dipengaruhi permintaan pinjaman kripto dan mekanisme protokol daripada suku bunga bank sentral domestik.
Hubungan antara keputusan bank sentral dan perilaku pemegang stablecoin menjadi lebih lemah.
3. Mengimpor kebijakan moneter negara lain
Sebagian besar stablecoin mengacu pada dolar AS. Ketika stablecoin dolar digunakan secara luas, kondisi moneter Amerika Serikat ikut mempengaruhi ekonomi negara pengguna.
Kenaikan suku bunga AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Masyarakat mungkin memindahkan lebih banyak dana dari mata uang lokal ke stablecoin.
Masalah muncul ketika siklus ekonomi kedua negara berbeda.
Negara berkembang mungkin membutuhkan kebijakan longgar untuk mendorong pertumbuhan. Pada saat yang sama, Amerika Serikat dapat menjalankan kebijakan ketat.
Stablecoin membuat pengaruh kebijakan asing masuk lebih cepat ke ekonomi domestik.
4. Mendorong arus modal yang volatil
Stablecoin dapat dipindahkan dengan cepat melintasi batas negara. Kecepatan tersebut memberi manfaat untuk pembayaran, tetapi juga dapat memperbesar perubahan arus modal.
Ketika risiko ekonomi meningkat, masyarakat dapat membeli stablecoin secara serentak. Permintaan dolar melonjak dan mata uang lokal tertekan.
Saat sentimen membaik, dana dapat kembali masuk. Pola tersebut meningkatkan volatilitas nilai tukar dan menyulitkan bank sentral mengelola likuiditas.
5. Membantu penghindaran kontrol modal
Sebagian negara menerapkan pembatasan valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan cadangan devisa.
Stablecoin yang disimpan dalam wallet pribadi dapat bergerak di luar perantara keuangan domestik. Hal ini membuat pengawasan lebih sulit.
Larangan pada bursa lokal belum tentu menghentikan transaksi antar pengguna, platform luar negeri, atau unhosted wallet.
BIS menemukan bahwa pembatasan transaksi stablecoin mungkin tidak seefektif pembatasan deposito valuta asing. Sifat digital dan lintas batas membuat aturan lebih sulit ditegakkan.
6. Mengurangi dana murah perbankan
Masyarakat biasanya menyimpan uang dalam rekening bank. Dana tersebut menjadi salah satu sumber pembiayaan kredit.
Jika nasabah memindahkan deposito ke stablecoin, bank kehilangan sebagian sumber dana ritel. Bank harus menggantinya dengan pendanaan yang lebih mahal.
Biaya dana yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan suku bunga kredit. Bank juga dapat mengurangi penyaluran pinjaman kepada rumah tangga dan usaha kecil.
Dampak ini disebut bank lending channel.
7. Menekan nilai tukar dan cadangan devisa
Pembelian stablecoin dolar membutuhkan sumber dana. Dalam banyak kasus, pengguna menjual mata uang lokal untuk memperoleh dolar atau token berbasis dolar.
Permintaan yang meningkat dapat melemahkan mata uang domestik di pasar spot.
Bank sentral mungkin melakukan intervensi menggunakan cadangan devisa. Intervensi yang terlalu besar dapat mengurangi ruang kebijakan saat tekanan berlanjut.
Baca juga : Perbandingan USDT/IDR vs USDC/IDR untuk Strategi Arbitrase Lokal
Apakah Stablecoin Selalu Merugikan?
Tidak. BIS tidak menyatakan bahwa setiap penggunaan stablecoin pasti merugikan ekonomi.
Stablecoin dapat membantu pembayaran lintas negara, perdagangan digital, dan akses ke aset dolar. Teknologi ini juga dapat meningkatkan persaingan dalam sistem pembayaran.
Bagi pekerja migran, stablecoin dapat mengurangi waktu pengiriman remitansi. Bagi perusahaan digital, stablecoin dapat memudahkan pembayaran yang berlangsung di luar jam operasional bank.
Namun, manfaat tersebut perlu dihitung secara menyeluruh.
Pengguna masih menghadapi biaya membeli token, biaya blockchain, biaya konversi, selisih harga, dan biaya pencairan ke mata uang lokal. Total biaya stablecoin belum tentu selalu lebih rendah daripada transfer bank.
Risiko juga bergantung pada penggunaan. Stablecoin yang hanya digunakan untuk perdagangan kripto memiliki dampak ekonomi berbeda dari stablecoin yang digunakan sebagai alat pembayaran utama.
Baca juga : Daftar 15+ Euro Stablecoin 2026
Risiko Stablecoin terhadap Bank dan Pasar Keuangan
Stablecoin tidak hanya mempengaruhi kebijakan moneter. Pertumbuhannya dapat mengubah struktur perbankan dan pasar obligasi.
Penerbit stablecoin menyimpan aset cadangan untuk memenuhi penebusan. Cadangan dapat berbentuk surat utang pemerintah jangka pendek dan deposito bank.
Ketika permintaan stablecoin meningkat, penerbit membeli lebih banyak aset cadangan. Permintaan tersebut dapat menurunkan biaya pinjaman pemerintah penerbit mata uang acuan.
Namun, kondisi berbalik saat pengguna melakukan penebusan besar-besaran.
Penerbit harus menjual aset untuk menyediakan uang tunai. Penjualan cepat dapat menekan harga obligasi dan mengganggu pasar uang.
Risiko utama mencakup:
- Penarikan stablecoin secara serentak.
- Penjualan paksa aset cadangan.
- Tekanan pada pasar surat utang jangka pendek.
- Penurunan dana deposito bank.
- Kenaikan biaya pendanaan perbankan.
- Pengurangan kredit kepada ekonomi riil.
- Penularan antara pasar kripto dan sistem keuangan.
Skala dampaknya bergantung pada ukuran pasar, komposisi cadangan, hak penebusan, dan hubungan penerbit dengan bank.
Mengapa Stablecoin Tidak Memiliki Likuiditas Elastis?
Sistem perbankan memiliki bank sentral sebagai penyedia likuiditas terakhir.
Ketika bank yang sehat membutuhkan dana penyelesaian, bank sentral dapat menyediakan likuiditas melalui fasilitas intrahari, operasi moneter, atau lender of last resort.
Mekanisme tersebut menjaga pembayaran tetap berjalan saat terjadi tekanan.
Penerbit stablecoin tidak selalu memiliki akses ke fasilitas serupa. Mereka harus memenuhi penebusan menggunakan aset cadangan yang tersedia.
Jika banyak pengguna meminta penebusan, penerbit harus menjual aset. Likuiditas stablecoin bergantung pada kemampuan pasar menyerap penjualan tersebut.
Inilah perbedaan antara cadangan yang terlihat likuid pada kondisi normal dan likuiditas yang benar-benar tersedia saat krisis.
Apa Solusi yang Ditawarkan BIS?
BIS mengusulkan dua jalur kebijakan.
Jalur pertama adalah memperketat perlindungan terhadap stablecoin. Jalur kedua adalah membawa manfaat tokenisasi ke dalam sistem moneter dua tingkat yang sudah ada.
Regulasi stablecoin yang lebih kuat
Regulasi perlu disesuaikan dengan fungsi stablecoin.
Stablecoin yang digunakan sebagai alat pembayaran membutuhkan standar lebih ketat dibandingkan token yang hanya digunakan sebagai instrumen investasi.
Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Kewajiban cadangan berkualitas tinggi.
- Hak penebusan pada nilai nominal.
- Aturan likuiditas yang ketat.
- Persyaratan modal bagi penerbit.
- Pemisahan aset cadangan.
- Keterbukaan komposisi cadangan.
- Rencana resolusi ketika penerbit gagal.
- Pengawasan transaksi mencurigakan.
- Perlindungan konsumen.
- Kerja sama pengawasan lintas negara.
Regulasi juga perlu mengurangi regulatory arbitrage. Penerbit tidak boleh memindahkan operasinya ke yurisdiksi yang lebih longgar untuk melayani pengguna global tanpa pengawasan memadai.
Apa Itu Tokenized Deposits?
Tokenized deposits adalah representasi digital dari deposito bank komersial pada platform yang dapat diprogram.
Token tersebut tetap menjadi kewajiban bank penerbit. Nilainya dapat ditebus pada nilai nominal menjadi uang bank sentral dalam mata uang yang sama.
Tokenized deposits berbeda dari stablecoin swasta.
Stablecoin bergantung pada aset cadangan penerbit. Tokenized deposits tetap berada dalam struktur perbankan, regulasi kehati-hatian, dan sistem penyelesaian bank sentral.
Manfaat tokenized deposits meliputi:
- Pembayaran dapat berjalan sepanjang waktu.
- Transaksi dapat diselesaikan secara otomatis.
- Proses rekonsiliasi dapat dikurangi.
- Kepatuhan dapat dimasukkan dalam alur transaksi.
- Dana dan aset dapat berpindah secara bersamaan.
- Bank tetap menjalankan fungsi intermediasi kredit.
- Kesetaraan dengan uang bank sentral dapat dipertahankan.
BIS menilai tokenisasi tidak harus memisahkan sistem keuangan dari bank sentral. Teknologi dapat diterapkan pada sistem yang tetap memiliki jangkar moneter publik.
Project Agorá sebagai Alternatif Stablecoin
Project Agorá merupakan proyek bersama BIS, Institute of International Finance, bank sentral, dan lembaga keuangan swasta.
Proyek ini menguji pembayaran lintas negara menggunakan tokenized commercial bank deposits dan tokenized central bank reserves.
Project Agorá melibatkan delapan bank sentral dan lebih dari 40 lembaga keuangan teregulasi pada tahap prototipe.
Arsitekturnya tidak mencampurkan seluruh cadangan bank sentral dalam satu sistem tanpa batas. Setiap yurisdiksi tetap mempertahankan kendali atas mata uang dan cadangannya.
Platform bersama menghubungkan berbagai ledger agar transaksi lintas negara dapat diselesaikan secara terkoordinasi.
Bagaimana Project Agorá Bekerja?
Project Agorá menggunakan pendekatan pembayaran atomik atau atomic settlement.
Dalam sistem tradisional, transaksi lintas negara melewati beberapa bank koresponden. Setiap pihak memproses pesan, pemeriksaan kepatuhan, konversi mata uang, dan penyelesaian pada waktu yang berbeda.
Proses tersebut dapat menimbulkan keterlambatan dan kegagalan.
Atomic settlement menghubungkan seluruh tahap transaksi. Semua bagian transaksi diselesaikan atau seluruhnya dibatalkan.
Pendekatan ini mengurangi risiko salah satu pihak telah menyerahkan dana, tetapi pihak lain belum menyelesaikan kewajibannya.
Project Agorá juga menjaga privasi melalui pembatasan akses data. Informasi transaksi hanya diberikan kepada pihak yang membutuhkannya.
Pada Mei 2026, BIS menyatakan prototipe Project Agorá berhasil menunjukkan bahwa penyelesaian lintas mata uang dapat dilakukan secara aman dan final. Tahap berikutnya diarahkan menuju pengujian transaksi bernilai nyata.
Mengapa Project Agorá Dianggap Lebih Aman?
Project Agorá mencoba mempertahankan manfaat tokenisasi tanpa menghilangkan fondasi sistem moneter.
Ada beberapa alasan pendekatan ini dianggap lebih kuat.
- Pertama, penyelesaian menggunakan cadangan bank sentral yang ditokenisasi.
- Kedua, tokenized deposits tetap menjadi kewajiban bank teregulasi.
- Ketiga, peserta harus memenuhi aturan akses dan kepatuhan.
- Keempat, otoritas nasional tetap mengendalikan mata uangnya.
- Kelima, transaksi memiliki kerangka hukum yang jelas.
- Keenam, sistem dirancang agar dapat beroperasi lintas yurisdiksi.
- Ketujuh, mekanisme penyelesaian mempertahankan prinsip singleness of money.
Namun, Project Agorá masih berada dalam tahap pengembangan. Keberhasilan prototipe belum membuktikan bahwa sistem dapat langsung digunakan secara global.
Masalah hukum, tata kelola, biaya, keamanan siber, interoperabilitas, dan pembagian tanggung jawab tetap perlu diselesaikan.
Apa Dampaknya bagi Indonesia dan Negara Berkembang?
Peringatan BIS relevan bagi negara dengan pertumbuhan pengguna aset digital yang tinggi.
Stablecoin dolar dapat memberikan akses pembayaran global. Namun, penggunaannya sebagai tabungan dan alat pembayaran domestik dapat meningkatkan ketergantungan terhadap dolar.
Negara berkembang perlu menghindari dua pendekatan ekstrem.
Larangan total dapat mendorong aktivitas ke platform yang tidak diawasi. Regulasi yang terlalu longgar dapat mempercepat dollarisation dan arus modal yang sulit dipantau.
Pendekatan yang lebih seimbang dapat mencakup:
- Mengatur penerbit dan penyedia layanan.
- Memperkuat pemantauan transaksi lintas negara.
- Menjaga kewajiban penebusan dan cadangan.
- Meningkatkan kualitas sistem pembayaran lokal.
- Mengembangkan instrumen keuangan dalam mata uang domestik.
- Mempercepat pembayaran lintas negara resmi.
- Meningkatkan perlindungan data pengguna.
- Membangun kerja sama antara otoritas.
- Menguji tokenized deposits dan uang bank sentral.
- Menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar.
Pertahanan terbaik terhadap dollarisation bukan hanya pembatasan. Negara juga perlu menjaga kepercayaan terhadap mata uang domestik.
Masyarakat akan tetap memilih mata uang lokal ketika inflasi terkendali, sistem pembayaran efisien, dan instrumen tabungan menawarkan perlindungan yang layak.
Kesimpulan
Peringatan BIS tentang stablecoin tidak berfokus pada penolakan teknologi blockchain. BIS menyoroti risiko ketika token swasta berbasis dolar berkembang menjadi sistem uang paralel tanpa pondasi kelembagaan yang memadai.
Bagi negara berkembang, risikonya mencakup digital dollarisation, arus modal yang lebih volatil, tekanan nilai tukar, berkurangnya dana perbankan, serta melemahnya transmisi kebijakan moneter.
Masalah lainnya adalah singleness of money. Stablecoin yang memiliki penerbit, jaringan, cadangan, dan mekanisme penebusan berbeda tidak selalu dapat dipertukarkan pada nilai yang sama dalam segala kondisi.
BIS menawarkan pendekatan alternatif melalui tokenized deposits, cadangan bank sentral yang di tokenisasi, dan Project Agorá. Sistem tersebut berupaya menggabungkan kecepatan serta programmability dengan pengawasan, penyelesaian final, dan kepercayaan terhadap uang bank sentral.
Stablecoin tetap dapat memiliki peran dalam sistem keuangan. Namun, perannya membutuhkan batas, regulasi, dan koordinasi lintas negara. Negara berkembang juga perlu memperbaiki sistem pembayaran domestik agar masyarakat tidak terdorong menggunakan mata uang asing digital hanya karena layanan lokal lebih lambat atau mahal.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apakah BIS ingin melarang seluruh stablecoin?
Tidak. BIS mengusulkan regulasi yang disesuaikan dengan fungsi dan risiko stablecoin. Stablecoin yang digunakan sebagai alat pembayaran membutuhkan aturan lebih ketat daripada token investasi.
Bagaimana stablecoin melemahkan kebijakan moneter?
Stablecoin dapat mengurangi penggunaan mata uang lokal dan memindahkan dana dari rekening bank. Kondisi tersebut melemahkan pengaruh suku bunga domestik terhadap tabungan, kredit, dan transaksi.
Apa arti singleness of money?
Singleness of money berarti setiap bentuk uang dalam mata uang yang sama dapat ditukar pada nilai nominal. Stablecoin dapat mengganggu prinsip ini ketika harga atau mekanisme penebusannya berbeda.
Apa itu Project Agorá?
Project Agorá adalah proyek BIS dan sektor keuangan yang menguji pembayaran lintas negara dengan tokenized deposits dan cadangan bank sentral yang ditokenisasi. Proyek ini menggunakan mekanisme atomic settlement.
Apakah tokenized deposits sama dengan stablecoin?
Tidak. Tokenized deposits merupakan kewajiban bank komersial dan dapat ditebus menjadi uang bank sentral. Stablecoin merupakan kewajiban penerbit token yang didukung aset cadangan tertentu.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



