Prospek Saham PADA dan INET 2026 Setelah ARA?

2026-08-19
Prospek Saham PADA dan INET 2026 Setelah ARA, Seberapa Besar Peluang Sektor Fiber Optic.webp

Saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menjadi perhatian pasar setelah keduanya melonjak tajam pada perdagangan 18 Agustus 2026. 

INET benar-benar mencapai batas Auto Reject Atas (ARA) dengan kenaikan 24,79% ke Rp292, sementara PADA melesat 33,33% ke Rp240.

Momentum tersebut muncul bersamaan dengan perkembangan baru bisnis fiber optic. 

PADA mendapatkan fasilitas pembiayaan Rp5 miliar dari Bank Hibank Indonesia untuk modal kerja proyek penarikan kabel serat optik. 

Di sisi lain, INET sebagai pengendali PADA tengah menjalankan ekspansi agresif di jaringan FTTH, kabel bawah laut, dan infrastruktur digital.

Kombinasi aksi korporasi dan kebutuhan konektivitas nasional membuat prospek saham PADA dan prospek saham INET menarik untuk dikaji. 

Namun, reli harga yang sangat cepat juga berarti investor perlu memisahkan pertumbuhan fundamental dari euforia jangka pendek.

Key Takeaways

  • INET ditutup ARA 24,79% di Rp292 pada 18 Agustus 2026, sementara PADA melonjak 33,33% ke Rp240.

  • PADA memperoleh pinjaman Rp5 miliar untuk modal kerja proyek penarikan fiber optic, memperkuat eksposurnya ke pembangunan infrastruktur digital.

  • Peluang fiber optic Indonesia masih besar, pemerintah menargetkan fixed broadband 50% rumah tangga dan jangkauan fiber optik hingga 90% kecamatan pada 2029.

Mengapa Saham PADA dan INET Melonjak?

Sentimen terbesar PADA berasal dari fasilitas Supply Chain Financing senilai Rp5 miliar dari Hibank. 

Kredit tersebut memiliki tenor maksimal 12 bulan dengan bunga 10% per tahun dan digunakan untuk membiayai modal kerja, khususnya pekerjaan penarikan kabel fiber optic. 

Nilainya sekitar 4,1% dari ekuitas PADA sehingga tidak dikategorikan sebagai transaksi material.

Kabar tersebut memperkuat narasi bahwa PADA tidak lagi hanya dipandang sebagai perusahaan outsourcing. Perseroan mulai memiliki peran operasional dalam proyek pembangunan jaringan telekomunikasi, termasuk penyediaan tenaga teknis untuk instalasi fiber optic.

Sementara itu, reli INET juga ditopang kinerja keuangan. 

Pendapatan kuartal I 2026 dilaporkan mencapai sekitar Rp383,6 miliar, melonjak 3.069,63% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Prospek Saham PADA: Dari Outsourcing ke Infrastruktur Digital

Prospek Saham PADA dan INET 2026 Setelah ARA, Seberapa Besar Peluang Sektor Fiber Optic - PADA.webp

Sumber: Google Finance

Perubahan cerita bisnis PADA semakin jelas setelah INET mengambil alih kendali perusahaan. 

INET sebelumnya sepakat mengakuisisi sekitar 1,69 miliar saham PADA senilai Rp106,39 miliar atau Rp63 per saham dan menjadi pengendali dengan kepemilikan 53,57%.

Akuisisi tersebut memiliki sisi strategis. PADA mempunyai jaringan operasional di sekitar 25 kota dengan puluhan ribu tenaga kerja profesional, sehingga dapat mendukung kebutuhan pembangunan FTTH dan infrastruktur jaringan milik grup INET.

Bagi analisis saham PADA, peluang terbesar bukan hanya pinjaman Rp5 miliar itu sendiri. 

Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan mengubah proyek fiber optic menjadi pendapatan dan laba berulang.

Risikonya, PADA tetap harus menjaga margin karena aktivitas penarikan kabel membutuhkan biaya tenaga kerja dan modal kerja yang cukup besar. 

Biaya bunga dari pembiayaan baru juga harus diperhitungkan jika ekspansi tidak menghasilkan arus kas sesuai rencana.

Baca Juga : AI Boom Dorong Micron, SanDisk, dan SK Hynix

Prospek Saham INET: Ekspansi Fiber Optic Semakin Agresif

Prospek Saham PADA dan INET 2026 Setelah ARA, Seberapa Besar Peluang Sektor Fiber Optic - INET.webp
Sumber: Google Finance

Untuk analisis saham INET, skala ekspansinya jauh lebih besar. Perseroan mengembangkan FTTH, jasa pembangunan jaringan, infrastruktur backbone, hingga proyek kabel laut Jakarta-Batam-Singapura berkapasitas 20 Tbps.

INET juga menargetkan pembangunan sekitar 2 juta homepass di Bali-Lombok dan 800 ribu homepass di Kalimantan Barat. 

Segmen FTTH B2C diperkirakan menjadi salah satu mesin pertumbuhan setelah mulai beroperasi secara lebih luas.

Ekspansi tersebut didukung aksi pendanaan besar. INET telah merancang rights issue maksimal Rp3,2 triliun dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham dan juga mengandalkan instrumen pendanaan lain untuk memperkuat pembangunan jaringan.

Namun, ekspansi agresif berarti kebutuhan modal juga tinggi. 

Investor perlu memantau realisasi proyek, utilisasi jaringan, penambahan pelanggan, serta kemungkinan dilusi setelah penerbitan saham baru.

Baca Juga : Saham Grup ADRO Masih Potensial? Ini 3 Emiten yang Jadi Sorotan

Seberapa Besar Peluang Fiber Optic Indonesia?

Dari sisi industri, peluang saham fiber optic tidak hanya datang dari sentimen pasar modal. Indonesia masih memiliki kesenjangan besar dalam penetrasi fixed broadband.

Kemkomdigi menyebut fixed broadband baru menjangkau sekitar 21% rumah tangga ketika Program Kampung Internet diluncurkan. 

Pemerintah menargetkan penetrasinya mencapai 50% rumah tangga, perluasan jaringan fiber optic hingga 90% kecamatan, dan kecepatan layanan 100 Mbps pada 2029.

Gap tersebut menciptakan kebutuhan pembangunan jaringan baru dalam beberapa tahun ke depan. 

Bukan hanya ISP yang dapat memperoleh manfaat, tetapi juga kontraktor jaringan, perusahaan FiberCo, penyedia tenaga teknis, data center, dan perusahaan pendukung infrastruktur.

Hal ini membuat tema saham telekomunikasi 2026 semakin luas. 

Investor tidak hanya melihat operator seperti TLKM, ISAT, atau EXCL, tetapi juga emiten fiber optic Indonesia yang berada di rantai pembangunan infrastruktur.

Baca Juga : MBMA Tawarkan Kupon 10,5%, Mengapa Harga Sahamnya Justru Turun?

PADA vs INET, Mana yang Lebih Menarik?

PADA dan INET memiliki eksposur berbeda. 

PADA lebih dekat pada sisi eksekusi proyek dan penyediaan sumber daya manusia untuk pembangunan jaringan, sedangkan INET berada pada sisi pemilik dan pengembang infrastruktur digital yang skalanya lebih besar.

Dari sisi pertumbuhan, INET menawarkan cerita ekspansi yang lebih luas dan telah menunjukkan kenaikan pendapatan yang signifikan. 

Namun, valuasi pasar juga perlu diperhatikan. 

Setelah reli ke Rp292, sumber yang dikutip Achmad Nur Hidayat mencatat P/E INET sekitar 103 kali, sehingga ekspektasi pertumbuhan yang sudah masuk ke harga tergolong tinggi.

PADA mempunyai basis harga dan kapitalisasi berbeda, tetapi kenaikan 33,33% dalam sehari juga membuat risiko profit taking meningkat.

Baca Juga : 7 Investasi Terbaik 2026 yang Layak Dipertimbangkan Sekarang

Risiko Setelah Harga Saham Naik Tajam

ARA atau kenaikan puluhan persen dalam satu hari bukan jaminan tren berikutnya akan terus naik. 

Momentum seperti ini dapat menarik trader jangka pendek sehingga volatilitas biasanya meningkat.

Untuk INET, perhatian perlu diberikan pada kebutuhan pendanaan besar, risiko dilusi, keberhasilan pembangunan FTTH, dan kemampuan menghasilkan recurring revenue. 

Untuk PADA, realisasi kontrak fiber optic, margin proyek, dan kemampuan mengelola utang modal kerja menjadi indikator penting.

Karena itu, saham infrastruktur digital sebaiknya dinilai berdasarkan pertumbuhan bisnis yang terealisasi, bukan hanya narasi ekspansi.

Jika kamu juga ingin mendiversifikasi portofolio ke aset digital selain saham, kamu bisa daftar di Bittime untuk mempelajari berbagai aset crypto yang tersedia. 

Prospek PADA dan INET 2026: Masih Layak Dipantau?

Peluang sektoralnya memang kuat. Target pemerintah untuk memperluas fixed broadband menunjukkan pembangunan jaringan fiber masih memiliki runway beberapa tahun ke depan.

INET berada dalam posisi menarik karena memiliki eksposur langsung terhadap FTTH, backbone, kabel laut, dan recurring income jaringan. 

PADA dapat mendapat efek turunan karena berperan dalam tenaga kerja dan pelaksanaan proyek yang dibutuhkan untuk ekspansi tersebut.

Namun, setelah harga melonjak tajam, investor perlu lebih selektif terhadap entry price. 

Prospek saham INET dan prospek saham PADA akan semakin kuat apabila ekspansi fiber optic benar-benar tercermin pada pendapatan, laba, dan arus kas selama semester berikutnya.

Baca Juga : Saham Nike Terus Jatuh, Apakah NKE Mulai Undervalued?

bittime biaya withdrawal murah

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Mengapa saham PADA naik tajam?

PADA mendapat sentimen dari fasilitas pinjaman Rp5 miliar Hibank yang akan digunakan untuk modal kerja dan proyek penarikan kabel fiber optic. Sahamnya naik 33,33% menjadi Rp240 pada 18 Agustus 2026.

Mengapa saham INET menyentuh ARA?

INET naik 24,79% menjadi Rp292 pada 18 Agustus. Sentimennya datang dari ekspansi infrastruktur digital dan laporan pendapatan kuartal I 2026 yang tumbuh sangat tinggi secara tahunan.

Apakah PADA merupakan bagian dari INET?

Ya. INET menjadi pengendali PADA setelah proses akuisisi yang memberinya kepemilikan sekitar 53,57%.

Bagaimana prospek fiber optic Indonesia?

Peluangnya masih besar karena pemerintah menargetkan fixed broadband menjangkau 50% rumah tangga dan fiber optic mencapai 90% kecamatan pada 2029, dibanding penetrasi fixed broadband yang sebelumnya sekitar 21%.

Apa risiko utama saham INET?

Risikonya meliputi kebutuhan pendanaan besar, potensi dilusi, valuasi tinggi, serta risiko eksekusi proyek FTTH dan kabel bawah laut.

Apakah saham PADA dan INET masih potensial setelah reli?

Potensi jangka panjang tetap berkaitan dengan ekspansi fiber optic dan kebutuhan infrastruktur digital Indonesia. Namun, setelah kenaikan harga yang sangat cepat, risiko volatilitas dan profit taking juga meningkat sehingga investor perlu memperhatikan valuasi dan realisasi kinerja.

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Ripple Tambah Mitra Bank Korea, Dampaknya terhadap Harga XRP?
Ripple Tambah Mitra Bank Korea, Dampaknya terhadap Harga XRP?

Ripple memperluas kemitraan di Korea lewat Jeonbuk Bank. Simak dampaknya terhadap harga XRP, adopsi Ripple Payments, dan prospek XRP.

2026-08-19Baca