Lo Kheng Hong Beli Saham Ini, Cek Pilihan Investor Kawakan RI
2026-08-26
Ketika mayoritas investor panik menghadapi koreksi pasar, Lo Kheng Hong justru melakukan hal sebaliknya.
Investor kawakan yang dijuluki Warren Buffett Indonesia ini kembali menekan pedal pembelian di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Hingga Senin, 24 Agustus 2026, IHSG tercatat mengalami koreksi 24,81% year-to-date ke level 6.501,667.
Namun bagi Lo Kheng Hong, justru di sinilah peluang terbaik untuk berburu saham murah.
Aksi borong saham pilihan Lo Kheng Hong terus berlanjut sepanjang Agustus 2026.
Emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD) menjadi salah satu yang paling konsisten dikoleksi, dengan kepemilikan yang semakin menebal dari bulan ke bulan.
Key Takeaways
Lo Kheng Hong kembali memborong saham PT Intiland Development Tbk (DILD) sebanyak 1,35 juta lembar pada 20 Agustus 2026, kepemilikannya menjadi 7,48%.
Investor kawakan yang dijuluki Warren Buffett Indonesia ini mengakumulasi saham properti di tengah koreksi IHSG -24,81% year-to-date per 24 Agustus 2026.
Selain DILD, portofolio Lo Kheng Hong juga mencakup saham-saham unggulan seperti GJTL, SIMP, ABMM, dan BMTR total portofolio diperkirakan mencapai Rp1,83 triliun.
Siapa Lo Kheng Hong? Investor Legenda Pasar Modal RI
Lo Kheng Hong adalah nama yang tidak asing di pasar modal Indonesia.
Pria yang dijuluki "Warren Buffett Indonesia" ini dikenal sebagai investor individu dengan portofolio saham yang sangat besar dan strategi investasi jangka panjang yang konsisten.
Berbeda dengan trader yang mengejar keuntungan jangka pendek, Lo Kheng Hong menganut filosofi value investing, membeli saham perusahaan fundamental baik ketika harganya sedang tertekan, lalu menahannya dalam jangka panjang.
Pendekatan inilah yang membuatnya berhasil mengakumulasi kekayaan dan menjadi panutan bagi banyak investor ritel di Indonesia.
Strategi Lo Kheng Hong sering kali kontra-siklus: ketika pasar sedang lesu dan investor lain keluar, ia justru masuk dan memborong saham-saham yang menurutnya undervalued.
Baca Juga: Saham Haji Isam Apa Saja? Ini Daftar dan Risikonya
Lo Kheng Hong Beli Saham Baru: Borong DILD di Tengah Koreksi
Lo Kheng Hong beli saham baru di PT Intiland Development Tbk (DILD) dengan volume yang cukup besar.
Berdasarkan data transaksi terbaru hingga 20 Agustus 2026, Lo Kheng Hong tercatat membeli 1,35 juta lembar saham DILD di pasar reguler.
Pembelian ini bukanlah aksi pertama Lo Kheng Hong di DILD. Sepanjang tahun 2026, ia tercatat terus mengakumulasi saham emiten properti tersebut secara konsisten.
Berikut adalah kronologi kepemilikan Lo Kheng Hong di DILD sepanjang 2026:
Awal 2026: Kepemilikan sekitar 695,06 juta saham atau sekitar 6%
Per 1 Maret 2026: Meningkat menjadi 707.053.000 saham
Akhir April 2026: 716.806.700 saham (6,92%)
Mei 2026: 733,68 juta saham (7,08%) setelah membeli 15,17 juta saham
Akhir Juni 2026: 761,13 juta saham (7,34%)
Juli 2026: 762,72 juta saham (7,36%) setelah tambahan 500.000 saham
20 Agustus 2026: Ditambah 1,35 juta saham, kepemilikan menjadi 7,48%
Yang menarik, pembelian DILD dilakukan Lo Kheng Hong meskipun harga saham properti tersebut terus bergerak menurun.
Ini sesuai dengan filosofi investasinya: membeli saat harga turun dan pasar sedang ketakutan.
Tertarik mempelajari lebih dalam tentang dunia investasi saham dan kripto? Daftar sekarang di Bittime, platform investasi aset digital terpercaya di Indonesia
Saham Pilihan Lo Kheng Hong Lainnya: Portofolio Lengkap 2026
Selain DILD, saham pilihan Lo Kheng Hong lainnya juga sangat beragam dan tersebar di berbagai sektor.
Berdasarkan data terbaru, berikut adalah beberapa saham properti dan emiten lain yang masuk dalam portofolio Lo Kheng Hong:
Sektor Properti dan Infrastruktur
PT Intiland Development Tbk (DILD) – 7,48% (kepemilikan terbesar)
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) – masuk dalam portofolio
Sektor Industri dan Manufaktur
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) – sekitar 6,26-7,03% kepemilikan
PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) – 50,3 juta saham
Sektor Energi dan Tambang
PT ABM Investama Tbk (ABMM) – 5,64% (155,3 juta saham)
Sektor Perbankan
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) – 29,78 juta saham (0,29%)
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) – 45,90 juta saham (0,18%)
PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) – masuk portofolio
Sektor Media
PT Global Mediacom Tbk (BMTR) – 6,44% kepemilikan
Sektor Perkebunan
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) – dibeli 19,90 juta saham pada Mei 2026
Sektor Pembiayaan
PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) – masuk portofolio
Total nilai pasar dari portofolio Lo Kheng Hong diperkirakan mencapai sekitar Rp1,83 triliun hingga April 2026.
Baca Juga : Beli Saham AS via Kripto, Dapat Reward Harian 7% di Bittime
Strategi Lo Kheng Hong di Tengah IHSG Lesu
Di tengah IHSG yang masih tertekan, Lo Kheng Hong justru menyebut kondisi pasar saat ini sebagai "hujan emas" di Bursa Efek Indonesia.
Baginya, koreksi adalah momen terbaik untuk mengakumulasi saham berkualitas dengan harga diskon.
Strategi yang digunakan Lo Kheng Hong sangat konsisten:
Fokus pada fundamental perusahaan, bukan fluktuasi harga jangka pendek
Akumulasi bertahap (mirip dollar-cost averaging) di saat harga turun
Berorientasi jangka panjang dengan target holding period bertahun-tahun
Diversifikasi antar sektor untuk mengurangi risiko portofolio
Lo Kheng Hong juga dikenal aktif membeli saham yang memberikan dividen konsisten, seperti GJTL yang secara rutin membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.
Baca Juga : 7 Investasi Terbaik 2026 yang Layak Dipertimbangkan Sekarang
Kesimpulan: Mengikuti Jejak Lo Kheng Hong?
Aksi Lo Kheng Hong beli saham baru di DILD dan emiten lainnya menunjukkan bahwa ia tetap optimis terhadap prospek pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
Meskipun IHSG masih tertekan dan sentimen pasar sedang negatif, Lo Kheng Hong justru melihatnya sebagai peluang emas untuk berinvestasi.
Namun, penting untuk diingat bahwa Lo Kheng Hong adalah investor dengan modal besar, pengalaman puluhan tahun, dan kemampuan analisis fundamental yang mumpuni.
Strategi yang ia terapkan mungkin tidak cocok untuk semua orang, terutama investor pemula dengan modal terbatas.
Yang bisa dipelajari dari Lo Kheng Hong adalah disiplin, kesabaran, dan konsistensi dalam menjalankan strategi investasi.
Jangan tergoda untuk ikut-ikutan membeli hanya karena seorang investor besar melakukannya, tetapi pahamilah alasan di balik setiap keputusan investasi.
Baca Juga : IHSG Adalah: Pengertian dan Sejarahnya
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Siapa itu Lo Kheng Hong?
Lo Kheng Hong adalah investor kawakan Indonesia yang dijuluki "Warren Buffett Indonesia" karena strategi investasi jangka panjang dan kesuksesannya di pasar modal. Ia dikenal sebagai salah satu investor individu terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Saham apa yang baru dibeli Lo Kheng Hong?
Lo Kheng Hong beli saham baru PT Intiland Development Tbk (DILD) sebanyak 1,35 juta lembar pada 20 Agustus 2026, meningkatkan kepemilikannya menjadi 7,48%.
Apa saja saham pilihan Lo Kheng Hong?
Saham pilihan Lo Kheng Hong meliputi DILD (properti), GJTL (ban), ABMM (tambang), SIMP (perkebunan), BMTR (media), BDMN dan BNGA (perbankan), serta ADMG dan CFIN.
Mengapa Lo Kheng Hong membeli saham properti di tengah koreksi?
Lo Kheng Hong menganut filosofi value investing, membeli saat harga turun dan pasar sedang ketakutan. Ia melihat saham properti seperti DILD sebagai aset undervalued dengan prospek jangka panjang yang baik.
Berapa nilai portofolio saham Lo Kheng Hong?
Nilai pasar portofolio Lo Kheng Hong diperkirakan mencapai sekitar Rp1,83 triliun per April 2026, dengan kepemilikan di lebih dari 13 emiten.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



