BBCA vs BBRI: Mana yang Lebih Menarik Dibeli pada 2026?

2026-07-16

BBCA vs BBRI: Mana Lebih Menarik Dibeli pada 2026?

BBCA vs BBRI kembali menjadi perbandingan penting bagi investor saham perbankan pada 2026. BBCA menawarkan kualitas fundamental dan stabilitas yang kuat, sedangkan BBRI terlihat lebih murah serta memberikan dividend yield lebih tinggi. Pilihan terbaik bergantung pada target investasi dan toleransi risiko masing-masing investor.

Key Takeaways

  • BBCA unggul dalam kualitas aset, dana murah, efisiensi, dan konsistensi pertumbuhan laba.
  • BBRI menawarkan valuasi lebih rendah serta dividend yield yang jauh lebih tinggi pada harga pasar pertengahan Juli 2026.
  • BBCA lebih cocok untuk investor yang mengutamakan kualitas, sedangkan BBRI menarik bagi value investor dan dividend hunter yang siap menerima risiko lebih besar.

Mengenal Perbedaan Bisnis BBCA dan BBRI

Sebelum membahas saham BBCA vs BBRI, investor perlu memahami bahwa keduanya memiliki karakter bisnis yang berbeda.

PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA merupakan bank swasta yang sangat kuat dalam layanan transaksi, dana murah, kredit korporasi, kredit komersial, dan perbankan konsumer. Ekosistem pembayaran serta basis nasabah transaksional menjadi salah satu keunggulan utama BCA.

Sebaliknya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI dikenal sebagai bank dengan fokus besar pada segmen mikro, usaha kecil, dan menengah. Jaringan BRI yang luas membuat bank ini memiliki posisi kuat dalam inklusi keuangan dan pembiayaan UMKM di Indonesia.

Published
Published
Yuk daftar di Bittime dengan proses cepat, aman, dan mudah supaya bisa trading dan invest token saham!

Perbedaan tersebut memengaruhi karakter fundamental kedua saham:

  • BBCA cenderung memiliki kualitas kredit lebih baik dan laba lebih stabil.
  • BBRI memiliki margin bunga lebih tinggi karena fokus pada pinjaman mikro.
  • BBCA umumnya dihargai lebih mahal oleh pasar.
  • BBRI menawarkan potensi dividend yield dan rerating valuasi yang lebih besar.
  • Risiko kredit BBRI biasanya lebih tinggi karena karakter debitur mikro dan UMKM.

Dengan demikian, membandingkan BBCA atau BBRI hanya berdasarkan harga saham tidak cukup. Investor juga perlu mempertimbangkan kualitas bisnis yang berada di balik harga tersebut.

Baca juga : CDIA vs BBCA: Saham Mana yang Lebih Menarik Dibeli Saat Ini?

Perbandingan Fundamental BBCA dan BBRI pada 2026

Fundamental BBCA: Kualitas Aset Tetap Menjadi Kekuatan

Pada kuartal pertama 2026, BCA membukukan laba bersih konsolidasian sekitar Rp14,7 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar 3,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba memang tidak terlalu agresif, tetapi kualitas neraca BBCA tetap solid. Total kredit mencapai sekitar Rp994 triliun atau tumbuh 5,6% secara tahunan. Dana pihak ketiga tercatat sekitar Rp1.292 triliun.

Salah satu keunggulan terbesar fundamental BBCA adalah komposisi dana murah atau current account saving account. CASA BCA mencapai sekitar Rp1.089 triliun dan tumbuh 11,2% secara tahunan.

BBCA vs BBRI: Mana Lebih Menarik Dibeli pada 2026?

Sumber Tradingview | BBCA Chart 5 Tahunan

Dana murah penting bagi bank karena membantu menekan biaya pendanaan. Semakin besar kontribusi tabungan dan giro, semakin rendah ketergantungan bank terhadap deposito berbiaya tinggi.

Kualitas aset BCA juga relatif terjaga. Rasio kredit bermasalah atau gross non-performing loan berada sekitar 1,8% pada Maret 2026. Angka ini menunjukkan risiko kredit BBCA masih lebih rendah dibandingkan banyak bank besar lain.

Keunggulan utama BBCA meliputi:

  • CASA yang sangat besar dan stabil.
  • Kualitas kredit yang kuat.
  • Basis nasabah transaksional yang loyal.
  • Efisiensi operasional tinggi.
  • Profitabilitas yang konsisten.
  • Infrastruktur digital dan jaringan pembayaran yang matang.

Namun, pertumbuhan laba BBCA yang moderat membuat investor perlu memperhatikan harga pembelian. Saham berkualitas baik tetap dapat menghasilkan return rendah apabila dibeli pada valuasi yang terlalu mahal.

Baca juga : Anomali! Saham RANS Turun meski IHSG Melonjak 1,92%

Fundamental BBRI: Pertumbuhan Laba Mulai Menguat

BBRI mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp15,5 triliun pada kuartal pertama 2026. Nilai tersebut meningkat sekitar 13,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba BBRI lebih tinggi daripada BBCA pada periode tersebut. Perbaikan ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat, biaya dana yang lebih terkendali, dan penguatan pendapatan berbasis komisi.

BRI memiliki keunggulan pada net interest margin karena bunga kredit mikro umumnya lebih tinggi dibandingkan kredit korporasi. Dalam presentasi kinerja kuartal pertama 2026, NIM konsolidasian BRI berada di kisaran 7,9%.

Dana murah juga menunjukkan perkembangan positif. CASA BRI tumbuh sekitar 13,2% secara tahunan sehingga membantu mengurangi tekanan biaya pendanaan.

Meski demikian, kualitas kredit tetap menjadi aspek yang harus diperhatikan. Gross NPL BRI berada sekitar 3% dalam paparan kinerja konsolidasian. Pada laporan publikasi bank individual, gross NPL tercatat sekitar 3,31%.

BBCA vs BBRI: Mana Lebih Menarik Dibeli pada 2026?

Sumber Tradingview | BBRI Chart 5 Tahunan

Perbedaan tersebut dapat terjadi karena cakupan perhitungan dan basis laporan yang digunakan. Investor sebaiknya konsisten membandingkan rasio konsolidasian dengan konsolidasian atau bank only dengan bank only.

Keunggulan utama BBRI meliputi:

  • Posisi dominan di segmen mikro dan UMKM.
  • Margin bunga bersih yang tinggi.
  • Jaringan distribusi luas.
  • Potensi pertumbuhan dari inklusi keuangan.
  • Valuasi yang relatif murah.
  • Kontribusi dividen yang tinggi.

Risiko utama BBRI terletak pada kualitas kredit mikro, tingginya biaya kredit, sensitivitas terhadap perlambatan ekonomi, dan kebijakan pembagian dividen yang besar.

Baca juga : SK Hynix vs Micron: Saham AI Memory Mana yang Lebih Menarik?

BBCA vs BBRI dari Sisi Valuasi

Valuasi merupakan salah satu pembeda paling jelas antara BBCA dan BBRI pada 2026.

Berdasarkan harga penutupan 15 Juli 2026, saham BBCA berada di sekitar Rp6.125 per lembar dengan price-to-earnings ratio sekitar 13 kali. Pada tanggal yang sama, BBRI berada di sekitar Rp2.830 per lembar dengan PER sekitar 7 kali.

Secara sederhana, pasar menghargai setiap rupiah laba BBCA hampir dua kali lebih mahal dibandingkan BBRI. Premium tersebut diberikan karena BBCA memiliki kualitas aset, dana murah, stabilitas laba, dan rekam jejak operasional yang lebih kuat.

BBRI diperdagangkan pada valuasi lebih rendah karena pasar memperhitungkan beberapa risiko, seperti:

  • Risiko kredit mikro dan UMKM.
  • Credit cost yang lebih tinggi.
  • Ketidakpastian pemulihan kualitas aset.
  • Sensitivitas terhadap daya beli masyarakat.
  • Risiko intervensi kebijakan sebagai bank milik negara.
  • Tekanan arus dana asing pada saham perbankan BUMN.

Valuasi murah tidak selalu berarti saham pasti naik. Harga yang rendah dapat mencerminkan masalah fundamental yang belum sepenuhnya selesai.

Sebaliknya, valuasi premium juga tidak selalu berarti saham terlalu mahal. Perusahaan dengan kualitas tinggi dapat mempertahankan premium apabila mampu menjaga return on equity, pertumbuhan laba, dan kualitas aset.

Dalam konteks 2026, BBRI menawarkan margin of safety yang lebih besar dari sisi valuasi. BBCA menawarkan kepastian kualitas yang lebih tinggi, tetapi investor membayar harga lebih mahal untuk keunggulan tersebut.

Baca juga : Saham NVIDIA vs NVDAX: Keunggulan Tokenized Stock di Bittime

Perbandingan Dividen BBCA dan BBRI

Dividen BBCA

Untuk tahun buku 2025, BBCA membagikan total dividen sekitar Rp336 per saham. Jumlah tersebut terdiri dari dividen interim Rp55 dan dividen final Rp281 per saham.

Rasio pembayaran dividen BBCA mencapai sekitar 72% dari laba tahun buku 2025. Dengan menggunakan harga saham Rp6.125 pada 15 Juli 2026, dividend yield historisnya berada di kisaran 5,5%.

Yield tersebut cukup menarik untuk saham dengan kualitas fundamental tinggi. Namun, BBCA bukan pilihan dengan dividend yield terbesar di kelompok bank besar.

Keunggulan dividen BBCA adalah potensi keberlanjutannya. Kualitas laba, modal, dana murah, dan kualitas aset memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga pembagian dividen tanpa terlalu membebani neraca.

Dividen BBRI

BBRI membagikan total dividen sekitar Rp346 per saham dari laba tahun buku 2025. Nilai tersebut terdiri dari dividen interim Rp137 dan dividen final sekitar Rp209 per saham.

Pada harga Rp2.830 per saham, dividend yield historis BBRI mencapai sekitar 12,2%. Yield tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan BBCA.

Namun, investor perlu memahami bahwa yield tinggi dipengaruhi oleh dua faktor:

  1. Pembayaran dividen BBRI memang besar.
  2. Harga saham BBRI mengalami tekanan sehingga rasio yield meningkat.

Dividend yield yang tinggi tidak menjamin return total yang positif. Apabila harga saham turun lebih besar daripada nilai dividen yang diterima, investor tetap dapat mengalami kerugian.

Payout ratio BBRI yang tinggi juga perlu dievaluasi dari sisi keberlanjutan. Semakin besar laba yang dibagikan sebagai dividen, semakin kecil laba yang ditahan untuk mendukung pertumbuhan kredit dan memperkuat modal.

Untuk dividend hunter, BBRI lebih menarik. Untuk investor yang memprioritaskan kesinambungan laba dan kualitas neraca, BBCA menawarkan profil yang lebih defensif.

Baca juga : 7 Saham AS Dividend Terbesar 2026: Strategi Pasif Income untuk Jangka Panjang!

Prospek Investasi BBCA pada 2026

Prospek investasi BBCA ditopang oleh pertumbuhan transaksi digital, basis CASA yang besar, kualitas aset, dan kemampuan BCA mempertahankan loyalitas nasabah.

BBCA juga memiliki peluang memperluas kredit konsumer, komersial, korporasi, dan pembiayaan kendaraan melalui perusahaan anak. Pertumbuhan ekosistem transaksi dapat meningkatkan pendapatan berbasis komisi tanpa menambah risiko kredit secara langsung.

Namun, ada beberapa risiko yang perlu dicermati:

  • Pertumbuhan kredit lebih lambat dari target.
  • Tekanan NIM akibat penurunan yield aset.
  • Valuasi premium mengalami de-rating.
  • Perlambatan konsumsi dan investasi.
  • Penjualan investor asing.
  • Ekspektasi pasar yang terlalu tinggi.

BBCA biasanya lebih menarik saat valuasinya turun tanpa diikuti kerusakan fundamental. Investor perlu membedakan penurunan harga akibat sentimen pasar dengan penurunan karena kualitas bisnis memburuk.

Baca juga : Pasar Saham Amerika Mendominasi Dunia, Lampaui Empat Negara Asia

Prospek Investasi BBRI pada 2026

Prospek BBRI bergantung pada pemulihan segmen mikro, pertumbuhan dana murah, penurunan biaya kredit, dan kemampuan bank menjaga margin bunga.

Apabila kualitas kredit membaik dan credit cost turun, pertumbuhan laba BBRI dapat berlangsung lebih cepat. Valuasi rendah juga membuka peluang rerating ketika sentimen terhadap saham bank BUMN membaik.

Selain itu, ekosistem ultra mikro dan digitalisasi melalui BRImo dapat memperluas akses BRI terhadap nasabah ritel serta pelaku usaha kecil.

Risiko yang perlu dicermati meliputi:

  • Kenaikan NPL segmen mikro.
  • Write-off yang tinggi.
  • Daya beli masyarakat melemah.
  • Kebijakan kredit bersubsidi.
  • Payout ratio dividen terlalu besar.
  • Tekanan terhadap rupiah dan arus dana asing.
  • Perlambatan pertumbuhan ekonomi.

BBRI memiliki potensi upside lebih besar daripada BBCA apabila terjadi pemulihan fundamental dan rerating valuasi. Namun, skenario tersebut juga disertai ketidakpastian lebih tinggi.

Baca juga : Rekomendasi Saham AS yang Bagus di Bulan Juli 2026

BBCA atau BBRI, Mana yang Lebih Menarik?

Tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk seluruh investor.

Pilih BBCA apabila:

  • Mengutamakan kualitas aset dan stabilitas laba.
  • Memiliki horizon investasi jangka panjang.
  • Tidak terlalu mengejar dividend yield tinggi.
  • Bersedia membayar valuasi premium.
  • Menginginkan saham bank dengan profil relatif defensif.
  • Lebih nyaman dengan volatilitas fundamental yang rendah.

Pilih BBRI apabila:

  • Mengutamakan valuasi murah.
  • Mencari dividend yield tinggi.
  • Percaya pada pemulihan segmen mikro dan UMKM.
  • Bersedia menghadapi volatilitas harga lebih besar.
  • Mampu menerima risiko kualitas kredit.
  • Mengejar peluang rerating dan capital gain.

Jika pertanyaannya adalah saham mana yang terlihat lebih murah pada pertengahan Juli 2026, jawabannya adalah BBRI.

Jika pertanyaannya adalah bank mana yang memiliki kualitas fundamental lebih konsisten, jawabannya adalah BBCA.

Untuk value investor yang siap menerima risiko, BBRI terlihat lebih menarik pada valuasi saat ini. Untuk investor konservatif yang mengutamakan kualitas dan compounding jangka panjang, BBCA tetap menjadi pilihan yang lebih solid.

Investor juga dapat mempertimbangkan memiliki keduanya. BBCA dapat menjadi komponen defensif, sedangkan BBRI memberikan eksposur terhadap dividen tinggi dan potensi pemulihan valuasi.

Baca juga : Cara Beli Tokenized Stocks Saham AS di Indonesia: Legal, Aman, & Praktis 2026!

Pantau Sentimen Pasar melalui Bittime

Pergerakan saham bank juga dipengaruhi oleh suku bunga, nilai tukar rupiah, arus modal asing, dan sentimen terhadap aset berisiko.

Kamu dapat mendaftar di Bittime untuk memantau pasar aset digital dan membaca berita ekonomi serta crypto terbaru. Untuk membeli saham BBCA atau BBRI, tetap gunakan perusahaan efek yang berizin dan diawasi regulator pasar modal Indonesia.

Di Bittime juga tersedia market Tokenized Stock untuk perkembangan aset digital lainnya, pantau market Tokenized Stock agar tidak ketinggalan berita terbaru.

Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan harga murah atau dividend yield tinggi. Gunakan laporan keuangan terbaru, valuasi, kualitas aset, dan tujuan investasi sebagai dasar analisis.

Pantau token saham AS: AMZONAMDONTSLAXNFLXON MSFTON dan lebih banyak lagi, kamu bisa mulai trading di Bittime.

Kesimpulan

Perbandingan BBCA vs BBRI pada 2026 menunjukkan dua karakter investasi yang berbeda. BBCA unggul dalam kualitas aset, dana murah, stabilitas laba, dan efisiensi. BBRI menawarkan valuasi lebih murah, pertumbuhan laba kuartalan yang lebih tinggi, dan dividend yield dua digit.

Pada harga pertengahan Juli 2026, BBRI terlihat lebih menarik bagi value investor dan dividend hunter yang siap menghadapi risiko kualitas kredit serta volatilitas. BBCA lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan kualitas bisnis dan konsistensi jangka panjang.

Pilihan akhir sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, target return, horizon investasi, dan harga pembelian. Lakukan pembelian secara bertahap dan perbarui analisis ketika laporan keuangan berikutnya diterbitkan.

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi personal untuk membeli atau menjual saham.

bittime biaya withdrawal murah

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Apakah BBCA lebih bagus daripada BBRI?

BBCA memiliki kualitas aset dan stabilitas laba yang lebih kuat. Namun, BBRI menawarkan valuasi dan dividend yield lebih menarik sehingga dapat lebih sesuai bagi investor dengan toleransi risiko tinggi.

Mana yang dividennya lebih besar, BBCA atau BBRI?

BBRI memberikan dividend yield lebih tinggi pada harga saham pertengahan Juli 2026. Total dividen tahun buku 2025 sekitar Rp346 per saham, dibandingkan BBCA sekitar Rp336 per saham.

Apakah saham BBRI masih menarik dibeli pada 2026?

BBRI menarik dari sisi valuasi rendah dan potensi pemulihan laba. Investor tetap harus memantau NPL, credit cost, pertumbuhan kredit mikro, dan keberlanjutan payout ratio.

Apakah saham BBCA terlalu mahal?

BBCA diperdagangkan dengan valuasi lebih premium dibandingkan BBRI. Premium tersebut mencerminkan kualitas aset, CASA, profitabilitas, dan konsistensi kinerja yang lebih baik.

Apakah sebaiknya membeli BBCA dan BBRI sekaligus?

Memiliki keduanya dapat memberikan diversifikasi karakter saham bank. BBCA dapat berfungsi sebagai saham berkualitas defensif, sedangkan BBRI memberikan eksposur terhadap dividen tinggi dan potensi rerating.

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Apa Itu Flow AI? Tool AI Google untuk Membuat Video Sinematik dari Prompt
Apa Itu Flow AI? Tool AI Google untuk Membuat Video Sinematik dari Prompt

Flow AI: studio kreatif Google untuk membuat video sinematik dari prompt. Text-to-Video, Veo 3.1, Gemini Omni, dan fitur editing canggih. Simak panduannya.

2026-07-16Baca