Panduan Migrasi Ethereum L2 ke EVM Layer 1

2026-02-06
Panduan Migrasi Ethereum L2 ke EVM Layer 1

Migrasi Ethereum Layer 2 ke EVM Layer 1 semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan kontrol jaringan, interoperabilitas, dan fleksibilitas ekonomi token. Langkah ini memungkinkan sebuah blockchain tetap kompatibel dengan Ethereum, namun beroperasi secara mandiri sebagai Layer 1. Artikel ini membahas konsep, tahapan teknis, serta implikasi interoperabilitas dari migrasi tersebut secara ringkas dan mudah dipahami.

Key Takeaways:

  • Migrasi dapat dilakukan tanpa perubahan signifikan bagi pengguna

  • Smart contract EVM tetap berjalan tanpa penulisan ulang

  • Interoperabilitas Ethereum tetap terjaga secara native

lucky draw 15 juta.webp

Alasan Migrasi dari Ethereum L2 ke EVM Layer 1

Migrasi Ethereum L2 ke EVM Layer 1 umumnya dilakukan ketika sebuah proyek membutuhkan kendali penuh atas jaringan. Pada Layer 2, banyak aspek seperti eksekusi transaksi dan penentuan biaya masih bergantung pada infrastruktur tertentu, termasuk sequencer.

Dengan menjadi EVM Layer 1, blockchain memiliki otonomi penuh atas waktu blok, biaya transaksi, serta pengelolaan jaringan. Meski mandiri, kompatibilitas dengan Ethereum Virtual Machine tetap terjaga, sehingga seluruh smart contract dapat berjalan tanpa perubahan berarti.

Pendekatan ini juga mengurangi ketergantungan jangka panjang pada jaringan lain. Bagi proyek dengan ekosistem aplikasi yang mulai berkembang, Layer 1 sering dipandang lebih fleksibel dan berkelanjutan dibandingkan Layer 2.

Baca juga: Harga Ethereum Sempat di Atas 3300 Saat Bitcoin Melemah

Cara Pindah dari Ethereum L2 ke EVM Layer 1

  1. Menyiapkan node EVM Layer 1
    Langkah awal adalah menjalankan satu node Layer 1 yang sudah mendukung EVM dan dikonfigurasi sesuai kebutuhan jaringan, seperti waktu blok dan parameter dasar lainnya.
  2. Menghentikan sementara sequencer Layer 2
    Sequencer Layer 2 dihentikan untuk membekukan kondisi jaringan sehingga tidak ada perubahan status selama proses migrasi berlangsung.
  3. Mengekstraksi smart contract dari Layer 2
    Seluruh bytecode smart contract yang berjalan di Layer 2 diekstraksi untuk memastikan logika aplikasi tetap sama setelah migrasi.
  4. Menyusun genesis Layer 1
    Bytecode smart contract dimasukkan ke dalam konfigurasi genesis Layer 1 agar kondisi kontrak tetap konsisten saat blockchain baru dijalankan.
  5. Menjalankan ulang transaksi tertentu jika diperlukan
    Jika ada transaksi yang tidak tercakup dalam genesis, transaksi tersebut dapat dijalankan ulang secara individual, meskipun kasus ini relatif jarang.
  6. Mengalihkan endpoint RPC ke Layer 1
    Setelah jaringan Layer 1 aktif, endpoint RPC pada dompet dan aplikasi diarahkan ke jaringan baru tanpa memerlukan tindakan dari pengguna.
  7. Menonaktifkan Layer 2 secara permanen
    Setelah seluruh fungsi berjalan stabil, jaringan Layer 2 dapat dihentikan sepenuhnya dan operasional dilanjutkan di Layer 1.

Baca juga : Prediksi Harga Ethereum (ETH) 2026: Prospek Jangka Panjang

Interoperabilitas Ethereum dan Token sebagai Gas Fee

Interoperabilitas Ethereum menjadi elemen penting dalam migrasi ini. Dengan dukungan interoperabilitas native, EVM Layer 1 tetap dapat terhubung langsung ke Ethereum mainnet tanpa perantara terpusat. Hal ini menjaga likuiditas dan konektivitas antar jaringan.

Selain itu, Layer 1 memungkinkan penggunaan token sendiri sebagai gas fee. Pendekatan ini memberi utilitas tambahan pada token dan menyelaraskan ekonomi jaringan dengan aktivitas pengguna. Opsi lain yang dapat diaktifkan adalah staking token sebagai mekanisme keamanan, meskipun hal ini bersifat opsional.

Model ini menunjukkan bahwa migrasi ke EVM Layer 1 bukan hanya perubahan teknis, tetapi juga penyesuaian desain ekonomi blockchain agar lebih mandiri dan efisien.

Baca juga : Ethereum Fusaka Upgrade: PeerDAS, Kapasitas Lebih Besar, dan Perubahan yang Perlu Diketahui

Mulai Perjalanan Kripto Anda Hari Ini

bittime biaya withdrawal murah

Bagi Anda yang ingin ikut terlibat dalam ekosistem kripto yang semakin canggih dan didukung AI, langkah awal yang penting adalah menggunakan platform trading yang tepercaya. 

Lakukan registrasi di platform Bittime untuk mulai bertransaksi aset kripto, mempelajari pasar, dan memahami dinamika on-chain secara langsung sebelum masuk lebih dalam ke dunia DeFi dan AI trading.

Kesimpulan

Migrasi Ethereum L2 ke EVM Layer 1 memberikan kendali penuh atas jaringan tanpa mengorbankan kompatibilitas Ethereum. Dengan mempertahankan smart contract, pengalaman pengguna tetap konsisten, sementara interoperabilitas native memastikan konektivitas lintas jaringan. Meski memerlukan perencanaan teknis yang matang, pendekatan ini menawarkan fleksibilitas, efisiensi, dan fondasi jangka panjang bagi pengembangan blockchain berbasis EVM.

FAQ

Apakah migrasi dari Ethereum L2 ke Layer 1 memengaruhi pengguna?

Tidak secara langsung, karena alamat, aset, dan smart contract tetap sama.

Apakah smart contract perlu ditulis ulang setelah migrasi?

Tidak, selama Layer 1 mendukung EVM secara penuh.

Berapa lama proses migrasi biasanya berlangsung?

Umumnya hanya memerlukan beberapa hari dengan persiapan teknis yang matang.

Apakah interoperabilitas dengan Ethereum masih tersedia?

Ya, interoperabilitas native memungkinkan koneksi langsung ke Ethereum mainnet.

Apakah token proyek bisa digunakan sebagai gas fee?

Bisa, dan hal ini sering menjadi salah satu tujuan utama migrasi ke Layer 1.

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Apa Itu Voyage dan OnVoyage AI dalam Ekosistem AI dan Kripto
Apa Itu Voyage dan OnVoyage AI dalam Ekosistem AI dan Kripto

Voyage dan OnVoyage AI menggabungkan AI dan kripto melalui GEOFi untuk atribusi konten dan sistem nilai digital tanpa iklan.

2026-02-06Baca