Mengapa Stablecoin Membutuhkan Bank untuk Bisa Dipakai Secara Global?
2026-09-07
Stripe rela merogoh kocek $1,1 miliar untuk mengakuisisi Bridge, perusahaan yang justru fokus mengurus hubungan dengan bank. Citi meluncurkan layanan kustodian kripto. Standard Chartered menguji penyelesaian stablecoin di Singapura.
Satu per satu, perusahaan besar yang menggarap volume transaksi institusional justru mendarat di arsitektur yang sama, yaitu integrasi lebih dalam dengan sistem perbankan, bukan menjauhinya. Fenomena ini membalikkan janji awal stablecoin yang katanya bisa memotong jalur bank sepenuhnya.
Key Takeaways
- Pembayaran stablecoin asli baru mencapai $390 miliar per tahun, hanya sekitar 0,02% dari pasar pembayaran lintas batas senilai $208 triliun.
- Ketergantungan pada satu bank jadi risiko operasional terbesar di industri stablecoin, dengan preseden kolapsnya Silvergate dan Signature Bank.
- BIS menilai stablecoin belum layak jadi instrumen pembayaran skala besar dan justru mendorong deposito tertokenisasi sebagai alternatif yang lebih aman.
Kenapa Setiap Transaksi Stablecoin Tetap Berujung di Bank
Bayangkan sebuah perusahaan importir di Brasil yang membayar pemasoknya di Amerika Serikat. Transaksi lintas batas seperti ini sebenarnya punya tiga tahap. Tahap pertama, uang pembayar bergerak dalam mata uang lokal lewat rel pembayaran lokal, misalnya importir Brasil membayar dalam Rial lewat Pix.
Tahap kedua adalah tahap tengah, yaitu memindahkan nilai lintas batas dari satu institusi ke institusi lain. Tahap ketiga, penerima menerima mata uang lokal di ujungnya, misalnya pemasok yang menerima dolar di rekeningnya.
Menurut analisis Decrypt, tahap tengah inilah yang dulu berjalan lewat correspondent banking, di mana pesan SWIFT melompat antarbank perantara, masing-masing menambah waktu satu hari dan biaya tambahan.
Ketika kedua institusi menerima stablecoin, tahap tengah ini bisa selesai on-chain hanya dalam hitungan detik. Namun bank tetap memegang kendali penuh atas dua tahap lainnya, yaitu titik masuk, jangkar kepatuhan, dan rel lokal di setiap pasar yang dilalui pembayaran tersebut.
Skala kesenjangannya cukup mencolok. Pasar pembayaran lintas batas mencapai $208 triliun pada 2025 menurut FXC Intelligence, sementara pembayaran stablecoin asli hanya berjalan sekitar $390 miliar per tahun (annualized) pada akhir 2025 menurut McKinsey dan Artemis, atau sekitar 0,02% dari total volume pembayaran global.
Angka besar seperti "$30 triliun volume stablecoin" yang sering dipakai sebagai headline sebenarnya lebih banyak mencerminkan aktivitas bot, arus bursa, dan trading otomatis, bukan pembayaran sungguhan.
Kalau kamu penasaran dengan pergerakan stablecoin populer seperti USDT dan USDC serta ingin mulai eksplorasi transaksi kripto dengan aman, kamu bisa langsung daftar di Bittime untuk mulai bertransaksi dengan mudah dan terpercaya.

Risiko Ketergantungan pada Satu Bank
Salah satu poin paling penting dari analisis Decrypt adalah soal risiko operasional yang sering diremehkan industri stablecoin, yaitu ketergantungan pada satu mitra bank saja. Bank bisa keluar dari program fintech dan kripto tanpa peringatan jauh-jauh hari.
Mereka bisa meninggalkan koridor tertentu setelah ada perubahan regulasi, atau merevisi selera risiko mereka ketika manajemen berganti atau hasil tinjauan kepatuhan kurang memuaskan.
Sejarah sudah memberikan buktinya. Penutupan Silvergate, penempatan Signature Bank di bawah pengelolaan pemerintah (receivership), dan "surat jeda" dari FDIC yang belakangan didapat Coinbase lewat permintaan catatan publik, semuanya menunjukkan pola yang sama.
Pada Maret 2026, Federal Trade Commission bahkan mengirim surat peringatan resmi kepada PayPal, Stripe, Visa, dan Mastercard terkait praktik debanking, bagian dari upaya federal yang lebih luas yang berakar dari perintah eksekutif Agustus 2025.
Bagi perusahaan dengan satu mitra bank saja, kehilangan hubungan itu berarti penghentian operasional seketika.
Baca Juga: Pendanaan AI Nvidia $500 Miliar, Token AI Crypto Ikut Diuntungkan?
Solusinya, menurut Decrypt, adalah kedalaman perbankan yang membuat kerugian tersebut bisa bertahan, yaitu memiliki banyak koneksi teregulasi, akses rel cadangan, dan arsitektur kepatuhan yang memenuhi setiap yurisdiksi di koridor operasional. Fondasi seperti ini butuh waktu dan biaya besar untuk dibangun, tapi bertahan ketika setup ala demo justru kolaps.
Regulasi terbaru justru memperkuat argumen ini. GENIUS Act, yang ditandatangani Juli 2025, mengaitkan penerbitan stablecoin yang patuh dengan persyaratan cadangan, pengungkapan, dan lisensi setingkat bank.
Bahkan di tempat yang mengizinkan penerbit nonbank, aturan ini tetap mendorong volume besar menuju kemitraan bank dan cadangan yang dikustodi oleh bank. Survei EY-Parthenon menemukan 13% institusi keuangan dan korporasi sudah memakai stablecoin, sementara 80% pengguna yang belum memakainya sedang aktif menjajakinya.
Baca Juga: BIS Ungkap Potensi Baru XRP Ledger untuk Sistem Keuangan Digital
Pandangan BIS: Stablecoin Belum Layak untuk Pembayaran Skala Besar
Berbeda dengan sudut pandang operator industri, Bank for International Settlements (BIS) justru punya pandangan yang jauh lebih skeptis.
General Manager BIS, Pablo Hernandez de Cos, menyatakan stablecoin belum punya kredibilitas untuk menjadi instrumen pembayaran skala besar. Menurut laporan IDNFinancials, institusi yang mengawasi bank sentral dunia ini justru melihat deposito tertokenisasi (tokenized deposits) sebagai jalur yang lebih menjanjikan untuk mengembangkan teknologi aset digital.
"Deposito tertokenisasi menawarkan jalur yang lebih langsung untuk memanfaatkan tokenisasi sambil menjaga fondasi sistem moneter," ujar de Cos dalam simposium kebijakan ekonomi Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming, sebagaimana dikutip Reuters lewat pemberitaan IDNFinancials.
De Cos, yang juga salah satu kandidat pengganti Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde tahun depan, menyoroti beberapa kelemahan stablecoin. Menurutnya, aliran dana dari bank ke platform stablecoin bisa menaikkan biaya pendanaan bank itu sendiri.
Baca Juga: 10 Situs Free Bitcoin Mining dan Faucet 2026, Mana yang Legit?
Ia juga menilai stablecoin bisa mengganggu prinsip "singleness of money", karena konsumen tidak bisa berpindah dari satu produk stablecoin ke produk lain tanpa melakukan transaksi jual-beli yang menimbulkan biaya. Platform stablecoin, menurutnya, juga belum benar-benar interoperable, ditambah risiko pencucian uang karena kontrol transaksi sulit ditegakkan secara konsisten.
Kekhawatiran paling besar dari BIS adalah risiko dolarisasi digital. Jika banyak orang di luar Amerika Serikat beralih ke stablecoin berbasis dolar, ini bisa mengurangi efektivitas transmisi kebijakan moneter domestik dan membuat perekonomian lokal lebih rentan terhadap kebijakan moneter AS.
Pandangan BIS ini berbeda dari sikap pemerintah AS, yang justru mendukung penuh perkembangan stablecoin. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut stablecoin sebagai bagian dari revolusi digital yang bisa memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia sekaligus menciptakan permintaan triliunan dolar untuk obligasi pemerintah AS.
Baca Juga: 10+ Coin AI Terbaik 2026: Ini Daftar Crypto Bertema Artificial Intelligence!
Skala Pasar Stablecoin dan Proyeksi ke Depan
Sebagai konteks tambahan, total kapitalisasi pasar stablecoin saat ini berada di kisaran $314–322 miliar pada pertengahan 2026, dengan USDT mendominasi sekitar 58-59% pasar dan USDC sekitar 24%, sehingga keduanya menguasai sekitar 83% total pasar global.
GENIUS Act mewajibkan penerbit stablecoin beroperasi layaknya "bank sempit", yakni menyimpan cadangan kas dan obligasi Treasury AS secara 1:1, menerbitkan laporan cadangan teraudit, dan dilarang membayar bunga atas kepemilikan stablecoin. Aturan pelaksana penuh ditargetkan berlaku efektif pada 18 Januari 2027.
Meski ada perdebatan soal skalabilitas antara pandangan industri dan regulator, proyeksi jangka panjang tetap optimistis. Citi memproyeksikan pasar stablecoin bisa mencapai $1,9 triliun pada 2030 dalam skenario dasarnya, sementara Standard Chartered melihat potensi $2 triliun pada akhir 2028.
Pembayaran stablecoin B2B sendiri sudah mencapai run-rate tahunan sekitar $226 miliar pada akhir 2025, naik 733% secara tahunan, dengan pertumbuhan terkonsentrasi pada perusahaan yang lebih dulu menyelesaikan lapisan perbankannya sebelum mengembangkan sisi teknologinya.
Baca Juga: 10 Tokenisasi Aset Kripto RWA Terbesar di Dunia
Kesimpulan
Perdebatan seputar masa depan stablecoin ternyata bukan lagi soal apakah teknologi ini bisa menggantikan bank, melainkan seberapa dalam ia harus berintegrasi dengan sistem perbankan yang sudah ada.
Perusahaan yang berhasil menskalakan stablecoin, seperti Stripe dan Standard Chartered, justru membangun kedalaman hubungan bank multi-koridor sebagai fondasi utama, sementara BIS mendorong alternatif deposito tertokenisasi yang tetap berada dalam kendali bank sentral dan bank komersial.
Kedua pandangan ini sama-sama menegaskan satu hal: stablecoin baru bisa benar-benar berkembang secara global kalau infrastruktur perbankan di baliknya sudah cukup matang dan tepercaya.
Ingin punya aset yang nilainya mengikuti dolar AS? Cek pergerakan USDT, USDC, USD1, dan USDS, lalu mulai trading stablecoin favoritmu di Bittime.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Kenapa stablecoin masih membutuhkan bank untuk bisa berkembang secara global?
Karena setiap transaksi pembayaran selalu dimulai dan diakhiri dalam mata uang fiat yang bergerak lewat infrastruktur perbankan teregulasi. Stablecoin hanya bisa menggantikan tahap tengah transaksi lintas batas, bukan keseluruhan prosesnya.
Berapa besar sebenarnya volume pembayaran stablecoin dibanding pasar pembayaran global?
Pembayaran stablecoin asli hanya sekitar $390 miliar per tahun, atau sekitar 0,02% dari pasar pembayaran lintas batas senilai $208 triliun. Angka besar seperti $30 triliun yang sering dikutip mayoritas berasal dari aktivitas bot dan trading, bukan pembayaran sungguhan.
Apa risiko terbesar bagi perusahaan stablecoin yang hanya bergantung pada satu bank? Kehilangan satu-satunya mitra bank bisa menyebabkan penghentian operasional seketika, seperti yang terjadi pada kasus Silvergate dan Signature Bank. Solusinya adalah membangun banyak koneksi perbankan teregulasi sebagai jaring pengaman.
Kenapa BIS skeptis terhadap stablecoin untuk pembayaran skala besar?
BIS menilai stablecoin berisiko mengganggu prinsip "singleness of money", belum benar-benar interoperable, dan berpotensi memicu dolarisasi digital yang melemahkan kebijakan moneter domestik suatu negara. BIS lebih mendukung deposito tertokenisasi sebagai alternatif yang lebih aman.
Apakah pemerintah AS sepakat dengan pandangan BIS soal stablecoin?
Tidak, pemerintah AS justru mendukung penuh perkembangan stablecoin sebagai bagian dari revolusi digital yang bisa memperkuat posisi dolar. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut stablecoin bisa menciptakan permintaan triliunan dolar untuk obligasi pemerintah AS.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



