Bitcoin Digunakan dalam Serangan Ransomware Berlin, Data Korban Rhysida Bocor
2026-09-07
Bitcoin masih jadi mata uang pilihan hampir semua kelompok ransomware di dunia, meski setiap transaksinya tercatat permanen di blockchain yang bisa dilacak siapa saja.
Ironi ini kembali terbukti lewat kasus terbaru: pemerintah negara bagian Berlin, Jerman, menjadi korban serangan ransomware kelompok Rhysida yang meminta tebusan 30 Bitcoin usai membobol jaringan Senat kota. Berlin memilih menolak membayar, dan konsekuensinya, kebocoran data sebesar 5,7 terabyte pun terjadi ke dark web pada awal September 2026.
Kasus ini menarik bukan cuma karena nominal tebusannya, melainkan karena jadi contoh nyata bagaimana Bitcoin masih dipakai secara aktif dalam kejahatan siber, sekaligus bagaimana institusi publik besar semakin berani menolak tunduk pada pemerasan digital.
Key Takeaways
- Rhysida meminta tebusan 30 BTC (sekitar US$2,4 juta) dari pemerintah Berlin usai meretas jaringan Senat kota pada pertengahan Agustus 2026.
- Berlin menolak membayar; Rhysida membocorkan sekitar 5,7–5,8 terabyte data (kurang lebih 1,44 juta file) ke dark web pada 5 September 2026.
- Data Chainalysis menunjukkan porsi korban ransomware yang membayar tebusan turun ke rekor terendah 28% pada 2025, meski Bitcoin tetap jadi alat pembayaran favorit pelaku.
Kronologi Serangan Ransomware Rhysida terhadap Berlin
Jaringan pemerintah negara bagian Berlin diretas sekitar pertengahan Agustus 2026, dengan pelanggaran baru terdeteksi dan diumumkan secara resmi pada 14 Agustus.
Sebagai langkah pengamanan, dua departemen Senat — yang menangani urusan perkotaan dan perumahan, serta mobilitas dan transportasi — sempat diputus dari jaringan negara bagian hingga 23 Agustus, membuat pencairan tunjangan perumahan dan bantuan keluarga tertunda selama masa pemulihan.
Rhysida kemudian mengklaim bertanggung jawab dan meminta tebusan 30 Bitcoin, setara sekitar US$2,4 juta menurut BeInCrypto, atau sekitar €2 juta menurut perhitungan Kanselir Senat Berlin sendiri. Selisih angka ini wajar terjadi karena harga Bitcoin terus bergerak selama masa tenggat pembayaran berlangsung.
Florian Hauer, Chief Digital Officer Berlin, menegaskan sikap kota untuk tidak tunduk pada pemerasan demi keselamatan staf dan warga. Tenggat pembayaran berakhir pada 4 September 2026, dan sehari setelahnya, Rhysida benar-benar mempublikasikan seluruh data curian ke dark web.
Buat pembaca yang ingin mendalami lebih jauh soal keamanan aset digital sekaligus mulai bertransaksi kripto secara aman, mendaftar di platform pedagang aset kripto berizin OJK seperti Bittime bisa jadi langkah awal yang tepat.
Skala Kebocoran Data dan Siapa Sebenarnya Rhysida
Data yang bocor mencapai sekitar 5,7 hingga 5,8 terabyte, terdiri dari kurang lebih 1,44 juta file. Isinya cukup sensitif: puluhan ribu kontrak, ribuan dokumen rahasia komite parlemen, catatan puluhan ribu proses denda administratif, data gaji dan kata sandi pegawai negara bagian, hingga analisis kerentanan infrastruktur kritikal seperti sistem pasokan air minum Berlin.
Otoritas setempat memperingatkan bahwa data pribadi warga biasa, bukan cuma pegawai pemerintah, berpotensi ikut terdampak.
Rhysida sendiri bukan pemain baru di dunia ransomware. Kelompok yang diduga berbasis Rusia atau Eropa Timur ini aktif sejak 2023, dengan rekam jejak menyerang British Museum di tahun yang sama — mencuri sekitar 500.000 file dan tetap mempublikasikannya setelah museum menolak membayar — serta kota Stuttgart dengan pola serangan yang serupa.
Rekam jejak ini membuat ancaman publikasi data Rhysida terhadap Berlin bukan sekadar gertakan.
Baca Juga: Pendanaan AI Nvidia $500 Miliar, Token AI Crypto Ikut Diuntungkan?
Kenapa Bitcoin Masih Jadi Mata Uang Favorit Ransomware?
Menurut laporan Chainalysis 2026 Crypto Crime Report, total pembayaran ransomware berbasis on-chain pada 2025 justru turun 8% menjadi US$820 juta, penurunan tahun kedua berturut-turut. Namun di saat bersamaan, jumlah serangan yang diklaim kelompok ransomware justru melonjak 50%, menjadikan 2025 tahun paling aktif yang pernah tercatat.
Fakta menariknya, porsi korban yang benar-benar membayar tebusan turun ke rekor terendah, hanya 28%. Kasus Berlin yang memilih menolak membayar sebenarnya sejalan dengan tren mayoritas korban ransomware saat ini.
Meski begitu, median nilai pembayaran tebusan yang tetap dibayarkan justru melonjak 368%, dari US$12.738 pada 2024 menjadi US$59.556 pada 2025 — didorong oleh segelintir pembayaran bernilai besar, bukan kembalinya taktik pemerasan skala korporasi besar secara umum.
Jacqueline Koven, Head of Cyber Threat Intelligence di Chainalysis, menjelaskan Bitcoin tetap jadi pilihan utama pelaku ransomware karena sifatnya yang lintas negara, instan, likuid, dan mudah digunakan.
Ironisnya, transparansi blockchain yang membuat setiap transaksi bisa dilacak justru menjadi risiko bagi pelaku kejahatan itu sendiri, karena membuka jalan bagi lembaga penegak hukum untuk menelusuri aliran dana hasil pemerasan.
Baca Juga: BIS Ungkap Potensi Baru XRP Ledger untuk Sistem Keuangan Digital
Kesimpulan
Kasus ransomware Rhysida terhadap Berlin memperlihatkan dua sisi yang saling bertolak belakang: institusi publik besar semakin berani menolak tunduk pada pemerasan digital, sementara Bitcoin tetap bertahan sebagai alat pembayaran favorit pelaku kejahatan siber meski risiko pelacakannya makin tinggi.
Data Chainalysis menegaskan tren ini secara lebih luas — serangan ransomware makin sering terjadi, tapi makin sedikit korban yang akhirnya membayar. Bagi pemerintah maupun perusahaan, insiden ini jadi pengingat bahwa keamanan siber yang kuat jauh lebih murah dibanding menghadapi konsekuensi kebocoran data dalam skala besar.
Cek harga Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), XRP, Solana (SOL), GRAM, dan BNB juga memecoin unggulan DOGE. Kamu bisa trading langsung di Bittime!
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apa itu Rhysida?
Rhysida adalah kelompok ransomware yang aktif sejak 2023 dan diduga berbasis di Rusia atau Eropa Timur, dengan rekam jejak menyerang British Museum dan kota Stuttgart sebelum menargetkan Berlin.
Kenapa Berlin menolak membayar tebusan Bitcoin yang diminta Rhysida?
Pemerintah Berlin menegaskan prinsip tidak tunduk pada pemerasan demi keselamatan staf dan warganya, meski konsekuensinya data curian akhirnya dipublikasikan ke dark web.
Kenapa hacker ransomware sering meminta pembayaran dalam Bitcoin?
Bitcoin dipilih karena sifatnya lintas negara, cepat diproses, likuid, dan mudah digunakan dibanding metode pembayaran konvensional.
Apakah pembayaran Bitcoin untuk ransomware bisa dilacak?
Bisa, karena setiap transaksi Bitcoin tercatat permanen di blockchain sehingga lembaga penegak hukum dapat menelusuri aliran dananya, meski proses pelacakannya tetap memerlukan waktu dan keahlian khusus.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



