Mengapa AS Menolak CBDC Sementara Eropa Justru Mendorong Euro Digital?
2026-06-29
Perkembangan mata uang digital memasuki babak baru setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa mengambil arah kebijakan yang sangat berbeda.
Di saat Uni Eropa mempercepat pengembangan digital euro, Amerika Serikat justru memperkuat larangan terhadap pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) hingga beberapa tahun ke depan.
Perbedaan pendekatan ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan menyangkut strategi ekonomi, kedaulatan moneter, hingga masa depan sistem pembayaran global. Di satu sisi, AS memilih mengandalkan stablecoin yang diterbitkan sektor swasta sebagai representasi dolar digital.
Di sisi lain, Eropa ingin memastikan bank sentral tetap memegang kendali atas infrastruktur uang digital melalui CBDC.
Lantas, mengapa kedua kawasan ekonomi terbesar di dunia memiliki pandangan yang sangat berbeda? Berikut penjelasannya.
Key Takeaways
- Amerika Serikat memilih mengembangkan ekosistem stablecoin dibanding menerbitkan digital dollar berbasis CBDC.
- Uni Eropa justru mempercepat proyek digital euro untuk memperkuat kedaulatan pembayaran dan mengurangi ketergantungan pada perusahaan pembayaran asal AS.
- Perbedaan kebijakan ini berpotensi membentuk dua standar sistem pembayaran digital global yang berbeda dalam beberapa tahun ke depan.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Apa Itu CBDC?
Sebelum membahas perbedaan kebijakan, penting memahami terlebih dahulu apa itu CBDC.
CBDC atau Central Bank Digital Currency adalah mata uang digital resmi yang diterbitkan langsung oleh bank sentral suatu negara. Berbeda dengan aset kripto seperti Bitcoin maupun stablecoin yang diterbitkan perusahaan swasta, CBDC memiliki status sebagai uang resmi negara.
Secara sederhana, CBDC merupakan versi digital dari uang fiat yang dapat digunakan untuk berbagai transaksi sehari-hari dengan dukungan penuh dari bank sentral.
Saat ini lebih dari seratus negara sedang meneliti atau mengembangkan CBDC, termasuk China dengan Digital Yuan, Uni Eropa dengan Digital Euro, serta Indonesia melalui eksplorasi Rupiah Digital.
Baca Juga: 10 Koin CBDC Potensial untuk Bull Run, Beli yang Mana Nih?
Mengapa AS Tolak CBDC?
Kebijakan AS tolak CBDC sebenarnya bukan karena Federal Reserve telah gagal mengembangkan teknologi tersebut. Sebaliknya, bank sentral AS bahkan belum memiliki rencana menerbitkan digital dollar untuk masyarakat umum.
Namun, sejumlah politisi Amerika menilai CBDC berpotensi meningkatkan pengawasan pemerintah terhadap aktivitas keuangan masyarakat.
Kekhawatiran tersebut mendorong lahirnya beberapa kebijakan yang membatasi pengembangan CBDC, mulai dari Executive Order Presiden Donald Trump hingga rancangan undang-undang yang melarang pengembangan mata uang digital bank sentral setidaknya hingga 2030.
Sebagai gantinya, Amerika Serikat memilih strategi berbasis sektor swasta.
Alih-alih menerbitkan digital dollar, pemerintah lebih mendukung perkembangan stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS seperti USDT dan USDC.
Pendekatan ini dianggap mampu mendorong inovasi lebih cepat tanpa membuat pemerintah menjadi operator utama sistem pembayaran digital.
Ingin trading stablecoin populer seperti Tether (USDT)? Lihat harga dan market terbaru hanya di Bittime
Stablecoin Menjadi Senjata Baru Dolar AS
Strategi Amerika cukup masuk akal jika melihat kondisi pasar saat ini.
Stablecoin berbasis dolar telah menjadi tulang punggung ekosistem kripto global dengan nilai kapitalisasi mencapai lebih dari US$317 miliar.
Aset tersebut digunakan untuk perdagangan aset kripto, pembayaran lintas negara, hingga aplikasi decentralized finance (DeFi).
Melalui stablecoin, dominasi dolar AS justru semakin meluas ke dalam ekosistem blockchain tanpa perlu menerbitkan CBDC secara resmi.
Pendukung pendekatan ini berpendapat bahwa sektor swasta lebih inovatif, mampu bergerak lebih cepat, dan dapat memenuhi kebutuhan pasar dibanding sistem yang sepenuhnya dikendalikan pemerintah.
Namun, pendekatan tersebut juga memiliki tantangan berupa fragmentasi likuiditas, risiko penerbit stablecoin, serta kebutuhan regulasi yang lebih ketat.
Baca Juga: Apakah Larangan CBDC Donald Trump bakal Berdampak Negatif Terhadap XRP Atau RLUSD?
Mengapa Eropa Justru Mendorong Digital Euro?
Berbeda dengan Amerika Serikat, Eropa CBDC dipandang sebagai bagian penting dari kedaulatan ekonomi kawasan.
Bank Sentral Eropa (ECB) melihat sistem pembayaran digital saat ini masih terlalu bergantung pada perusahaan asal Amerika seperti Visa dan Mastercard.
Melalui proyek Digital Euro, Uni Eropa ingin membangun infrastruktur pembayaran yang sepenuhnya berada di bawah kendali kawasan Eropa.
Digital euro dirancang bukan untuk menggantikan uang tunai, tetapi melengkapinya.
Masyarakat tetap dapat menggunakan uang fisik, sementara transaksi digital dilakukan menggunakan mata uang resmi bank sentral yang dapat dipakai di seluruh negara anggota eurozone.
Rencana saat ini menunjukkan regulasi dapat selesai pada 2026, dilanjutkan uji coba pada 2027, dan implementasi penuh diperkirakan sekitar 2029.
Salah satu fitur yang menjadi perhatian adalah kemampuan transaksi secara offline, sehingga pembayaran tetap dapat dilakukan meskipun tidak terhubung ke internet.
Perbedaan Filosofi: Pasar Bebas vs Infrastruktur Publik
Jika disederhanakan, perbedaan CBDC Amerika dan Eropa sebenarnya berasal dari filosofi yang berbeda.
Amerika Serikat percaya bahwa inovasi akan berkembang lebih cepat apabila diserahkan kepada perusahaan swasta.
Stablecoin menjadi solusi yang dianggap cukup untuk membawa dolar ke era digital.
Sebaliknya, Uni Eropa melihat sistem pembayaran sebagai infrastruktur publik yang seharusnya tetap berada di bawah pengawasan bank sentral.
Pendekatan ini dinilai mampu menjaga stabilitas sistem keuangan, memperluas inklusi keuangan, serta memastikan mata uang euro tetap kompetitif di era digital.
Baca Juga: CBDC Australia Resmi Deploy di XRP Ledger dan Hedera, Proyek Acacia Rampungkan Pilot
Dampaknya terhadap Industri Kripto
Perbedaan kebijakan ini justru memberikan dinamika baru bagi industri aset digital.
Di Amerika Serikat, dukungan terhadap stablecoin berpotensi mempercepat pertumbuhan ekosistem blockchain, DeFi, tokenisasi aset, hingga pembayaran berbasis kripto.
Hal tersebut menjadi peluang bagi perusahaan blockchain maupun bursa aset kripto karena stablecoin semakin diakui sebagai bagian penting dari sistem keuangan modern.
Sementara itu, keberhasilan digital euro dapat menjadi contoh bagi negara lain yang ingin membangun sistem pembayaran digital berbasis bank sentral.
Dalam jangka panjang, dunia kemungkinan akan memiliki dua model utama uang digital, yaitu stablecoin yang dipimpin sektor swasta dan CBDC yang dikendalikan bank sentral.
Baru mulai investasi crypto? Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) bisa jadi pilihan awal yang populer untuk dipantau dan diperdagangkan di Bittime.
Bagaimana dengan CBDC Indonesia?
Indonesia juga termasuk negara yang aktif mengembangkan CBDC Indonesia melalui proyek Rupiah Digital.
Bank Indonesia telah memperkenalkan Blueprint Garuda sebagai roadmap pengembangan Rupiah Digital.
Fokus awal pengembangan masih berada pada transaksi wholesale antar lembaga keuangan sebelum diperluas ke penggunaan ritel.
Pendekatan Indonesia dapat dikatakan berada di tengah-tengah. Di satu sisi, bank sentral mengembangkan CBDC, tetapi di sisi lain tetap membuka ruang bagi inovasi blockchain dan aset digital yang diatur melalui regulasi.
Baca Juga: Digital Rupiah Bank Indonesia: Proyek Garuda dan Arah Baru Sistem Pembayaran Nasional
Kesimpulan
Perbedaan kebijakan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa menunjukkan bahwa belum ada satu model yang dianggap paling ideal dalam membangun masa depan uang digital.
Amerika memilih memanfaatkan kekuatan stablecoin untuk memperluas dominasi dolar tanpa harus menerbitkan CBDC. Sebaliknya, Uni Eropa melihat digital euro sebagai fondasi penting untuk menjaga kedaulatan moneter dan membangun sistem pembayaran yang lebih mandiri.
Bagi industri kripto, kondisi ini justru membuka peluang baru. Dukungan AS terhadap stablecoin dapat mempercepat adopsi blockchain secara global, sementara pengembangan CBDC di berbagai negara menunjukkan bahwa teknologi aset digital semakin diterima sebagai bagian dari sistem keuangan masa depan.
Pada akhirnya, baik CBDC maupun stablecoin kemungkinan akan hidup berdampingan, dengan fungsi yang saling melengkapi dalam ekosistem keuangan digital global.
Yuk mulai trading crypto dari aset terbesar seperti BTC/IDR dan ETH/IDR langsung di aplikasi Bittime.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apa itu CBDC?
CBDC (Central Bank Digital Currency) adalah mata uang digital resmi yang diterbitkan dan dijamin langsung oleh bank sentral suatu negara.
Mengapa AS menolak CBDC?
Amerika Serikat khawatir CBDC dapat meningkatkan kontrol pemerintah terhadap transaksi masyarakat. Sebagai gantinya, AS lebih mendukung penggunaan stablecoin yang diterbitkan sektor swasta.
Apa itu Digital Euro?
Digital Euro adalah mata uang digital resmi yang sedang dikembangkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) untuk digunakan sebagai alat pembayaran di kawasan euro.
Apa perbedaan CBDC dan stablecoin?
CBDC diterbitkan bank sentral dan merupakan uang resmi negara, sedangkan stablecoin diterbitkan perusahaan swasta dengan nilai yang dipatok terhadap mata uang fiat seperti dolar AS atau euro.
Bagaimana perkembangan CBDC Indonesia?
Bank Indonesia sedang mengembangkan Rupiah Digital melalui Blueprint Garuda. Proyek ini masih berada dalam tahap pengembangan dan akan diterapkan secara bertahap, dimulai dari transaksi antar lembaga keuangan.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



