Salim Group Kuasai Keppel Data Centres, Kini Jadi IndoData!

2026-08-31

Salim Group Kuasai Keppel Data Centres, Kini Jadi IndoData!.png

Delapan tahun lalu, Salim Group dan Keppel Data Centres menjabat tangan untuk membangun pusat data pertama mereka di pinggiran Bogor. Pekan ini, kerja sama itu resmi berubah wajah. Salim Group akuisisi Keppel Data Centres secara penuh dan meluncurkan kembali perusahaan patungan tersebut dengan identitas baru: IndoData Data Center. 

Transaksi ini menambah panjang daftar portofolio taipan Anthoni Salim di sektor infrastruktur digital, sekaligus mempertegas posisinya sebagai salah satu nama besar di balik pergerakan saham data center Indonesia belakangan ini.

Key Takeaways

  • Salim Group kini menguasai 100% IndoData Data Center (dulu IndoKeppel) setelah membeli habis saham Keppel; transaksi sebenarnya sudah rampung sejak Desember 2025.
  • IndoData mengantongi kontrak pasokan listrik hingga 500 MW dari PLN dan baru saja menambah 6 MW IT load untuk salah satu klien hyperscale-nya.
  • Di luar IndoData, Anthoni Salim juga menggenggam 11,12% saham DCII, operator data center terbesar di BEI dengan pangsa pasar sekitar 25,6%.

Kronologi Salim Group Akuisisi Keppel Data Centres, Lahir IndoData

Kisah ini dimulai pada 2018, ketika Salim Group dan Keppel Data Centres meneken kerja sama patungan dengan skema kepemilikan 60:40 untuk membangun pusat data di Kota Bogor, Jawa Barat. 

Proyek bernama IndoKeppel Data Centre 1 (IKDC 1) itu awalnya ditargetkan beroperasi pada 2020, tapi rencana tersebut molor akibat pandemi Covid-19. Tahap pertama berkapasitas 5 MW baru benar-benar menyala pada 2022.

Setelah enam tahun berjalan sebagai usaha patungan, Salim Group memutuskan mengambil alih seluruh saham milik Keppel. Menariknya, transaksi ini sebenarnya sudah tuntas sejak Desember 2025, namun baru diumumkan ke publik pekan ini bersamaan dengan peluncuran identitas baru perusahaan: IndoData Data Center. Nilai transaksi sendiri tidak diungkapkan ke publik.

Fasilitas milik IndoData berdiri di atas lahan sekitar 30 hektare di Bogor dan menyasar segmen klien besar seperti perusahaan AI, penyedia cloud, hingga hyperscaler, menurut laporan w.media

Dalam pengembangan bisnisnya, IndoData mengklaim telah mengamankan kapasitas daya hingga 500 megawatt melalui kontrak dengan PT PLN (Persero) — angka yang terbilang besar untuk ukuran fasilitas data center di Indonesia.

Baca Juga: Pendanaan AI Nvidia $500 Miliar, Token AI Crypto Ikut Diuntungkan?

Ronald Setiawan, mantan direktur IndoKeppel yang kini menjabat Managing Director IndoData, turut mengumumkan penyelesaian tambahan kapasitas IT load sebesar 6 MW yang dikembangkan secara built-to-suit untuk salah satu klien hyperscale yang sudah ada. 

Menurutnya, ekspansi ini mencerminkan kepercayaan berkelanjutan klien tersebut terhadap kemampuan IndoData dalam menyediakan infrastruktur yang andal dan bisa ditingkatkan skalanya, seperti dikutip IDN Financials.

Perkembangan infrastruktur digital seperti ini biasanya turut mendorong minat terhadap aset digital lainnya, termasuk kripto. Kalau kamu tertarik mulai eksplorasi aset kripto lewat platform yang berizin dan diawasi OJK, kamu bisa langsung daftar akun di Bittime dan mulai trading dengan aman.

Saham Salim Group di Balik Ekspansi Data Center: DCII dan Kerajaan Anthoni Salim

Akuisisi IndoData bukan langkah pertama Salim Group di sektor pusat data. Anthoni Salim, pengendali Salim Group, juga memiliki kepemilikan signifikan di PT DCI Indonesia Tbk (DCII), operator data center yang sudah lebih dulu melantai di Bursa Efek Indonesia. Salim Group sendiri didirikan pada 1972 dan memiliki portofolio bisnis luas, mulai dari Indofood, Indomobil, Indomaret, hingga Bogasari. 

Di luar Indonesia, holding investasi Salim Group yang tercatat di bursa Hong Kong, First Pacific, turut mengendalikan operator telekomunikasi PLDT di Filipina, menurut laporan DataCenterDynamics.

Berdasarkan data kepemilikan per 26-27 Agustus 2026 yang dihimpun receh.in, Anthoni Salim mengantongi 11,12% saham DCII — salah satu dari tiga posisi kepemilikan pribadinya di atas 5%, selain DNET (25,30%) dan EMTK (8,97%). Dari ketiga posisi itu, nilai kepemilikannya di DCII tercatat paling besar secara nilai pasar, sekitar Rp54 triliun, meski persentase kepemilikannya lebih kecil dibanding DNET.

Baca Juga: Tokenized Stocks vs Saham Biasa: Pengertian, Perbedaan, dan Cara Beli

DCII sendiri bukan pemain kecil. Riset KB Valbury Sekuritas yang dikutip Suara.com menyebut DCII sebagai operator data center terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 25,6%, dengan industri data center nasional diproyeksikan tumbuh sekitar 25% per tahun hingga 2030. 

Prospek jangka panjang DCII juga ditopang rencana pengembangan Bintan Data Center Park berkapasitas hingga 1.000 MW di atas lahan 700 hektare, yang didukung status Kawasan Ekonomi Khusus dan Free Trade Zone Bintan.

Meski begitu, analis KB Valbury Sekuritas turut mengingatkan bahwa saham DCII sudah diperdagangkan pada valuasi yang sangat premium dengan likuiditas transaksi yang relatif tipis, sehingga berpotensi memicu volatilitas harga. Catatan ini penting buat investor yang tertarik masuk ke tema saham data center lewat DCII, bukan cuma melihat potensi pertumbuhannya saja.

Baca Juga: 10 Situs Free Bitcoin Mining dan Faucet 2026, Mana yang Legit?

Peta Saham Data Center Indonesia di BEI

Saham dengan fokus data center di BEI sebenarnya bukan cuma soal DCII atau Salim Group. Ada empat kelompok emiten yang saling terhubung dalam rantai nilai industri ini, mulai dari operator langsung hingga penyedia listrik. 

Sebagai gambaran skala peluangnya, biaya konstruksi data center di Jakarta tercatat sekitar US$11,21 per watt — sekitar 23% lebih murah dibanding Singapura yang berada di US$14,53 per watt, menurut riset Rikopedia Research. Selisih biaya inilah yang mendorong sejumlah proyek data center regional mulai melirik Indonesia.

Operator Data Center

  • DCII (DCI Indonesia) — operator murni dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia.
  • TLKM (Telkom Indonesia) — mengembangkan data center lewat platform NeutraDC dengan target kapasitas sekitar 500 MW pada 2030, termasuk hub di Batam.
  • ISAT (Indosat Ooredoo Hutchison) — menjalin kerja sama dengan BDx dan mengamankan komitmen pasokan listrik dari PLN hingga sekitar 1,2 GW di Pulau Jawa; sahamnya sempat melonjak 16,84% dalam sehari ke Rp2.220 pada 7 Agustus 2026 usai pengumuman kepemilikan saham minoritas di platform AI Zankore.
  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa) — lewat anak usaha SM+, mengoperasikan sekitar 40 MW kapasitas yang tersebar di 25 lokasi, termasuk fasilitas Tier IV di kawasan CBD Jakarta.
  • INET (Sinergi Inti Andalan) — mengelola ruang data center di Gedung Cyber I dan berencana membangun green data center di lahan seluas 180-200 hektare di Purwakarta.

Listrik & Energi

  • POWR (Cikarang Listrindo) — penyedia listrik captive di kawasan Cikarang.
  • BREN (Barito Renewables Energy)PGEO (Pertamina Geothermal Energy), dan ARKO (Arkora Hydro) — pemasok energi rendah karbon.
  • PGAS (Perusahaan Gas Negara) — penyedia gas untuk kebutuhan energi industri.

Kawasan Industri & Konstruksi

  • DMAS (Puradelta Lestari) — sekitar 70% permintaan lahan industrinya di Cikarang datang dari operator data center.
  • SSIA (Surya Semesta Internusa) — pengembang kawasan Suryacipta, lokasi kampus data center BDx berkapasitas sekitar 300 MW.
  • BEST (Bekasi Fajar Industrial Estate) dan KIJA (Kawasan Industri Jababeka) — berpotensi menampung permintaan lahan tambahan di kawasan Cikarang.
  • TOTL (Total Bangun Persada) — kontraktor dengan pengalaman proyek mechanical-electrical-plumbing untuk data center.

Fiber & Menara

  • MORA (Mora Telematika Indonesia) dan KETR (Ketrosden Triamitra) — infrastruktur fiber optik antar-kota.
  • TOWR (Sarana Menara Nusantara) dan MTEL (Dayamitra Telekomunikasi) — penyedia menara dan jaringan fiber telekomunikasi.

Sebelum tertarik pada salah satu emiten di atas, ada beberapa risiko yang perlu dicermati: keterlambatan eksekusi proyek, peningkatan utang akibat belanja modal besar, keterbatasan pasokan listrik, potensi oversupply kapasitas, valuasi yang terlalu tinggi dibanding fundamental, fluktuasi nilai tukar, hingga konsentrasi pelanggan pada segelintir hyperscaler besar. 

Daftar emiten di atas ditulis untuk tujuan identifikasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau menahan saham tertentu.

Baca Juga: 10+ Coin AI Terbaik 2026: Ini Daftar Crypto Bertema Artificial Intelligence! 

Kesimpulan

Akuisisi penuh Salim Group atas Keppel Data Centres menandai babak baru dalam ekspansi kerajaan bisnis Anthoni Salim di sektor infrastruktur digital, melengkapi kepemilikannya di DCII yang sudah lebih dulu menjadi pemain besar di BEI. 

Di luar cerita Salim Group, tema saham data center Indonesia sendiri jauh lebih luas, mencakup emiten listrik, kawasan industri, hingga operator fiber yang sama-sama kebagian berkah dari pertumbuhan permintaan infrastruktur AI dan hyperscale. Namun seperti tema investasi lainnya, peluang ini tetap diiringi risiko eksekusi, pendanaan, dan valuasi yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan.

Pantau token saham AS: AMZONAMDONTSLAXNFLXON MSFTON dan lebih banyak lagi, kamu bisa mulai trading di Bittime

bittime biaya withdrawal murah

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Apa itu IndoData Data Center? 

IndoData adalah nama baru dari IndoKeppel Data Centres setelah Salim Group membeli seluruh saham Keppel Data Centres di perusahaan patungan tersebut. Perusahaan ini kini beroperasi sebagai operator data center independen di Bogor, Jawa Barat.

Kapan Salim Group menyelesaikan akuisisi Keppel Data Centres? 

Transaksi pembelian saham Keppel sebenarnya sudah rampung sejak Desember 2025, meski pengumuman resmi dan peluncuran nama baru baru dilakukan pada akhir Agustus 2026.

Berapa kapasitas listrik yang dimiliki IndoData? 

IndoData telah mengamankan kontrak pasokan daya hingga 500 megawatt dari PT PLN (Persero), ditambah kapasitas IT load baru sebesar 6 MW untuk salah satu klien hyperscale-nya.

Apa hubungan Anthoni Salim dengan DCI Indonesia (DCII)? 

Anthoni Salim tercatat memiliki 11,12% saham DCII per akhir Agustus 2026, menjadikannya salah satu pemegang saham individu terbesar di operator data center tersebut.

Saham apa saja yang termasuk tema data center di BEI? 

Tema ini mencakup operator seperti DCII dan TLKM, penyedia listrik seperti POWR dan BREN, pengembang kawasan industri seperti DMAS dan SSIA, hingga operator fiber seperti TOWR dan MTEL.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Apa Itu USMS Crypto: Memecoin Narasi Mineral AS Scam atau Legit?
Apa Itu USMS Crypto: Memecoin Narasi Mineral AS Scam atau Legit?

USMS crypto adalah meme coin Solana bertema mineral AS. Harga USMS hari ini jatuh 91,35%, sehingga risiko scam perlu dicermati.

2026-08-31Baca