Perkembangan CBDC 2026: Korea Maju, AS Blokir, Euro Digodok
2026-06-29
Perkembangan CBDC global 2026 menunjukkan arah kebijakan yang semakin beragam. Korea Selatan memperluas uji coba uang digital ke sistem perbankan komersial. Kongres Amerika Serikat memilih membatasi penerbitan CBDC oleh Federal Reserve selama sekitar empat tahun.
Sementara itu, Uni Eropa terus menyusun aturan dan menyiapkan uji teknis digital euro sebagai bagian dari strategi kedaulatan pembayaran kawasan.
Key Takeaways
- Korea Selatan menguji token deposito yang terhubung dengan sistem perbankan, bukan langsung meluncurkan won digital untuk seluruh masyarakat.
- Kongres AS menyetujui pembatasan CBDC hingga akhir 2030, tetapi status akhirnya tetap bergantung pada proses legislasi.
- Uni Eropa melanjutkan pengembangan digital euro meski masih menghadapi perdebatan mengenai privasi, biaya, batas kepemilikan, dan dampaknya terhadap bank.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Apa Itu CBDC?
Central bank digital currency atau CBDC adalah bentuk digital dari mata uang resmi yang diterbitkan atau dijamin langsung oleh bank sentral. Nilainya mengikuti mata uang negara tersebut.
Satu unit CBDC memiliki nilai yang sama dengan satu unit mata uang resmi. Sebagai contoh, satu unit digital euro akan memiliki nilai yang sama dengan satu euro dalam bentuk uang tunai atau saldo perbankan.
CBDC berbeda dari Bitcoin dan aset kripto lainnya. Harga Bitcoin terbentuk melalui permintaan dan penawaran pasar. Sementara itu, nilai CBDC tetap mengikuti mata uang resmi.
CBDC juga berbeda dari stablecoin. Stablecoin diterbitkan oleh perusahaan swasta. Nilainya biasanya didukung oleh uang tunai, surat utang pemerintah, atau aset lainnya. CBDC menjadi kewajiban langsung bank sentral.

(Sumber gambar : AI Image Generated)
Secara umum, CBDC terbagi menjadi dua jenis.
CBDC ritel
CBDC ritel dirancang untuk masyarakat. Pengguna dapat memakainya untuk membayar barang, mengirim uang, atau menyimpan dana dalam batas tertentu.
CBDC ritel sering dibandingkan dengan uang tunai digital karena dapat digunakan dalam aktivitas pembayaran sehari-hari.
CBDC wholesale
CBDC wholesale digunakan oleh bank dan lembaga keuangan. Fungsinya mencakup penyelesaian transaksi antar bank, perdagangan surat berharga, dan pembayaran lintas negara.
CBDC wholesale biasanya tidak digunakan langsung oleh masyarakat umum. Fokusnya terletak pada efisiensi sistem keuangan.
Baca juga : 10 Koin CBDC Potensial untuk Bull Run, Beli yang Mana Nih?
Perkembangan CBDC Global 2026 Semakin Beragam
Pada tahap awal, pembahasan CBDC lebih banyak berfokus pada teknologi. Bank sentral ingin mengetahui apakah uang digital dapat diterbitkan secara aman, cepat, dan efisien.
Pada 2026, pembahasannya menjadi lebih kompleks. Negara tidak lagi hanya bertanya apakah CBDC dapat dibuat. Mereka mulai membahas siapa yang mengelola sistem, siapa yang memegang data, dan bagaimana CBDC mempengaruhi bank.
Beberapa pertanyaan utama yang muncul meliputi:
- Apakah CBDC diterbitkan langsung kepada masyarakat?
- Apakah bank komersial tetap menjadi perantara?
- Siapa yang dapat melihat data transaksi?
- Apakah uang digital dapat diprogram?
- Bagaimana CBDC bersaing dengan stablecoin?
- Apakah CBDC dapat mengurangi peran uang tunai?
- Bagaimana dampaknya terhadap simpanan perbankan?
Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Uni Eropa memberikan jawaban yang berbeda.
Korea Selatan memilih integrasi antara bank sentral dan bank komersial. Amerika Serikat lebih memberi ruang kepada stablecoin dan token deposito swasta. Uni Eropa berupaya mempertahankan keberadaan uang publik dalam sistem pembayaran digital.
Baca juga : CBDC Australia Resmi Deploy di XRP Ledger dan Hedera, Proyek Acacia Rampungkan Pilot
CBDC Korea Selatan Masuk ke Sistem Perbankan
Korea Selatan melanjutkan pengembangan uang digital melalui Project Hangang atau Proyek Han River. Proyek tersebut memasuki tahap lanjutan dengan fokus pada integrasi token deposito ke sistem bank komersial.
Uji coba ini tidak langsung memberikan rekening CBDC kepada seluruh masyarakat. Bank of Korea menyediakan infrastruktur penyelesaian digital. Bank komersial kemudian menerbitkan token deposito untuk nasabahnya.
Model tersebut mempertahankan hubungan antara nasabah dan bank. Bank tetap menjalankan layanan seperti pembukaan rekening, pemeriksaan identitas, kepatuhan, dan pengelolaan transaksi.
Bagaimana model Korea Selatan bekerja?
Sistem tersebut memiliki tiga lapisan utama.
Pertama, Bank of Korea menyediakan infrastruktur uang bank sentral sebagai dasar penyelesaian transaksi.
Kedua, bank komersial menerbitkan token deposito yang mewakili simpanan nasabah.
Ketiga, masyarakat menggunakan token tersebut melalui dompet digital untuk transaksi yang telah ditentukan.
Token deposito tetap menjadi kewajiban bank komersial. Hal ini berbeda dari CBDC ritel yang menjadi kewajiban langsung bank sentral kepada masyarakat.
Pendekatan ini membuat Korea Selatan dapat menguji manfaat teknologi tokenisasi tanpa menghilangkan fungsi utama bank.
Baca juga : Digital Rupiah Bank Indonesia: Proyek Garuda dan Arah Baru Sistem Pembayaran Nasional
Uji Coba CBDC Korea Selatan untuk Subsidi Pemerintah
Salah satu penggunaan yang diuji adalah penyaluran subsidi pemerintah melalui token deposito. Pemerintah dapat memberikan bantuan dalam bentuk voucher digital yang memiliki aturan tertentu.
Sebagai contoh, subsidi dapat dibatasi hanya untuk membeli bahan makanan, kebutuhan pendidikan, atau produk dari pedagang tertentu.
Sistem dapat mencatat apakah dana digunakan sesuai dengan tujuan program. Pemerintah juga dapat mempercepat distribusi bantuan tanpa harus melalui proses administrasi yang panjang.
Manfaat yang mungkin diperoleh antara lain:
- Penyaluran bantuan menjadi lebih cepat.
- Penggunaan dana lebih mudah dipantau.
- Risiko penyalahgunaan dapat berkurang.
- Biaya administrasi dapat ditekan.
- Evaluasi program dapat dilakukan menggunakan data transaksi.
Namun, uang yang dapat diprogram juga menimbulkan pertanyaan penting. Pemerintah dapat memiliki kemampuan lebih besar untuk menentukan bagaimana dana digunakan.
Karena itu, penggunaan uang terprogram membutuhkan dasar hukum, perlindungan data, dan batas kewenangan yang jelas.
Baca juga : Apakah Larangan CBDC Donald Trump bakal Berdampak Negatif Terhadap XRP Atau RLUSD?
Mengapa Korea Selatan Tetap Melibatkan Bank?
Bank menggunakan simpanan nasabah sebagai salah satu sumber dana untuk menyalurkan kredit. Jika masyarakat memindahkan seluruh uangnya ke CBDC yang diterbitkan bank sentral, bank dapat kehilangan sumber pendanaan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya kredit dan menurunkan kemampuan bank untuk membiayai masyarakat serta dunia usaha.
Korea Selatan memilih model dua tingkat untuk mengurangi risiko tersebut. Bank sentral menjaga stabilitas dan menyediakan infrastruktur. Bank komersial tetap menjalankan fungsi intermediasi.
Model ini juga membuat perubahan sistem berjalan lebih bertahap. Masyarakat tidak perlu membuka rekening langsung di bank sentral.
Baca juga : 10+ Coin AI Terbaik 2026: Ini Daftar Crypto Bertema Artificial Intelligence!
Kongres AS Setujui Blokir CBDC Selama 4 Tahun
Amerika Serikat mengambil pendekatan yang berbeda. Kongres menyetujui ketentuan yang membatasi Federal Reserve untuk menerbitkan CBDC hingga 31 Desember 2030.
Ketentuan tersebut dimasukkan dalam paket legislasi yang lebih luas. Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat telah memberikan persetujuan.
Namun, persetujuan Kongres tidak selalu berarti aturan langsung berlaku. Proses legislasi tetap harus diselesaikan sesuai prosedur hukum Amerika Serikat.
Karena itu, frasa “blokir CBDC selama empat tahun” perlu dipahami secara hati-hati. Kongres telah menyetujui pembatasannya, tetapi status hukum akhir harus diperiksa kembali saat artikel diterbitkan.
Baca juga : Bitcoin Crash di Bawah $60.000: Apa yang Terjadi dan Akankah Terus Turun?
Mengapa Amerika Serikat Menolak CBDC?
Penolakan CBDC di Amerika Serikat banyak berkaitan dengan privasi dan kekuasaan pemerintah.
Para penentang khawatir CBDC dapat memberikan akses terlalu besar kepada pemerintah terhadap transaksi masyarakat.

(Sumber gambar : AI Image Generated)
Beberapa kekhawatiran utama meliputi:
- Pemerintah dapat melacak transaksi secara terpusat.
- Rekening atau dompet dapat dibatasi.
- CBDC dapat digunakan untuk mengontrol pengeluaran.
- Dana dapat berpindah dari bank ke Federal Reserve.
- Pemerintah dapat bersaing dengan perusahaan pembayaran swasta.
- CBDC dapat memperbesar kontrol bank sentral atas masyarakat.
Isu tersebut memiliki pengaruh politik yang kuat. Kelompok yang menolak CBDC menilai uang digital bank sentral dapat menjadi alat pengawasan.
Pendukung CBDC memiliki pandangan berbeda. Mereka menilai perlindungan privasi dapat diatur melalui undang-undang dan desain teknologi.
Baca juga : Apakah Bear Market Kripto Akan Datang? Ini Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan
AS Tidak Menolak Semua Bentuk Uang Digital
Pembatasan CBDC tidak berarti Amerika Serikat menolak seluruh inovasi uang digital.
Stablecoin tetap dapat berkembang. Bank juga dapat menerbitkan token deposito selama mematuhi ketentuan yang berlaku.
Hal ini menciptakan tiga model uang digital yang berbeda.
Pertama, stablecoin yang diterbitkan perusahaan swasta.
Kedua, token deposito yang diterbitkan bank komersial.
Ketiga, CBDC yang diterbitkan bank sentral.
Kebijakan Amerika Serikat lebih mendukung dua model pertama. Pemerintah memberikan ruang lebih besar kepada sektor swasta dan perbankan.
Pendekatan tersebut berbeda dari Uni Eropa yang ingin mempertahankan bentuk uang publik dalam pembayaran digital.
Token Deposito Menjadi Alternatif CBDC di AS
Token deposito mewakili uang yang disimpan nasabah di bank. Perbedaannya terletak pada teknologi pencatatan dan penyelesaian transaksi.
Token deposito dapat digunakan untuk transaksi yang berlangsung sepanjang waktu. Proses penyelesaiannya dapat berjalan lebih cepat dibandingkan sistem perbankan tradisional.
Bank besar di Amerika Serikat mulai melihat token deposito sebagai alternatif untuk pembayaran digital.
Manfaat token deposito meliputi:
- Transaksi dapat berjalan 24 jam.
- Penyelesaian dapat berlangsung hampir seketika.
- Token dapat dihubungkan dengan kontrak digital.
- Kepatuhan tetap dikelola oleh bank.
- Risiko dapat dikendalikan melalui sistem perbankan.
Namun, token deposito tetap berada dalam jaringan bank. Masyarakat tidak mendapatkan akses langsung ke uang bank sentral.
Eropa Terus Menggodok Digital Euro
Uni Eropa memilih melanjutkan pengembangan digital euro. European Central Bank atau ECB menyiapkan teknologi, aturan, dan uji coba sebelum mengambil keputusan akhir.
Digital euro dirancang sebagai bentuk uang bank sentral yang dapat digunakan masyarakat dalam pembayaran digital.
Digital euro belum resmi diluncurkan. ECB masih menunggu penyelesaian kerangka hukum dan hasil uji teknis.
Parlemen Eropa, Dewan Uni Eropa, dan Komisi Eropa perlu menyepakati aturan sebelum digital euro dapat diterbitkan.
Jika regulasi selesai sesuai rencana, potensi penerbitan awal dapat terjadi sekitar 2029.
Tahapan Pengembangan Digital Euro
Proses digital euro mencakup beberapa tahap.
Pertama, Uni Eropa menyelesaikan perundingan politik dan regulasi.
Kedua, ECB menyiapkan sistem teknis dan prosedur operasional.
Ketiga, lembaga keuangan serta penyedia pembayaran mengikuti uji coba terbatas.
Keempat, ECB mengevaluasi keamanan, privasi, biaya, dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan.
Kelima, ECB mengambil keputusan akhir mengenai penerbitan.
Pilot digital euro diperkirakan menguji beberapa jenis transaksi, seperti:
- Pembayaran antar pengguna.
- Pembayaran kepada pedagang.
- Transaksi daring.
- Pembayaran offline.
- Pengisian saldo melalui rekening bank.
- Pemindahan dana otomatis antara rekening dan dompet.
Uji coba tersebut belum menjadikan digital euro sebagai alat pembayaran resmi.
Mengapa Eropa Membutuhkan Digital Euro?
Salah satu alasan utama adalah kedaulatan pembayaran. Sistem pembayaran elektronik Eropa masih bergantung pada perusahaan dan jaringan non-Eropa.
Ketergantungan tersebut dapat menjadi risiko strategis. Gangguan politik, ekonomi, atau teknologi dapat mempengaruhi sistem pembayaran kawasan.
Digital euro diharapkan memberikan pilihan pembayaran yang berada di bawah kerangka hukum Uni Eropa.
Ada beberapa tujuan utama digital euro.
1. Menjaga keberadaan uang publik
Masyarakat semakin jarang menggunakan uang tunai. Pembayaran berpindah ke kartu, aplikasi, dan dompet elektronik.
Digital euro dapat menjaga akses masyarakat terhadap uang bank sentral dalam bentuk digital.
2. Mengurangi ketergantungan pada perusahaan asing
Jaringan pembayaran Eropa banyak bergantung pada perusahaan internasional. Digital euro dapat memberikan alternatif yang dikendalikan institusi Eropa.
3. Mendukung pembayaran lintas negara
Digital euro dapat digunakan di seluruh kawasan euro dengan standar yang sama. Hal ini dapat mengurangi fragmentasi sistem pembayaran nasional.
4. Menyediakan pembayaran offline
ECB mengembangkan kemampuan pembayaran tanpa koneksi internet. Fitur ini dapat membantu saat terjadi gangguan jaringan atau keadaan darurat.
5. Meningkatkan persaingan
Digital euro dapat menambah pilihan bagi pedagang dan konsumen. Persaingan yang lebih besar berpotensi menurunkan biaya pembayaran.
Pro dan Kontra Digital Euro
Digital euro mendapatkan dukungan karena dapat memperkuat kedaulatan keuangan Eropa. Namun, proyek tersebut juga mendapat kritik.
Argumen yang mendukung digital euro
Pendukung menilai digital euro dapat menjaga peran uang publik. Tanpa CBDC, pembayaran digital dapat dikuasai sepenuhnya oleh bank dan perusahaan swasta.
Digital euro juga dapat mengurangi ketergantungan Eropa pada jaringan pembayaran asing.
Selain itu, sistem tersebut dapat mendukung inovasi pembayaran, transaksi lintas negara, dan pembayaran offline.
Kritik terhadap digital euro
Kritik utama berkaitan dengan privasi. Masyarakat khawatir transaksi dapat dilacak oleh bank sentral atau pemerintah.
ECB menyatakan akan menggunakan prinsip privacy by design. Namun, perlindungan sebenarnya tetap bergantung pada aturan hukum dan desain teknis.
Kritik lainnya berkaitan dengan biaya. Bank dan penyedia pembayaran harus membangun infrastruktur baru. Mereka juga harus menyesuaikan sistem keamanan, aplikasi, dan kepatuhan.
Batas kepemilikan juga menjadi persoalan. ECB dapat membatasi saldo digital euro agar dana tidak berpindah terlalu besar dari bank.
Batas yang terlalu rendah dapat mengurangi manfaat digital euro. Batas yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terhadap simpanan perbankan.
Perbedaan Arah Korea Selatan, AS, dan Eropa
Korea Selatan memilih pendekatan berbasis kolaborasi. Bank sentral menyediakan infrastruktur. Bank komersial menerbitkan token deposito dan melayani nasabah.
Fokus Korea Selatan berada pada efisiensi perbankan, tokenisasi, dan distribusi subsidi pemerintah.
Amerika Serikat memilih membatasi CBDC yang diterbitkan Federal Reserve. Pemerintah lebih memberi ruang kepada stablecoin dan token deposito bank.
Fokus Amerika Serikat berada pada privasi, inovasi sektor swasta, dan pembatasan kekuasaan bank sentral.
Uni Eropa memilih mempertahankan opsi CBDC ritel. Digital euro dirancang sebagai bentuk uang publik yang tetap digunakan melalui bank dan penyedia pembayaran.
Fokus Eropa berada pada kedaulatan pembayaran, persaingan, privasi, dan pengurangan ketergantungan terhadap jaringan asing.
Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa masa depan CBDC tidak akan seragam.
Dampak CBDC terhadap Kedaulatan Uang
Kedaulatan uang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mencetak uang. Dalam ekonomi digital, kedaulatan juga mencakup kontrol terhadap sistem pembayaran, data transaksi, dan infrastruktur teknologi.

(Sumber gambar : AI Image Generated)
CBDC dapat memperkuat kedaulatan uang melalui beberapa cara.
- Menjaga peran bank sentral dalam sistem pembayaran.
- Mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan asing.
- Menyediakan alternatif bagi stablecoin.
- Menjamin penyelesaian melalui uang bank sentral.
- Mempertahankan efektivitas kebijakan moneter.
- Menjaga mata uang nasional tetap relevan.
Namun, sistem yang terlalu terpusat juga memiliki risiko.
Jika bank sentral mengendalikan seluruh transaksi, kekuasaan tersebut dapat disalahgunakan. Karena itu, perlindungan hukum dan teknologi harus disiapkan sejak awal.
Kedaulatan moneter tidak boleh menghilangkan hak privasi masyarakat.
7 Dampak CBDC terhadap Bank dan Masyarakat
1. Transaksi menjadi lebih cepat
CBDC dapat mempercepat penyelesaian pembayaran. Manfaat ini sangat penting untuk transaksi antar bank dan lintas negara.
2. Biaya pembayaran dapat menurun
Infrastruktur digital dapat mengurangi jumlah perantara. Namun, biaya akhir tetap bergantung pada model bisnis dan regulasi.
3. Bank berisiko kehilangan simpanan
Masyarakat dapat memindahkan uang dari rekening bank ke CBDC. Kondisi ini dapat menurunkan sumber dana perbankan.
4. Penyaluran bantuan menjadi lebih efisien
Pemerintah dapat mengirim subsidi secara langsung dan memantau penggunaannya. Namun, aturan penggunaan harus tetap menghormati hak penerima.
5. Privasi menjadi isu utama
CBDC dapat menghasilkan data transaksi dalam jumlah besar. Pemerintah perlu membatasi akses dan penggunaan data tersebut.
6. Stablecoin menghadapi pesaing baru
CBDC memiliki dukungan bank sentral. Stablecoin memiliki fleksibilitas dan keterbukaan jaringan.
Persaingan keduanya akan membentuk sistem pembayaran digital masa depan.
7. Pembayaran lintas negara dapat berubah
CBDC wholesale dapat mempercepat transaksi antarnegara. Sistem ini juga dapat mengurangi biaya konversi dan penyelesaian.
Masa Depan Central Bank Digital Currency
Masa depan CBDC kemungkinan akan berkembang melalui beberapa model sekaligus.
CBDC ritel dapat berkembang di negara yang ingin mempertahankan uang publik dalam pembayaran digital.
CBDC wholesale dapat berkembang lebih cepat karena digunakan oleh bank dan lembaga keuangan. Risiko politiknya juga lebih rendah dibandingkan CBDC ritel.
Token deposito akan menjadi pilihan bagi negara yang ingin mempertahankan peran bank komersial.
Stablecoin akan tetap berkembang, terutama di negara yang memberikan ruang besar kepada sektor swasta.
Beberapa tren utama yang perlu diperhatikan adalah:
- Model dua tingkat akan semakin umum.
- CBDC wholesale akan berkembang lebih cepat.
- Token deposito akan menjadi alternatif penting.
- Stablecoin akan mendorong respons bank sentral.
- Privasi akan menentukan tingkat adopsi.
- Pembayaran offline akan menjadi fitur penting.
- Interoperabilitas akan lebih penting daripada jenis blockchain.
- Regulasi akan menentukan arah inovasi.
Kesimpulan
Perkembangan CBDC global 2026 menunjukkan tiga strategi yang berbeda.
Korea Selatan mengintegrasikan token deposito dengan bank komersial dan program subsidi pemerintah. Negara tersebut memilih model yang tetap menjaga peran perbankan.
Kongres Amerika Serikat menyetujui pembatasan penerbitan CBDC oleh Federal Reserve hingga akhir 2030. AS lebih memberi ruang kepada stablecoin dan token deposito swasta.
Uni Eropa melanjutkan persiapan digital euro untuk menjaga kedaulatan pembayaran dan keberadaan uang publik dalam ekonomi digital.
Tidak ada model yang sepenuhnya bebas risiko. Korea Selatan perlu mengatur uang terprogram. Amerika Serikat perlu mengawasi dominasi stablecoin. Eropa perlu menyeimbangkan privasi, stabilitas bank, dan kebutuhan pengguna.
Masa depan CBDC tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Kepercayaan publik, regulasi, perlindungan data, dan tata kelola akan menentukan keberhasilannya.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apakah Korea Selatan sudah meluncurkan CBDC?
Belum. Korea Selatan masih menjalankan uji coba Project Hangang. Fokusnya berada pada CBDC wholesale dan token deposito bank.
Apakah Amerika Serikat sudah melarang CBDC?
Kongres AS telah menyetujui pembatasan CBDC hingga akhir 2030. Status akhirnya tetap bergantung pada penyelesaian proses legislasi.
Kapan digital euro diluncurkan?
Digital euro belum memiliki tanggal peluncuran pasti. Potensi penerbitan awal diperkirakan sekitar 2029 jika regulasi dan uji teknis selesai.
Apakah CBDC sama dengan stablecoin?
Tidak. CBDC diterbitkan atau dijamin langsung oleh bank sentral. Stablecoin diterbitkan oleh perusahaan swasta.
Apakah CBDC akan menggantikan uang tunai?
Sebagian besar proyek CBDC dirancang untuk melengkapi uang tunai. Kebijakan akhir akan bergantung pada keputusan setiap negara.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



