Mining Bitcoin di Luar Angkasa: Startup Nvidia Siap Jadi yang Pertama
2026-03-10
Sebuah startup bernama Starcloud baru saja mengumumkan rencana yang terdengar seperti fiksi ilmiah tapi sedang benar-benar terjadi: menambang Bitcoin dari orbit bumi menggunakan satelit bertenaga surya.
CEO Philip Johnston mengonfirmasi rencana ini dalam wawancara dengan HyperChange pada 7 Maret 2026, dan langsung viral di komunitas crypto global.
Jika peluncuran Starcloud-2 berjalan sesuai jadwal akhir 2026, perusahaan berbasis Redmond, Washington ini akan menjadi perusahaan pertama di dunia yang menambang Bitcoin di luar angkasa.
Key Takeaways
Starcloud akan meluncurkan satelit kedua berisi ASIC miner Bitcoin ke orbit rendah Bumi akhir 2026.
ASIC 30x lebih murah per kilowatt dibanding GPU, itulah alasan utama mining lebih masuk akal di luar angkasa.
Proyek ini masih eksperimental, profitabilitas nyata belum terbukti, tapi teknisnya sudah feasible.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Siapa Starcloud?
Starcloud didirikan awal 2024 dengan misi membangun pusat data orbital sebagai solusi untuk kebutuhan energi komputasi AI yang terus melonjak. Perusahaan ini didukung oleh Nvidia dan telah menyelesaikan pendanaan pre-seed sebesar $2,4 juta dengan valuasi sekitar $100 juta.
Tim intinya bukan nama sembarangan. CEO Philip Johnston berlatar belakang McKinsey dengan pengalaman di proyek satelit untuk lembaga antariksa nasional, dan memegang gelar dari Harvard, Wharton, dan Columbia.
CTO-nya memiliki 20 tahun pengalaman di Airbus Defense & Space dengan gelar PhD dari Imperial College London.
Chief Engineer-nya sebelumnya bekerja 20 tahun di Microsoft dan SpaceX mengembangkan sistem pelacak untuk Starlink.
Pada November 2025, Starcloud berhasil meluncurkan Starcloud-1, sebuah satelit seukuran kulkas seberat 50 kg yang membawa chip Nvidia H100 ke orbit rendah Bumi.
Ini adalah pertama kalinya GPU sekelas itu pernah beroperasi di luar angkasa, dan kabarnya berhasil menjalankan serta melatih model AI kecil langsung dari orbit.
Baca juga : Free Crypto Mining Apps 2026: The Best Options for Earning Profits from Crypto
Mengapa Bitcoin? Mengapa Sekarang?
Jawaban singkatnya: ekonomi. Johnston menjelaskan bahwa chip ASIC yang digunakan untuk menambang Bitcoin jauh lebih murah dan lebih efisien untuk dioperasikan di luar angkasa dibanding GPU untuk AI.
"GPU B200 1 kilowatt bisa seharga $30.000. ASIC 1 kilowatt cuma sekitar $1.000," kata Johnston. Perbedaan 30 kali lipat ini sangat signifikan ketika biaya peluncuran masih dihitung per kilogram muatan.
Baca juga : Cara Membeli Bitcoin (BTC)
Tiga keunggulan struktural yang membuat luar angkasa menarik untuk mining Bitcoin:
Energi surya gratis dan konstan : di orbit rendah Bumi, satelit mendapat paparan sinar matahari hampir terus-menerus tanpa bersaing dengan jaringan listrik bumi.
Pendinginan alami : suhu vakum luar angkasa mencapai -270 derajat Celsius, menghilangkan kebutuhan sistem pendingin yang mahal dan boros energi di data center konvensional.
Tanpa regulasi energi : tidak ada keluhan kebisingan, tidak ada tarif listrik lokal yang fluktuatif, dan tidak ada risiko penggerebekan pemerintah atas konsumsi energi berlebih.
Johnston bahkan menyebut ini bukan sekadar ide: "Bitcoin mining mengonsumsi sekitar 20 GW daya secara terus-menerus.
Tidak masuk akal melakukan ini di Bumi, pada akhirnya semua ini akan dilakukan di luar angkasa."
Rencana Besar: 88.000 Satelit

Starcloud sudah mengajukan aplikasi ke FCC Amerika Serikat untuk mengoperasikan konstelasi hingga 88.000 satelit sebagai pusat data orbital.
Di dalam jaringan besar itu, sebagian kapasitas akan menjalankan beban kerja AI, sementara sebagian lainnya akan menambang Bitcoin menggunakan energi surya berbasis orbit.
Starcloud-2, satelit kedua yang akan membawa ASIC miner Bitcoin, dijadwalkan diluncurkan akhir 2026, kemungkinan besar menggunakan roket Starship milik SpaceX yang memang dirancang untuk membawa muatan berat ke orbit.
Jika berhasil, Starcloud akan menjadi perusahaan pertama yang pernah menambang cryptocurrency di luar Bumi.
Kompetitor juga mulai bergerak.
Intercosmic Energy adalah startup lain yang sedang mengembangkan konsep serupa, satelit sebagai pusat penerbitan Bitcoin yang terdesentralisasi, namun hingga saat ini belum ada implementasi nyata yang terlaksana.
Baca juga : Aplikasi Crypto Mining Free 2026: Pilihan Terbaik untuk Menghasilkan Keuntungan dari Crypto
Risiko yang Belum Terjawab
Gagasan ini menarik, tapi sejumlah pertanyaan besar belum memiliki jawaban konkret.
Pertama, biaya peluncuran tetap mahal
Bahkan dengan Starship yang menekan harga per kilogram ke orbit, menempatkan ribuan ASIC miner di luar angkasa masih membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dari data center konvensional di Bumi.
Kedua, perangkat keras di orbit tidak bisa diperbaiki
Chip ASIC cepat usang, siklus generasinya bisa 12–18 bulan. Di Bumi, penambang tinggal mengganti hardware lama dengan yang baru. Di orbit, tidak ada opsi itu. Johnston sendiri mengakui bahwa profitabilitas bisa anjlok cepat seiring munculnya generasi ASIC berikutnya.
Ketiga, kondisi fisik luar angkasa keras
Radiasi, puing orbit, dan siklus termal ekstrem adalah tantangan nyata yang belum ada bukti bisa diatasi dalam skala mining komersial jangka panjang.
Kepala divisi AWS bahkan menyatakan awal Februari 2026 bahwa pusat data berbasis luar angkasa masih "sangat jauh dari realita ekonomi yang solid", sebuah pandangan skeptis dari salah satu pemain cloud terbesar di dunia.
Baca juga : Panduan Cara Mining Bitcoin di Rumah: Metode dan Perangkatnya
Penutup: Apa Artinya untuk Bitcoin?
Secara teori, jika Starcloud berhasil dan model ini terbukti menguntungkan, implikasinya untuk jaringan Bitcoin cukup besar. Hashrate global bisa terdiversifikasi secara geografis ke orbit, mengurangi ketergantungan pada pusat mining yang terkonsentrasi di beberapa negara.
Latensi sinyal di vakum juga sedikit lebih cepat dari atmosfer bumi, yang secara teoritis bisa mengurangi orphaned block dalam proses propagasi blok.
Namun untuk saat ini, harga Bitcoin berada di $69.041, turun hampir 48% dari ATH $126.080 pada Oktober 2025, dan kesulitan mining baru saja turun 7% dari rekor tertingginya.
Penambang di Bumi sedang berjuang dengan margin yang menipis. Starcloud hadir tepat di momen ketika industri sedang mencari terobosan efisiensi yang sesungguhnya.
Apakah mining Bitcoin dari luar angkasa akan menjadi kenyataan dalam 5 tahun ke depan, atau tetap sebagai eksperimen mahal yang tidak pernah mencapai skala komersial, itu masih belum terjawab. Yang jelas, ini bukan lagi sekadar wacana.
Cara Beli Crypto di Bittime?
Ingin trading jual beli Bitcoin dan investasi crypto dengan mudah? Bittime siap membantu! Sebagai exchange crypto Indonesia yang terdaftar resmi di Bappebti, Bittime memastikan setiap transaksi aman dan cepat.
Mulai dengan registrasi dan verifikasi identitas, lalu lakukan deposit minimal Rp10.000. Setelah itu, kamu bisa langsung beli aset digital favoritmu!
Cek kurs BTC to IDR, ETH to IDR, SOL to IDR dan aset kripto lainnya untuk mengetahui tren crypto market hari ini secara real-time di Bittime.
Selain itu, kunjungi Bittime Blog untuk mendapatkan berbagai update menarik dan informasi edukatif seputar dunia crypto. Temukan artikel terpercaya tentang Web3, teknologi blockchain, dan tips investasi aset digital yang dirancang untuk memperkaya pengetahuan kamu dalam dunia kripto.
FAQ
Apa itu Starcloud dan siapa yang mendukungnya?
Starcloud adalah startup berbasis Redmond, Washington yang didukung Nvidia, berencana membangun pusat data orbital dan menambang Bitcoin dari luar angkasa.
Kapan Starcloud akan mulai menambang Bitcoin di luar angkasa?
Satelit Starcloud-2 yang membawa ASIC miner Bitcoin dijadwalkan diluncurkan akhir 2026, kemungkinan menggunakan roket Starship milik SpaceX.
Mengapa ASIC lebih cocok untuk mining di luar angkasa dibanding GPU?
ASIC 30 kali lebih murah per kilowatt dibanding GPU — pada $1.000 per kilowatt versus $30.000 untuk GPU B200, perbedaan ini sangat signifikan saat biaya dihitung per kilogram muatan peluncuran.
Apa keunggulan menambang Bitcoin di luar angkasa?
Tiga keunggulan utama: energi surya gratis dan konstan, pendinginan alami dari vakum luar angkasa, dan tidak ada regulasi energi atau tarif listrik lokal.
Apa risiko terbesar proyek ini?
Hardware di orbit tidak bisa diganti saat usang, biaya peluncuran masih mahal, dan radiasi serta puing orbit adalah tantangan fisik yang belum terbukti bisa diatasi dalam skala komersial.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



