Ethereum Bisa Tertinggal dari L1 Lain? Ini Ancaman Tokenisasi

2026-10-05

Ethereum Bisa Tertinggal dari L1 Lain? Ini Ancaman Tokenisasi

Ethereum selama ini menjadi salah satu blockchain utama dalam ekosistem aset digital. Namun, ketika Ethereum tokenisasi memasuki fase baru, muncul pertanyaan penting: apakah Ethereum L1 justru berisiko kehilangan sebagian peluang dari pertumbuhan tokenized assets?

Kekhawatiran tersebut muncul karena aktivitas tokenisasi mulai berkembang di Ethereum L2 dan jaringan lain seperti Base, Arbitrum, serta Robinhood Chain. Di sisi lain, Ethereum masih memiliki keunggulan besar dalam ekosistem aset teregulasi sehingga isu ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Ethereum telah kalah. 

Key Takeaways

  • Ethereum menghadapi persaingan baru dalam tokenisasi, terutama dari L2 dan blockchain yang lebih baru.
  • Rendahnya volume tokenized stocks di Ethereum L1 tidak otomatis berarti ekosistem Ethereum kehilangan dominasi.
  • Masa depan Ethereum dalam tokenisasi akan bergantung pada kemampuan L1, L2, dan ekosistemnya menarik penerbit serta aset institusional.

Mengapa Ethereum dan Tokenisasi Sedang Jadi Sorotan?

Tokenisasi mengubah aset dunia nyata seperti saham, obligasi, dan instrumen keuangan menjadi representasi digital yang dapat diperdagangkan atau digunakan dalam infrastruktur blockchain.

Tren ini penting karena pasar sekuritas tokenisasi saat ini diperkirakan sekitar US$3,2 miliar dan disebut berpotensi mencapai sekitar US$2 triliun pada 2028. Jika pertumbuhan tersebut terjadi, blockchain yang menjadi infrastruktur utama penerbitan dan perdagangan aset berpotensi memperoleh nilai ekonomi yang besar.

Karena itu, persaingan tokenisasi tidak hanya terjadi antar proyek crypto. Blockchain juga mulai bersaing untuk menjadi infrastruktur bagi institusi keuangan dan perusahaan besar.

Baca juga : Harga Ethereum Setelah CPI AS: Apakah ETH Berpotensi Naik?

Apakah Ethereum L1 Mulai Tertinggal?

Salah satu masalah yang memicu perdebatan adalah posisi Ethereum L1 dalam perdagangan tokenized stocks di spot DEX.

Data yang dikutip dalam pembahasan terbaru menunjukkan Ethereum mainnet memiliki hampir nol pangsa dalam volume perdagangan saham tokenisasi di spot DEX. Pada saat yang sama, aktivitas justru berkembang melalui jaringan seperti Robinhood Chain, Arbitrum, dan Base.

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan: jika aktivitas tokenisasi semakin besar tetapi transaksi tidak terjadi langsung di Ethereum L1, seberapa besar nilai ekonomi yang benar-benar ditangkap oleh Ethereum?

Namun, rendahnya volume DEX tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai kegagalan Ethereum dalam tokenisasi.

Ethereum Bisa Tertinggal dari L1 Lain? Ini Ancaman Tokenisasi

Ethereum L1 vs Ethereum L2 dalam Tokenisasi

Ethereum memiliki struktur yang berbeda dibanding blockchain yang hanya mengandalkan satu jaringan utama.

Ethereum L1 berfungsi sebagai lapisan dasar, sementara L2 dirancang untuk menangani aktivitas dengan biaya dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, perusahaan dapat membangun aplikasi atau bahkan jaringan L2 sendiri sambil tetap menggunakan ekosistem Ethereum.

Contohnya adalah Robinhood Chain. Aktivitas tokenisasi dapat berlangsung di jaringan tersebut, tetapi masih memiliki hubungan dengan infrastruktur Ethereum. Dari perspektif ekosistem, perpindahan aktivitas ke L2 tidak selalu berarti pengguna meninggalkan Ethereum.

Masalahnya adalah value capture.

Jika sebagian besar aktivitas, pengguna, dan biaya ekonomi berpindah ke L2, pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar manfaat tersebut kembali kepada Ethereum L1.

Baca juga : ETH Mendekati US 2.500,Apakah US3.000 Jadi Target Berikutnya?

3 Alasan Ethereum Bisa Tertinggal dalam Tokenisasi

1. Blockchain baru lebih agresif mengejar aset baru

Ethereum memiliki keunggulan historis dalam crypto assets. Namun, saham dan aset finansial lainnya merupakan kategori baru yang masih terbuka untuk diperebutkan.

Blockchain yang lebih baru dapat mendesain infrastrukturnya secara khusus untuk kebutuhan institusi, termasuk biaya, kecepatan, kepatuhan, dan pengalaman pengguna.

2. Aktivitas tokenisasi semakin tersebar

Pertumbuhan tokenisasi tidak harus terjadi di Ethereum mainnet.

Base, Arbitrum, Robinhood Chain, dan jaringan lainnya dapat menjadi tempat penerbitan serta perdagangan aset tokenisasi. Kondisi ini membuat Ethereum harus bersaing bukan hanya dengan Solana atau BNB Chain, tetapi juga dengan berbagai jaringan yang memiliki fokus khusus.

3. Ethereum harus menentukan peran L1 dan L2

Persoalan terbesar bukan sekadar jumlah transaksi.

Ethereum perlu memiliki strategi yang jelas mengenai aktivitas yang sebaiknya tetap berada di L1, aktivitas yang dipindahkan ke L2, dan bagaimana kedua lapisan tersebut saling menguntungkan. Isu ini juga berkaitan dengan perdebatan lama mengenai value capture Ethereum terhadap pertumbuhan L2.

Baca juga : Ethereum vs Hyperliquid 2026: Mana yang Lebih Unggul?

Ethereum Masih Unggul di Era Tokenisasi?

Jawabannya belum tentu tidak.

Salah satu argumen yang mendukung Ethereum adalah ukuran supply aset tokenisasi, bukan hanya volume perdagangan di DEX. Ethereum Institutional menilai jumlah aset teregulasi yang diterbitkan di jaringan lebih relevan daripada sekadar volume perdagangan.

Ini menjadi perbedaan penting.

Volume menunjukkan seberapa aktif aset diperdagangkan. Sementara supply menunjukkan seberapa banyak aset tokenisasi yang berada dalam ekosistem tersebut.

Dengan kata lain, Ethereum bisa saja memiliki volume perdagangan DEX yang lebih kecil tetapi tetap memiliki posisi penting jika menjadi rumah bagi aset tokenisasi bernilai besar dan penerbit institusional.

Baca juga : Mengapa Bitcoin dan Ethereum Tetap Stabil Meski Konflik AS-Iran Kembali Memanas?

3 Keunggulan Ethereum dalam Tokenisasi

First-mover advantage

Ethereum sudah memiliki ekosistem yang matang dan basis pengembang yang besar.

Ekosistem L2

Pertumbuhan L2 tidak harus dipandang sebagai ancaman. Jika aktivitas tokenisasi berpindah ke L2 tetapi tetap memperkuat Ethereum sebagai settlement dan infrastructure layer, ekosistem Ethereum masih dapat memperoleh manfaat.

Akses ke institusi

Persaingan tokenisasi ke depan kemungkinan besar tidak hanya ditentukan oleh biaya transaksi. Penerbit membutuhkan infrastruktur yang mampu memenuhi aspek keamanan, likuiditas, kepatuhan, dan akses ke pasar.

Karena itu, Ethereum masih memiliki peluang besar jika mampu memenangkan penerbit dan venue yang teregulasi.

Seberapa Besar Ancaman dari L1 Lain?

Ancaman terbesar bukan hanya Solana, BNB Chain, atau blockchain tertentu.

Perusahaan teknologi, broker tradisional, dan institusi keuangan juga mulai mengeksplorasi blockchain mereka sendiri untuk menerbitkan aset tokenisasi. Ini berarti Ethereum berpotensi menghadapi kompetisi dari infrastruktur yang dibangun khusus untuk kebutuhan institusi.

Jika Ethereum gagal menarik penerbit baru, pertumbuhan tokenisasi bisa terjadi tanpa memberikan dominasi yang sama seperti pada era awal aset crypto.

Sebaliknya, jika Ethereum berhasil menjadi fondasi bagi aset teregulasi sekaligus mengintegrasikan pertumbuhan L2, narasi tersebut dapat berubah menjadi katalis positif.

Baca juga : Solana vs Ethereum: Mengapa Solana Unggul dalam Adopsi RWA tetapi Ethereum Masih Menguasai Nilai Aset

Apa yang Menentukan Masa Depan Ethereum?

Ada tiga faktor utama yang perlu diperhatikan.

Pertama, strategi L1 dan L2. Ethereum perlu menunjukkan bagaimana keduanya saling melengkapi.

Kedua, adopsi institusional. Jumlah perusahaan dan penerbit yang memilih Ethereum akan menjadi indikator penting.

Ketiga, kualitas aset. Bukan hanya berapa banyak transaksi terjadi, tetapi berapa besar nilai aset yang diterbitkan, siapa penerbitnya, dan apakah aset tersebut memiliki permintaan nyata.

Jadi, Apakah Ethereum Masih Unggul?

Untuk saat ini, terlalu dini menyimpulkan bahwa Ethereum kalah dalam tokenisasi.

Data volume perdagangan saham token memang memberikan alasan untuk mempertanyakan posisi Ethereum L1. Namun, metrik tersebut hanya menggambarkan satu bagian dari pasar. Supply aset teregulasi, aktivitas L2, jumlah penerbit, likuiditas, dan kemampuan Ethereum menjadi settlement layer juga harus diperhitungkan.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah Ethereum mampu mengubah keunggulan infrastrukturnya menjadi dominasi dalam tokenisasi aset crypto dan real world asset.

Jika kamu ingin mengikuti perkembangan Ethereum, RWA, dan tokenisasi aset, kamu bisa daftar di Bittime untuk mendapatkan update market, berita, dan analisis terbaru.

Kesimpulan

Ethereum tokenisasi sedang memasuki fase persaingan yang lebih ketat. Ethereum L1 memang menghadapi tantangan karena aktivitas tokenized stocks mulai berkembang di L2 dan blockchain lain, tetapi kondisi tersebut belum cukup untuk menyatakan Ethereum kehilangan posisinya.

Kunci berikutnya adalah kemampuan Ethereum memenangkan penerbit institusional, mempertahankan posisi dalam aset teregulasi, dan membuat pertumbuhan L2 tetap menghasilkan nilai bagi ekosistem Ethereum. Dengan pasar tokenisasi yang diproyeksikan berkembang jauh lebih besar, persaingan antar-L1 justru berpotensi semakin sengit.

bittime biaya withdrawal murah

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Apakah Ethereum masih unggul di era tokenisasi?

Ethereum masih memiliki keunggulan dari sisi ekosistem, keamanan, likuiditas, dan basis pengembang. Namun, persaingan meningkat karena L2 dan blockchain baru mulai menarik aktivitas tokenisasi.

Apakah Ethereum bisa kalah dari L1 lain?

Kemungkinan tersebut tidak bisa diabaikan, terutama jika blockchain lain berhasil menarik penerbit dan aset bernilai besar. Namun, Ethereum masih memiliki peluang mempertahankan posisi melalui L1, L2, dan ekosistemnya.

Apa hubungan Ethereum L1 dan L2 dengan tokenisasi?

L1 berfungsi sebagai lapisan dasar Ethereum, sedangkan L2 dapat menangani aktivitas dengan biaya dan kapasitas berbeda. Tokenisasi yang berlangsung di L2 masih dapat menjadi bagian dari ekosistem Ethereum.

Mengapa tokenisasi penting bagi Ethereum?

Tokenisasi dapat membuka pasar baru untuk aset seperti saham dan instrumen keuangan. Jika Ethereum menjadi infrastruktur utama bagi aset tersebut, pertumbuhan tokenisasi dapat memperluas penggunaan ekosistem Ethereum.

Blockchain apa yang menjadi kompetitor Ethereum dalam tokenisasi?

Persaingan datang dari berbagai arah, termasuk blockchain L1 lain serta jaringan seperti Base, Arbitrum, dan Robinhood Chain. Ke depan, blockchain yang dibuat oleh perusahaan finansial atau teknologi juga dapat menjadi kompetitor.

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Saham ENRG Hari Ini Turun Tajam, Ini Dampak Rights Issue dan HMETD
Saham ENRG Hari Ini Turun Tajam, Ini Dampak Rights Issue dan HMETD

Saham ENRG hari ini turun tajam karena ex-rights. Simak rasio 2:1, harga tebus Rp310, harga teoretis Rp1.065, dan jadwal HMETD 8–21 Oktober 2026.

2026-10-05Baca