BI Rate Naik Jadi 5,25% Hari Ini, Bagaimana Dampaknya pada Market Kripto di Indonesia?
2026-05-22
Bittime - Bank Indonesia secara resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei 2026.
Kabar ini langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan investor. Terutama, bagi yang aktif memantau pergerakan harga BTC hari ini.
Lalu, apa benar kenaikan suku bunga BI akan membuat pasar kripto Indonesia meredup? Atau justru ada faktor lain yang bisa menyelamatkan portofoliomu? Mari kita bedah bersama.
Poin Penting
- Kenaikan BI Rate umumnya menekan aset berisiko seperti kripto karena biaya hutang lebih mahal dan likuiditas rupiah mengetat.
- Harapan pemangkasan suku bunga (rate cut) dari Amerika Serikat menjadi penyeimbang yang bisa mendorong harga Bitcoin kembali naik.
- Harga Bitcoin dan Ethereum masih menguat tipis dalam 24 jam terakhir, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Kenaikan BI Rate di Tengah Tekanan Global

Keputusan kenaikan BI Rate bukanlah langkah yang tiba-tiba. Bank Indonesia mengambil kebijakan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global, sekaligus mengendalikan inflasi agar tetap dalam target.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa langkah pro-stabilitas ini penting untuk menghadapi ketidakpastian yang masih tinggi.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Australia juga menaikkan suku bunganya pada awal Mei 2026. Artinya, ada kecenderungan global bahwa bank sentral di beberapa negara masih waspada terhadap tekanan ekonomi.
Bagi kamu yang berinvestasi di market kripto Indonesia, kondisi ini patut dicermati. Karena, biasanya kenaikan suku bunga domestik akan membuat investor lebih memilih instrumen yang lebih aman seperti deposito atau obligasi, daripada aset volatil seperti Bitcoin dan altcoin.
Baca juga: Claude AI Bantu Pulihkan Dompet Bitcoin yang Non-aktif 9 Tahun
Pasar Kripto Terjepit Dua Sisi
Menariknya, pasar kripto Indonesia saat ini berada di tengah dua arah kebijakan yang bertolak belakang. Di satu sisi, kenaikan suku bunga BI dan Australia berpotensi memperketat likuiditas di kawasan Asia Pasifik.
Namun di sisi lain, pelaku pasar global mulai memunculkan ekspektasi pemangkasan suku bunga (rate cut) oleh Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Jika The Fed benar-benar mulai menurunkan suku bunganya dalam beberapa bulan ke depan, likuiditas global akan meningkat. Secara historis, momen seperti ini sering dimanfaatkan oleh investor untuk kembali melirik aset berisiko, termasuk investasi kripto.
Jadi, dampak BI Rate ke Bitcoin di Indonesia mungkin tidak sepenuhnya negatif jika sentimen global dari AS lebih dominan.
Baca juga: Investigasi SEC terhadap TLKM: Penjelasan Lengkap
Harga Bitcoin dan Ethereum Masih Bertahan
Meski ada kenaikan suku bunga di Indonesia, pergerakan harga BTC hari ini justru menunjukkan penguatan tipis. Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Kamis (21/5), Bitcoin, Ethereum, dan sebagian besar altcoin (kecuali USDT) naik sekitar 1% hingga 2%.
Apa penyebabnya?
Ternyata, ada kabar segar dari ranah geopolitik. Senat Amerika Serikat baru saja meloloskan rancangan pembatasan kewenangan perang terhadap Iran dengan voting 50 banding 47.
Langkah ini dianggap pasar sebagai sinyal bahwa risiko eskalasi konflik besar mulai mereda. Ketegangan geopolitik yang menurun biasanya memberikan napas lega bagi aset-aset berisiko seperti kripto.
Ini menunjukkan bahwa meskipun suku bunga BI naik, faktor eksternal seperti stabilitas global dan kebijakan The Fed masih sangat mempengaruhi fluktuasi harga.
Baca juga: OJK Mulai Batasi Paylater, Imbas dari Ledakan Konsumtif 55%
Mata Tertuju pada The Fed
Bagi pasar kripto Indonesia, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor utama. Ekspektasi rate cut AS yang kemungkinan akan diumumkan pada Juni depan mulai membuka peluang berbeda di paruh kedua 2026.
Jika Federal Reserve benar-benar menurunkan suku bunga seperti yang diharapkan, pasar Bitcoin dan aset digital lainnya berpotensi mendapat dorongan likuiditas baru.
Namun, tetap ada catatan hati-hati. Hingga saat ini, The Fed masih mempertahankan suku bunga di level 3,75% tanpa perubahan dalam beberapa pertemuan terakhir. Para investor tampaknya sedang menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil langkah besar.
Cara Beli Crypto di Bittime?
Ingin trading jual beli Bitcoin dan investasi crypto dengan mudah? Bittime siap membantu! Sebagai exchange crypto Indonesia yang terdaftar resmi di OJK, Bittime memastikan setiap transaksi aman dan cepat.
Mulai dengan registrasi dan verifikasi identitas, lalu lakukan deposit minimal Rp10.000. Setelah itu, kamu bisa langsung beli aset digital favoritmu!
Cek kurs BTC to IDR, ETH to IDR, SOL to IDR dan aset kripto lainnya untuk mengetahui tren crypto market hari ini secara real-time di Bittime.
Selain itu, kunjungi Bittime Blog untuk mendapatkan berbagai update menarik dan informasi edukatif seputar dunia crypto. Temukan artikel terpercaya tentang Web3, teknologi blockchain, dan tips investasi aset digital yang dirancang untuk memperkaya pengetahuan kamu dalam dunia kripto.
FAQ
1. Apa itu BI Rate dan pengaruhnya ke Bitcoin?
BI Rate adalah suku bunga acuan Bank Indonesia. Ketika suku bunga naik, investor di Indonesia biasanya lebih berhati-hati terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin karena biaya hutang membengkak dan likuiditas rupiah berkurang.
2. Apa itu rate cut dari The Fed?
Rate cut adalah penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve Amerika Serikat untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Biasanya, kabar ini positif untuk pasar kripto.
3. Mengapa pasar kripto sensitif terhadap suku bunga AS?
Karena pasar kripto sangat dipengaruhi likuiditas global. Saat suku bunga AS turun, aliran dana ke aset berisiko seperti investasi kripto biasanya ikut meningkat. Sebaliknya, saat bunga naik, dana cenderung berpindah ke instrumen yang lebih aman.
4. Apakah harga BTC hari ini bisa naik jika The Fed mulai memangkas bunga?
Potensinya ada. Secara historis, pasar kripto cenderung lebih positif ketika kebijakan moneter mulai longgar dan likuiditas bertambah. Namun tetap perhatikan faktor lain seperti regulasi dan adopsi.
5. Mengapa Indonesia dan Australia justru menaikkan suku bunga sementara AS diperkirakan menurunkan?
Kedua negara fokus menjaga stabilitas mata uang dan mengendalikan inflasi di tengah tekanan ekonomi global yang berbeda-beda. Sementara AS menghadapi perlambatan yang membutuhkan stimulus, Indonesia dan Australia masih berjuang melawan pelemahan kurs dan imported inflation.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



