Apa Itu Layer 2? Ini Cara L2 Menghasilkan Uang dari Ethereum
2026-10-05
Apa itu Layer 2? Secara sederhana, Layer 2 atau L2 adalah solusi yang dibangun di atas blockchain utama, seperti Ethereum, untuk memproses transaksi dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah. Menariknya, L2 bukan hanya teknologi untuk meningkatkan kapasitas Ethereum, tetapi juga memiliki model bisnis yang membuat jaringan ini bisa menghasilkan pendapatan.
Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik: jika transaksi di Layer 2 jauh lebih murah, dari mana jaringan L2 menghasilkan uang? Jawabannya berkaitan dengan biaya transaksi, sequencer, biaya data ke Ethereum, serta selisih antara pendapatan dan biaya operasional jaringan.
Key Takeaways
- Layer 2 memproses transaksi di luar Ethereum Layer 1 dan tetap menggunakan Ethereum untuk settlement serta keamanan.
- Pendapatan L2 terutama berasal dari biaya yang dibayar pengguna untuk melakukan transaksi.
- Revenue tidak otomatis berarti profit karena L2 juga harus membayar biaya operasional dan biaya yang berkaitan dengan Ethereum.
Apa Itu Layer 2 Ethereum?
Layer 2 Ethereum adalah jaringan yang dibangun untuk memperluas kemampuan Ethereum tanpa harus memindahkan seluruh aktivitas ke blockchain lain. L2 memproses transaksi secara terpisah, sementara Ethereum tetap berperan sebagai lapisan dasar untuk settlement dan keamanan.
Konsep ini muncul karena Ethereum memiliki keterbatasan kapasitas ketika permintaan transaksi meningkat. Saat jaringan padat, pengguna dapat menghadapi biaya gas yang lebih tinggi sehingga transaksi bernilai kecil menjadi kurang efisien.
Dengan Layer 2, sebagian besar proses transaksi dipindahkan dari Ethereum Layer 1. Hasil akhirnya tetap dikaitkan kembali ke Ethereum sehingga pengguna bisa mendapatkan biaya yang lebih rendah tanpa sepenuhnya meninggalkan ekosistem Ethereum.
Contoh teknologi Layer 2 yang umum adalah Optimistic Rollup dan ZK Rollup. Keduanya menggunakan pendekatan berbeda untuk memastikan transaksi yang diproses L2 dapat diverifikasi di Ethereum.
Baca juga : Ethereum Bisa Tertinggal dari L1 Lain? Ini Ancaman Tokenisasi
Bagaimana Cara Kerja Layer 2?
Cara kerja Layer 2 dapat dipahami melalui tiga proses utama.
1. Transaksi diproses di L2
Ketika pengguna melakukan transaksi, seperti swap token atau menggunakan aplikasi DeFi, transaksi tersebut diproses terlebih dahulu di jaringan Layer 2.
Hal ini mengurangi beban Ethereum Layer 1 karena tidak semua transaksi harus dieksekusi secara langsung di mainnet.
2. Transaksi dikumpulkan
Pada sistem rollup, banyak transaksi dapat dikumpulkan menjadi satu batch. Biaya yang berkaitan dengan transaksi tersebut kemudian dapat dibagi ke banyak pengguna sehingga biaya per transaksi menjadi lebih rendah.
Proses ini menjadi salah satu alasan mengapa transaksi di jaringan Layer 2 dapat lebih murah dibandingkan transaksi langsung di Ethereum.
3. Data dikirim kembali ke Ethereum
Setelah transaksi diproses, data atau bukti yang diperlukan dikirim ke Ethereum untuk settlement dan verifikasi sesuai desain masing-masing L2.
Dengan mekanisme tersebut, Ethereum tetap menjadi bagian penting dari keamanan dan finalitas sistem, sementara pekerjaan eksekusi transaksi lebih banyak dilakukan di L2.
Baca juga : Harga Ethereum Setelah CPI AS: Apakah ETH Berpotensi Naik?
Mengapa Ethereum Membutuhkan Layer 2?
Masalah utama yang ingin diselesaikan Layer 2 adalah scalability.
Ethereum harus menjaga keamanan dan desentralisasi sambil menangani permintaan transaksi yang besar. Ketika kapasitas terbatas bertemu dengan permintaan tinggi, jaringan dapat mengalami congestion dan biaya transaksi meningkat.
Layer 2 menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih membuat Ethereum memproses seluruh transaksi secara langsung, sebagian pekerjaan dilakukan di jaringan tambahan yang tetap terhubung dengan Ethereum.
Hasilnya adalah throughput yang lebih tinggi dan biaya pengguna yang lebih rendah.

Bagaimana Layer 2 Menghasilkan Uang?
Inilah bagian yang sering terlewat ketika orang membahas Layer 2.
Model sederhananya dapat digambarkan sebagai:
Pengguna membayar biaya transaksi → L2 menerima fee → L2 membayar biaya operasional → selisihnya menjadi pendapatan bersih atau potensi profit.
Pengguna membayar biaya ketika melakukan transaksi di jaringan L2. Biaya tersebut dapat mencakup biaya eksekusi di L2 serta komponen biaya yang berkaitan dengan pengiriman data atau settlement ke Ethereum.
Karena satu batch dapat berisi banyak transaksi, biaya yang dibayar ke Ethereum dapat dibagi di antara banyak pengguna. Inilah salah satu dasar ekonomi yang memungkinkan L2 menawarkan biaya lebih rendah sekaligus tetap memiliki sumber pendapatan.
Pendapatan dari Biaya Transaksi
Sumber pendapatan paling mudah dipahami adalah transaction fees.
Misalnya, pengguna membayar sejumlah fee untuk melakukan swap di sebuah L2. Sebagian dari fee tersebut digunakan untuk menutup biaya yang diperlukan jaringan untuk memproses transaksi.
Jika total biaya yang dibayar pengguna lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan jaringan, selisihnya dapat menjadi revenue atau margin bagi operator L2.
Namun, besar kecilnya pendapatan sangat bergantung pada jumlah transaksi dan aktivitas pengguna.
Pendapatan dari Sequencer
Banyak L2 menggunakan sequencer untuk menerima, mengurutkan, dan memproses transaksi sebelum transaksi tersebut dikirim ke Ethereum. Peran ini menjadi bagian penting dari arsitektur sejumlah jaringan L2.
Sequencer juga dapat menjadi sumber ekonomi bagi operator jaringan. Semakin banyak aktivitas transaksi, semakin besar potensi fee yang dapat dikumpulkan.
Dalam beberapa desain, mekanisme pengurutan transaksi juga dapat membuka peluang memperoleh MEV. Namun, besarnya potensi pendapatan tersebut berbeda antarjaringan dan bergantung pada desain protokol serta aktivitas pasar.
Biaya yang Harus Dibayar Layer 2
Di sinilah pentingnya membedakan revenue dan profit.
Layer 2 tidak menyimpan seluruh biaya transaksi yang dibayarkan pengguna sebagai keuntungan. Jaringan tetap membutuhkan infrastruktur dan harus menanggung biaya tertentu untuk memproses serta mengirim data ke Ethereum.
Setelah peningkatan Ethereum yang mendukung blob, rollup memiliki mekanisme data yang lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Hal ini dapat membantu menekan salah satu komponen biaya operasional L2.
Karena itu, analisis L2 sebaiknya tidak hanya melihat berapa besar fee yang dikumpulkan. Yang lebih penting adalah melihat berapa besar revenue dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan jaringan.
Baca juga : ETH Mendekati US2.500,ApakahUS3.000 Jadi Target Berikutnya?
Apakah Layer 2 Menguntungkan?
Jawabannya tidak bisa disamaratakan.
Sebuah Layer 2 dapat memiliki volume transaksi tinggi, tetapi belum tentu menghasilkan profit besar. Sebaliknya, jaringan dengan biaya operasional efisien dapat memiliki margin lebih baik meskipun volume transaksinya tidak sebesar kompetitor.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
- Jumlah transaksi
Semakin tinggi aktivitas pengguna, semakin besar peluang memperoleh transaction fees. - Besarnya biaya transaksi
Fee yang terlalu tinggi dapat mengurangi daya tarik jaringan, sedangkan fee terlalu rendah dapat membatasi revenue. - Biaya settlement ke Ethereum
L2 tetap memiliki biaya untuk menggunakan infrastruktur Ethereum. - Efisiensi teknologi
Kompresi data dan peningkatan teknologi dapat menekan biaya operasional. - Aktivitas ekosistem
DeFi, gaming, stablecoin, trading, dan aplikasi lainnya dapat meningkatkan permintaan jaringan.
Jadi, L2 revenue tidak sama dengan L2 profit. Perbedaan ini penting bagi siapa pun yang ingin menilai model bisnis jaringan Layer 2.
Baca juga : Ethereum Pectra Upgrade: Detail Informasi dan Daftar Fitur yang Ditingkatkan
Layer 1 vs Layer 2 Ethereum
Ethereum Layer 1 merupakan blockchain utama yang menyediakan konsensus, keamanan jaringan, node, dan data transaksi. Layer 2 berada di atasnya dan dirancang untuk menangani sebagian aktivitas transaksi dengan cara yang lebih efisien.
Perbedaan sederhananya:
- Layer 1: fondasi utama Ethereum.
- Layer 2: lapisan scaling yang memperluas kapasitas Ethereum.
- L1: memberikan settlement dan keamanan dasar.
- L2: menangani eksekusi transaksi dalam jumlah besar.
- L1: biaya dapat meningkat ketika jaringan padat.
- L2: dirancang untuk menawarkan transaksi yang lebih murah.
Namun, tidak semua blockchain yang lebih cepat dan murah otomatis merupakan Layer 2. Sidechain dan beberapa jenis jaringan lain memiliki model keamanan dan data availability yang berbeda dari L2 yang mewarisi keamanan Ethereum.
Optimistic Rollup vs ZK Rollup
Dua pendekatan utama dalam Layer 2 Ethereum adalah Optimistic Rollup dan ZK Rollup.
Optimistic Rollup pada dasarnya menganggap transaksi valid sampai terdapat bukti yang menunjukkan adanya kesalahan. Sistem ini menggunakan fault proof untuk menangani sengketa.
Sementara itu, ZK Rollup menggunakan validity proof untuk membuktikan bahwa transaksi dan komputasi yang dilakukan sesuai aturan sebelum perubahan keadaan diterima di Layer 1.
Keduanya memiliki kelebihan dan trade-off masing-masing. Karena itu, pengguna sebaiknya tidak menilai Layer 2 hanya dari biaya transaksi, tetapi juga dari keamanan, desentralisasi, teknologi proof, dan asumsi kepercayaannya.
Baca juga : Top Meme Coin Ethereum 2026: Cara Beli di Bittime
Apa Dampaknya bagi Masa Depan Ethereum?
Pertumbuhan Layer 2 membuat Ethereum tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat semua transaksi dieksekusi secara langsung.
Ethereum semakin berperan sebagai lapisan dasar yang menyediakan settlement, keamanan, dan data availability, sementara berbagai L2 menangani aktivitas pengguna dalam skala yang lebih besar.
Model ini dapat menciptakan ekosistem yang lebih efisien, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Persaingan antar-L2 semakin penting karena masing-masing jaringan harus menarik pengguna, aplikasi, likuiditas, dan aktivitas transaksi.
Dari sisi bisnis, pertanyaan penting bukan hanya “berapa murah biaya L2?”, tetapi juga “apakah jaringan tersebut mampu menghasilkan revenue yang berkelanjutan setelah memperhitungkan biaya?”
Risiko yang Perlu Dipahami
Layer 2 tetap memiliki risiko.
Ethereum.org mencatat bahwa banyak teknologi L2 masih relatif muda dibandingkan Ethereum Mainnet. Karena itu, pengguna perlu memahami perbedaan desain, trust assumptions, mekanisme proof, bridge, dan tingkat desentralisasi masing-masing jaringan.
Jangan menganggap semua L2 memiliki tingkat keamanan yang sama hanya karena menggunakan Ethereum sebagai settlement layer.
Jika kamu ingin mengikuti perkembangan Ethereum, Layer 2, dan aset crypto lainnya, kamu bisa daftar di Bittime untuk mendapatkan informasi market dan analisis terbaru.
Conclusion
Memahami apa itu Layer 2 berarti memahami bagaimana Ethereum memperluas kapasitasnya tanpa memproses seluruh transaksi secara langsung di Layer 1. L2 memindahkan sebagian eksekusi ke jaringan tambahan, menggabungkan transaksi, lalu menggunakan Ethereum untuk settlement dan aspek keamanan tertentu.
Dari sisi bisnis, Layer 2 menghasilkan uang terutama melalui biaya transaksi yang dibayar pengguna. Namun, revenue tidak otomatis menjadi profit karena jaringan tetap harus membayar biaya operasional dan biaya yang berkaitan dengan Ethereum.
Karena itu, ketika menilai sebuah Layer 2, jangan hanya melihat jumlah transaksi atau besarnya fee. Perhatikan juga revenue, biaya, efisiensi jaringan, keamanan, dan pertumbuhan aktivitas pengguna.
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Apa itu Layer 2?
Layer 2 adalah solusi scaling yang dibangun di atas blockchain Layer 1 seperti Ethereum. L2 memproses transaksi di luar Layer 1 untuk meningkatkan kapasitas dan menekan biaya, sementara tetap terhubung dengan keamanan dan settlement Ethereum sesuai desainnya.
Bagaimana cara kerja Layer 2 Ethereum?
Layer 2 memproses transaksi di jaringan sendiri, kemudian mengirim data atau bukti yang diperlukan ke Ethereum. Pada rollup, banyak transaksi dapat dikumpulkan sehingga biaya yang berkaitan dengan Layer 1 dapat dibagi ke banyak pengguna.
Bagaimana Layer 2 menghasilkan uang?
Sumber utama pendapatan L2 berasal dari biaya transaksi yang dibayar pengguna. Setelah dikurangi biaya operasional dan biaya yang berkaitan dengan settlement atau pengiriman data ke Ethereum, selisihnya dapat menjadi revenue bersih atau potensi profit jaringan.
Apakah Layer 2 membayar Ethereum?
Ya, L2 dapat menanggung biaya yang berkaitan dengan penggunaan Ethereum untuk settlement dan publikasi data. Besarnya biaya bergantung pada desain jaringan, aktivitas transaksi, dan mekanisme data yang digunakan.
Apakah Layer 2 Ethereum menguntungkan?
Tidak semua Layer 2 otomatis menguntungkan. Profit bergantung pada kemampuan jaringan menghasilkan revenue yang lebih besar daripada biaya operasionalnya.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



