10 Kripto Populer di Indonesia yang Banyak Dipegang Investor
2026-06-08
Pasar aset digital di Indonesia terus berkembang meskipun mengalami berbagai siklus naik dan turun.
Menariknya, pilihan kripto yang paling banyak dimiliki investor Indonesia tidak selalu sama dengan aset yang sedang populer secara global.
Selain Bitcoin dan Ethereum, investor lokal juga cukup aktif mengoleksi aset seperti XRP, Solana, hingga stablecoin USDT untuk kebutuhan trading dan lindung nilai.
Berdasarkan berbagai survei industri kripto Indonesia, data kapitalisasi pasar global, serta aktivitas perdagangan di sejumlah platform aset digital, berikut adalah 10 kripto populer di Indonesia yang banyak dimiliki investor.
Poin Penting
Bitcoin dan Ethereum masih menjadi aset kripto paling dominan di Indonesia.
Solana, XRP, dan BNB termasuk altcoin yang paling banyak diminati investor lokal.
Popularitas kripto tidak selalu menjamin kinerja investasi terbaik.
Daftar di Bittime sekarang dan mulai trading kripto dengan proses yang cepat, aman, dan mudah di aplikasi.
Berikut 10 Kripto Populer di Indonesia yang Banyak Dipegang Investor

1. Bitcoin (BTC)
Bitcoin adalah aset kripto pertama di dunia yang diluncurkan pada 2009 oleh sosok anonim bernama Satoshi Nakamoto.
Berbeda dengan ribuan aset kripto lain yang muncul setelahnya, Bitcoin dirancang sebagai sistem uang digital terdesentralisasi dengan jumlah maksimal hanya 21 juta koin.
Karena kelangkaannya, banyak investor menyebut Bitcoin sebagai “emas digital”. Hingga saat ini Bitcoin tetap menjadi aset kripto terbesar di dunia dan sering dianggap sebagai tolok ukur kesehatan pasar kripto secara keseluruhan.
Di Indonesia, BTC menjadi pilihan utama investor jangka panjang karena memiliki likuiditas tinggi, adopsi global yang luas, dan telah bertahan melewati berbagai siklus bull market maupun bear market.
Baca juga: Cara Membeli Bitcoin (BTC) | BTC to IDR | BTC to USDT
2. Ethereum (ETH)
Ethereum diluncurkan pada 2015 oleh Vitalik Buterin dengan tujuan memperluas fungsi blockchain di luar sekadar transfer uang.
Ethereum memperkenalkan konsep smart contract yang memungkinkan pengembang membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps), NFT, DeFi, hingga tokenisasi aset dunia nyata.
Karena perannya yang sangat penting dalam ekosistem blockchain modern, Ethereum sering disebut sebagai fondasi ekonomi kripto.
Banyak investor Indonesia memegang ETH karena percaya bahwa pertumbuhan industri Web3 akan terus meningkatkan utilitas jaringan Ethereum dalam jangka panjang.
Baca juga: Cara Membeli Ethereum (ETH) | ETH to IDR | ETH to USDT
3. Tether (USDT)
Berbeda dengan Bitcoin dan Ethereum yang harganya berfluktuasi, USDT merupakan stablecoin yang dirancang mengikuti nilai dolar AS dengan rasio sekitar 1:1.
Token ini diterbitkan oleh Tether dan menjadi aset dengan volume perdagangan terbesar di industri kripto. Investor Indonesia banyak menggunakan USDT sebagai sarana lindung nilai ketika rupiah melemah atau saat pasar kripto sedang bergejolak.
Karena sifatnya yang relatif stabil, USDT sering menjadi “tempat parkir dana” sebelum investor kembali masuk ke aset berisiko seperti Bitcoin atau altcoin.
Baca juga: Cara Membeli Tether USDT (USDT)
4. BNB (BNB)
BNB pertama kali diluncurkan oleh Binance pada 2017 sebagai token utilitas untuk mendapatkan diskon biaya transaksi.
Seiring perkembangan ekosistem Binance, fungsi BNB semakin luas dan kini menjadi aset utama jaringan BNB Chain.
Blockchain ini digunakan untuk ribuan aplikasi DeFi, GameFi, hingga proyek tokenisasi aset.
BNB memiliki mekanisme burn berkala yang mengurangi jumlah pasokan beredar, sehingga banyak investor melihatnya sebagai aset yang memperoleh manfaat langsung dari pertumbuhan ekosistem Binance.
Baca juga: Cara Membeli BNB (BNB) | BNB to IDR | BNB to USDT
5. USD Coin (USDC)
USDC adalah stablecoin yang diterbitkan oleh Circle dan didukung cadangan aset yang diaudit secara rutin. Dibandingkan USDT, USDC sering dianggap lebih dekat dengan standar institusional karena tingkat transparansi laporan cadangannya.
Banyak perusahaan fintech, protokol DeFi, dan institusi keuangan menggunakan USDC sebagai alat pembayaran dan settlement di blockchain.
Popularitasnya terus meningkat seiring berkembangnya adopsi stablecoin di sektor keuangan global.
Baca juga: Cara Membeli USD Coin (USDC)

6. XRP (XRP)
XRP dikembangkan oleh Ripple dengan fokus utama pada sistem pembayaran lintas negara. Tidak seperti Bitcoin yang dirancang sebagai penyimpan nilai, XRP berusaha mempercepat dan menurunkan biaya transfer internasional.
Meskipun sempat menghadapi sengketa regulasi di Amerika Serikat, XRP tetap memiliki komunitas yang sangat besar, termasuk di Indonesia.
Kecepatan transaksi yang tinggi dan biaya yang sangat rendah menjadi alasan utama mengapa XRP masih banyak diminati investor ritel.
Baca juga: Cara Membeli XRP (XRP) | XRP to IDR | XRP to USDT
7. Solana (SOL)
Solana adalah blockchain Layer-1 yang didirikan oleh Anatoly Yakovenko. Jaringan ini dikenal karena mampu memproses ribuan transaksi per detik dengan biaya yang sangat murah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Solana menjadi pusat aktivitas memecoin, NFT, DeFi, dan berbagai aplikasi Web3 baru.
Popularitas proyek-proyek seperti Pump.fun dan gelombang memecoin Solana membuat SOL menjadi salah satu aset dengan pertumbuhan komunitas tercepat di dunia kripto.
Baca juga: Cara Membeli Solana (SOL) | SOL to IDR | SOL to USDT
8. TRON (TRX)
TRON didirikan oleh Justin Sun dengan visi membangun infrastruktur internet terdesentralisasi.
Saat ini TRON dikenal sebagai salah satu blockchain yang paling banyak digunakan untuk transfer stablecoin, khususnya USDT.
Biaya transaksi yang rendah dan kecepatan transfer yang tinggi membuat jaringan TRON sangat populer di kawasan Asia.
Meskipun sering kurang mendapat sorotan dibanding Ethereum atau Solana, aktivitas transaksi harian TRON termasuk yang terbesar di industri blockchain.
Baca juga: Cara Membeli Tron (TRX) | TRX to IDR | TRX to USDT
9. Hyperliquid (HYPE)
Hyperliquid merupakan proyek yang berfokus pada decentralized perpetual exchange, yaitu platform perdagangan derivatif kripto tanpa perantara.
Token HYPE menjadi pusat perhatian pada 2025–2026 karena pertumbuhan pengguna dan volume transaksi yang sangat cepat.
Berbeda dengan banyak altcoin yang mengandalkan narasi semata, Hyperliquid memperoleh perhatian karena menghasilkan aktivitas ekonomi nyata dari perdagangan derivatif yang dilakukan penggunanya.
Hal ini membuat banyak investor melihat HYPE sebagai salah satu proyek paling menarik di sektor DeFi generasi baru.
Baca juga: Cara Membeli Hyperliquid (HYPE) | HYPE to IDR
10. Dogecoin (DOGE)
Dogecoin awalnya dibuat sebagai lelucon oleh Billy Markus dan Jackson Palmer pada 2013. Namun seiring waktu,
DOGE berkembang menjadi memecoin terbesar di dunia dengan komunitas yang sangat loyal. Popularitasnya semakin meningkat berkat dukungan berulang dari Elon Musk.
Walaupun utilitas teknologinya tidak sebesar Ethereum atau Solana, DOGE tetap menjadi simbol kekuatan komunitas dalam industri kripto dan sering menjadi pintu masuk investor baru ke pasar aset digital.
Baca juga : Cara Membeli Dogecoin (DOGE)
Kenapa Investor Indonesia Memilih Kripto Tersebut?
Ada beberapa alasan mengapa aset-aset di atas menjadi favorit investor Indonesia:
Memiliki likuiditas tinggi.
Terdaftar di hampir semua bursa kripto besar.
Memiliki kapitalisasi pasar yang relatif besar.
Didukung komunitas yang kuat.
Memiliki rekam jejak lebih panjang dibanding ribuan altcoin baru.
Karena itu, aset-aset tersebut cenderung menjadi pilihan utama bagi investor yang ingin mengurangi risiko dibanding membeli token dengan kapitalisasi kecil.
Pantau pergerakan harga BTC, ETH, XRP, SOL, BNB, dan DOGE secara real-time di Bittime.
Apakah Kripto Populer Selalu Menjadi Investasi Terbaik?
Belum tentu.
Popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan potensi keuntungan. Bitcoin misalnya dianggap lebih stabil dibanding altcoin kecil, tetapi potensi kenaikan harganya biasanya tidak sebesar token berkapitalisasi rendah.
Sebaliknya, aset kripto kecil dapat memberikan keuntungan besar, tetapi juga memiliki risiko kehilangan nilai secara drastis.
Oleh karena itu, investor tetap perlu melakukan riset, memahami fundamental proyek, serta menyesuaikan investasi dengan profil risiko masing-masing.
Kesimpulan
Bitcoin, Ethereum, Solana, XRP, BNB, dan USDT masih menjadi aset kripto yang paling banyak diminati investor Indonesia. Selain karena kapitalisasi pasar yang besar, aset-aset tersebut juga memiliki likuiditas tinggi dan ekosistem yang relatif matang dibanding sebagian besar cryptocurrency lainnya.
Meskipun demikian, popularitas sebuah aset tidak menjamin keuntungan di masa depan. Investor tetap perlu melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek harga Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), XRP, Solana (SOL), dan BNB juga memecoin unggulan DOGE. Kamu bisa trading langsung di Bittime!
Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.
Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.
Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.
FAQ
Kripto apa yang paling populer di Indonesia?
Bitcoin (BTC) masih menjadi aset kripto yang paling dikenal dan banyak dimiliki investor Indonesia.
Apakah Solana populer di Indonesia?
Ya, Solana termasuk salah satu aset yang mengalami pertumbuhan minat paling cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Mengapa banyak investor memegang USDT?
USDT digunakan sebagai stablecoin yang nilainya mengikuti dolar AS sehingga sering dipakai untuk mengurangi risiko volatilitas.
Apakah XRP masih banyak diminati?
Ya, XRP masih memiliki komunitas dan volume perdagangan yang kuat di Indonesia.
Kripto mana yang cocok untuk investasi jangka panjang?
Bitcoin dan Ethereum sering dianggap sebagai pilihan utama untuk investasi jangka panjang karena adopsi dan ekosistemnya yang besar.
Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.



