Bittime Soroti Pertumbuhan Futures setelah Indonesia Masuk 15 Besar Adopsi Kripto Global

2026-10-01

Pertumbuhan Kripto Indonesia Mendunia.png

Jakarta, 30 September 2026 — Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyoroti ruang pertumbuhan pasar Futures di Indonesia setelah Indonesia masuk 15 besar adopsi kripto global. 

Perkembangan ini memperkuat keterhubungan Indonesia dengan ekosistem global, termasuk peluang pengembangan produk seperti Futures, sejalan dengan komitmen Bittime sebagai Gerbang Indonesia Menuju Aset Global.

Berdasarkan 2026 Global Crypto Adoption Index dari Chainalysis, Indonesia berada di peringkat ke-14 dari 117 negara dan menempati peringkat ke-10 untuk cross-border flows.

Posisi tersebut menunjukkan besarnya aktivitas aset digital di Indonesia sekaligus semakin terhubungnya pasar domestik dengan ekosistem global. Chainalysis juga menempatkan Indonesia di peringkat ke-11 untuk total flows, ke-12 untuk balances, dan ke-13 untuk aktivitas domestic peer-to-peer.

“Posisi Indonesia di 15 besar adopsi kripto global menunjukkan bahwa ekosistem aset digital domestik memiliki basis aktivitas yang kuat. Di sisi lain, masih terdapat ruang untuk memperdalam pasar, termasuk melalui pengembangan produk seperti Futures, edukasi, dan pemahaman risiko agar pertumbuhan ekosistem dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujar Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn.

Derivatif Menjadi Salah Satu Ruang Pertumbuhan

Salah satu area yang masih memiliki ruang untuk berkembang adalah perdagangan derivatif aset keuangan digital. Secara global, aktivitas derivatif telah menjadi bagian penting dari pasar aset kripto. 

Cboe mencatat volume nosional derivatif kripto mencapai sekitar US$111,5 triliun pada 2025 dibandingkan sekitar US$25,3 triliun untuk perdagangan spot, atau sekitar 4,4 kali lebih besar. Cboe menyebut derivatif semakin berperan dalam price discovery dan risk transfer di pasar aset digital.

Besarnya aktivitas Futures global didukung oleh sejumlah karakteristik instrumen tersebut. Coinbase Institutional menjelaskan bahwa perpetual futures telah menjadi salah satu instrumen dengan aktivitas perdagangan terbesar di pasar kripto global, dengan penggunaan yang mencakup directional trading, hedging, dan arbitrage. Perpetual futures juga memungkinkan pelaku pasar mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga tanpa harus membeli aset secara langsung.

Selain fungsi tersebut, ketersediaan beragam trading pairs memperluas pilihan aset dan strategi yang dapat digunakan pelaku pasar. Mekanisme margin dan leverage juga memungkinkan penggunaan modal secara lebih efisien, meskipun pada saat yang sama dapat memperbesar dampak pergerakan harga terhadap posisi pengguna. 

Cboe menjelaskan bahwa derivatif dapat memberikan eksposur terhadap aset kripto melalui mekanisme margin sekaligus digunakan untuk kebutuhan hedging dan manajemen risiko.

Di Indonesia, aktivitas derivatif masih memiliki ruang untuk berkembang. Berdasarkan Siaran Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026, nilai transaksi aset kripto selama Juli 2026 tercatat sebesar Rp20,52 triliun, menurun 28,20% secara month-to-month dibandingkan Juni 2026 sebesar Rp28,58 triliun. 

Sementara itu, nilai transaksi derivatif aset keuangan digital (AKD) mencapai Rp3,41 triliun, turun 18,53% dari Rp4,19 triliun pada Juni 2026.

“Perkembangan Futures di Indonesia dapat menjadi salah satu bagian dari pendalaman pasar aset digital, karena memberikan pilihan instrumen yang berbeda bagi pelaku pasar. Namun, pertumbuhan tersebut perlu berjalan beriringan dengan edukasi mengenai margin, leverage, volatilitas, serta manajemen risiko agar pengguna memahami karakteristik dan risiko produk sebelum bertransaksi,” kata Ryan.

Pelaku Pasar Soroti Pengembangan Ekosistem Futures Indonesia 

Dari perspektif pelaku pasar, pengembangan Futures tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas perdagangan, tetapi juga kesiapan ekosistem dari sisi regulasi, teknologi, akses, dan edukasi.

“Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu dikembangkan agar pasar Futures kripto di Indonesia semakin maju. Kejelasan regulasi dan struktur pajak yang kompetitif penting untuk memberikan rasa aman bagi trader dan mendorong aktivitas perdagangan di platform lokal. Dari sisi platform, UI/UX yang ramah bagi pemula, fitur manajemen risiko seperti stop-loss dan take-profit, serta kemudahan deposit dan penarikan melalui Rupiah, QRIS, e-wallet, dan bank lokal juga dapat membuat Futures lebih mudah diakses,” ujar Alexander Brian, full-time trader.

Alexander menambahkan bahwa edukasi mengenai Futures juga perlu mencakup aspek manajemen risiko dan psikologi perdagangan, bukan hanya strategi teknikal untuk menentukan titik masuk.

“Pengguna juga perlu memahami pentingnya stop-loss, position sizing untuk membatasi risiko, serta kontrol emosi agar tidak terjebak FOMO dan overtrading. Pemahaman mengenai leverage, liquidation price, margin call, dan funding rate juga penting sebelum menggunakan akun riil,”lanjut Alexander.

Perkembangan Futures dan Diversifikasi Ekosistem Aset Digital

Perkembangan pasar Futures global menunjukkan bahwa instrumen derivatif tidak hanya digunakan untuk mengambil posisi terhadap arah harga. 

CME Group mencatat bahwa penggunaan produk Futures dan options kripto juga berkaitan dengan kebutuhan untuk mengelola eksposur dan risiko di tengah dinamika pasar, termasuk untuk kebutuhan hedging dan strategi perdagangan. 

Pada paruh pertama 2026, produk cryptocurrency CME mencatat rata-rata volume harian 280 ribu kontrak, naik 44% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Bagi Indonesia, pengembangan instrumen Futures menjadi bagian dari semakin beragamnya pilihan di ekosistem aset digital. Bittime Futures hadir pada Juli 2026 setelah memperoleh persetujuan dari PT Central Finansial X (CFX), dan menjadi bagian dari ekosistem 3-in-1 Bittime yang mencakup Spot, Staking, dan Futures dalam satu platform. 

Perluasan produk juga berlangsung pada kategori aset lainnya. Sejalan dengan perkembangan pasar global, aset digital kini mencakup berbagai kategori, mulai dari aset kripto mainstream dan stablecoin hingga Real World Assets (RWA) dan aset yang ditokenisasi.

Bittime sebagai Gerbang Indonesia Menuju Aset Global

Perkembangan RWA menjadi salah satu area yang turut membuka ruang bagi diversifikasi ekosistem aset digital Indonesia. 

Di Bittime, aktivitas perdagangan Tokenized U.S. Stocks meningkat 2,5 kali lipat pada Juli 2026 dibandingkan Juni 2026. Saat ini, Bittime menyediakan 34 Tokenized U.S. Stocks, termasuk MSTRX, CRCLX, TSLAX, NVDAX, dan SPYX.

“Ketika Indonesia semakin terhubung dengan ekosistem aset digital global, kami melihat pentingnya menghadirkan akses terhadap produk yang semakin beragam dengan tetap mengedepankan edukasi, perlindungan konsumen, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Bagi kami, pertumbuhan ekosistem bukan hanya soal peningkatan aktivitas transaksi, tetapi juga bagaimana akses tersebut dapat berkembang secara bertanggung jawab,” ujar Ryan.

Sebagai Gerbang Indonesia Menuju Aset Global, Bittime akan terus mengembangkan ekosistem aset digital yang menghubungkan pengguna Indonesia dengan berbagai kategori aset digital, sekaligus mendukung perkembangan pasar melalui edukasi, inovasi produk, dan penerapan prinsip kehati-hatian.

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Bittime: Regulasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan RWA di Indonesia
Bittime: Regulasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan RWA di Indonesia

Bittime menyoroti perkembangan RWA dan Tokenized Stocks di Indonesia, dengan regulasi dan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci pengembangannya.

2026-09-29Baca