AI Bubble Pecah? Michael Burry dan Hayes Ungkap Risiko Pasar

2026-09-23

AI Bubble Pecah Michael Burry dan Hayes Ungkap Risiko Pasar.png

Perdebatan soal AI bubble kembali menguat pada September 2026. Di satu sisi, saham teknologi dan AI masih menunjukkan kinerja kuat. 

Nasdaq Composite bahkan ditutup di rekor 27.122,09 pada 21 September 2026. Di sisi lain, investor seperti Michael Burry kembali mempertanyakan apakah valuasi dan belanja besar-besaran di sektor AI dapat dipertahankan.

Sementara itu, Arthur Hayes melihat risiko dari sudut berbeda. Menurutnya, perlambatan investasi AI bukan hanya persoalan valuasi saham, tetapi juga dapat memengaruhi utang, kredit, dan likuiditas global yang pada skenario tertentu bisa berdampak terhadap Bitcoin.

Key Takeaways

  • Michael Burry menyoroti risiko valuasi, belanja modal, dan asumsi pertumbuhan dalam industri AI.
  • Arthur Hayes melihat potensi risiko pada pembiayaan utang AI dan dampaknya terhadap likuiditas.
  • Dampak AI bubble terhadap Bitcoin tidak otomatis positif atau negatif karena bergantung pada bagaimana pasar dan kebijakan merespons perlambatan AI.

Mengapa AI Bubble Kembali Jadi Perhatian?

Perhatian terhadap AI bubble muncul ketika valuasi perusahaan teknologi meningkat bersamaan dengan investasi infrastruktur AI yang sangat besar.

Nasdaq mencatat rekor penutupan pada 21 September 2026, sementara saham seperti AMD, Intel, dan Meta ikut menguat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat pasar terhadap AI masih tinggi.

Namun, pertanyaannya bukan sekadar apakah AI menghasilkan pendapatan. Perdebatan utamanya adalah apakah pertumbuhan pendapatan dan keuntungan tersebut cukup untuk membenarkan investasi infrastruktur yang terus meningkat.

Baca Juga: AI Stock Bubble Terancam Meledak, Persaingan Kimi K3 Jadi Pemicu Baru?

Michael Burry dan Kekhawatiran terhadap AI

Michael Burry dikenal karena pandangannya yang kritis terhadap valuasi pasar. Dalam konteks AI, perhatiannya berkaitan dengan besarnya investasi perusahaan teknologi, asumsi pertumbuhan, serta bagaimana aset dan belanja modal tersebut dicatat.

Salah satu risiko yang sering dibahas adalah depresiasi infrastruktur AI. Data center, GPU, dan perangkat keras membutuhkan investasi besar, sementara teknologi AI berkembang cepat. 

Jika perangkat menjadi usang lebih cepat dari perkiraan, perusahaan dapat menghadapi biaya yang lebih tinggi atau harus melakukan investasi tambahan.

Burry juga mempertanyakan apakah pertumbuhan keuntungan AI dapat terus mengimbangi ekspektasi pasar. 

Kekhawatiran tersebut menjadi lebih relevan ketika suku bunga AS masih berada di level 3,75%–4,00% setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga pada 16 September 2026.

Meski demikian, kekhawatiran terhadap bubble tidak berarti seluruh industri AI tidak memiliki fundamental. 

Perusahaan seperti Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon tetap mencatat pertumbuhan bisnis AI dan cloud yang nyata. Karena itu, perdebatan lebih banyak berkaitan dengan valuasi dan tingkat investasi, bukan sekadar ada atau tidaknya permintaan terhadap AI.

Produktif dengan AI, cerdas dalam berinvestasi. Registrasi di Bittime dan bangun portofoliomu sekarang.

Arthur Hayes: Risiko AI Ada di Utang

Arthur Hayes mengambil pendekatan berbeda. Dalam tulisannya, Safety First, Hayes berargumen bahwa perlambatan pengembangan AI dapat mengurangi permintaan terhadap compute. 

Jika permintaan tersebut turun, asumsi pendapatan yang digunakan untuk membiayai data center dan infrastruktur AI juga dapat berubah.

Masalahnya, sebagian investasi AI dibiayai melalui utang dan struktur kredit. Hayes memperkirakan sektor AI memiliki eksposur utang yang sangat besar dan mempertanyakan siapa yang akan menanggung risiko jika arus kas tidak sesuai dengan ekspektasi.

Pandangan ini merupakan skenario Hayes, bukan kepastian bahwa krisis kredit AI akan terjadi.

Baca Juga: Nvidia Stock Mendekati All-Time High, Apakah Rally Berlanjut?

Apakah AI Bubble Bisa Membuat Bitcoin Naik?

Inilah bagian yang menarik bagi pasar crypto.

Menurut Hayes, jika perlambatan AI berkembang menjadi tekanan pada sistem kredit, pemerintah dapat mengambil langkah untuk mendukung sektor tertentu atau meningkatkan likuiditas. 

Dalam skenario seperti itu, Bitcoin berpotensi mendapat dukungan dari meningkatnya likuiditas.

Namun, ada skenario lain.

Jika AI bubble pecah dan investor langsung mengurangi aset berisiko, Bitcoin justru dapat ikut terkena tekanan karena investor mencari likuiditas. Jadi, hubungan antara AI bubble dan Bitcoin tidak sesederhana “AI turun, Bitcoin naik.”

Dampaknya akan sangat bergantung pada apakah perlambatan AI hanya menjadi koreksi saham teknologi atau berkembang menjadi masalah kredit yang memicu respons kebijakan.

Hubungan Nasdaq dan Bitcoin

Bitcoin juga semakin sering bergerak bersamaan dengan aset berisiko dan saham teknologi. Pada 21 September 2026, Bitcoin naik lebih dari 7% ketika Nasdaq mencetak rekor baru.

Artinya, jika terjadi koreksi besar pada Nasdaq akibat kekhawatiran AI, Bitcoin dapat menghadapi tekanan dalam fase awal risk-off.

Sebaliknya, jika koreksi tersebut kemudian diikuti peningkatan likuiditas, hubungan tersebut dapat berubah. Inilah alasan mengapa skenario AI bubble perlu dilihat melalui dua tahap: reaksi pasar terhadap risiko dan respons kebijakan setelahnya.

Baca Juga: Pasar Bisa Crash Hebat 2026 karena AI

Apa yang Perlu Dipantau Investor?

Beberapa indikator penting untuk mengikuti perkembangan AI bubble antara lain:

  1. Belanja modal perusahaan teknologi, terutama investasi data center dan GPU.
  2. Pertumbuhan pendapatan AI, untuk melihat apakah mampu mengikuti investasi infrastrukturnya.
  3. Pasar kredit AI, termasuk biaya pendanaan dan kualitas utang.
  4. Pergerakan Nasdaq, khususnya saham teknologi dengan valuasi tinggi.
  5. Kebijakan The Fed dan likuiditas dolar, karena perubahan kondisi moneter dapat memengaruhi saham dan crypto.

Dengan demikian, pertanyaan “apakah AI bubble akan pecah?” belum memiliki jawaban pasti. Yang lebih penting adalah melihat apakah pertumbuhan bisnis AI mampu mempertahankan tingkat investasi dan valuasi yang saat ini terbentuk.

Jangan lewatkan update harga AI coin seperti Bittensor (TAO)Venice Token (VVV)NEAR Protocol (NEAR), dan Internet Computer (ICP) di Bittime.

Kesimpulan

Michael Burry melihat risiko AI terutama dari sisi valuasi, investasi, dan asumsi pertumbuhan. Sementara Arthur Hayes menyoroti sisi pembiayaan, utang, dan kemungkinan dampaknya terhadap likuiditas.

Keduanya membahas risiko melalui jalur yang berbeda. Bagi pasar crypto, perkembangan AI tetap perlu diperhatikan karena koreksi teknologi dapat memengaruhi sentimen risiko, sementara respons kebijakan terhadap tekanan kredit dapat memengaruhi likuiditas.

Karena itu, AI bubble, Nasdaq, dan Bitcoin tidak selalu bergerak dalam hubungan satu arah. Dampaknya akan bergantung pada skala koreksi AI dan bagaimana pasar serta pembuat kebijakan meresponsnya.

bittime biaya withdrawal murah

Tertarik berinvestasi di sektor AI crypto? Pantau harga dan mulai trading AI coin populer seperti Bittensor (TAO)NEAR Protocol (NEAR), dan Artificial Superintelligence Alliance (FET) langsung di Bittime.

Bittime adalah platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan — tempat kamu bisa beli Bitcoin di Indonesia dan ratusan aset kripto lainnya mulai Rp10.000. Proses registrasi cepat, aman, dan bisa langsung dimulai hari ini.

Pantau konversi USDT to IDR dan pergerakan harga aset kripto favoritmu secara real-time. Semua tersedia dalam satu aplikasi investasi kripto yang bisa diunduh gratis di Play Store.

Siap mulai? Daftar sekarang di Bittime dan eksekusi strategi investasimu dengan platform yang sudah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia.

FAQ

Apa itu AI bubble?

AI bubble adalah kondisi ketika valuasi atau investasi terkait artificial intelligence meningkat sangat tinggi dibandingkan ekspektasi fundamental atau kemampuan menghasilkan keuntungan.

Mengapa Michael Burry memperingatkan AI bubble?

Burry menyoroti risiko yang berkaitan dengan valuasi, investasi besar, dan asumsi pertumbuhan industri AI.

Apa pandangan Arthur Hayes tentang AI bubble?

Hayes melihat risiko dari sisi pembiayaan AI, terutama utang dan kebutuhan compute. Ia berpendapat perlambatan AI dapat memberikan tekanan pada pasar kredit.

Apakah AI bubble bisa membuat Bitcoin naik?

Menurut skenario Hayes, tekanan pada sektor AI dapat berujung pada peningkatan likuiditas yang berpotensi mendukung Bitcoin. Namun, jika pasar masuk fase risk-off, Bitcoin juga dapat mengalami tekanan.

Apakah AI boom akan berakhir?

Belum ada bukti bahwa AI boom telah berakhir. Investasi dan permintaan AI masih berjalan, sementara perdebatan saat ini lebih berfokus pada valuasi, profitabilitas, dan keberlanjutan investasi.

Disclaimer: Pandangan yang diungkapkan secara eksklusif milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan platform ini. Platform ini dan afiliasinya menolak segala tanggung jawab atas keakuratan atau kesesuaian informasi yang disediakan. Ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran keuangan atau investasi.

Campaign Deposit Trade
Auto Earn Ramadan

Blog Bittime

Saham Hari Ini: 5 Emiten Potensial Layak Kamu Pantau
Saham Hari Ini: 5 Emiten Potensial Layak Kamu Pantau

Simak saham hari ini yang dipantau analis, dari AMRT, TPIA, ISAT, CPIN hingga EMAS, di tengah tekanan IHSG dan keputusan BI Rate.

2026-09-23Baca